Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Desember 2015

Puisi Tak Bisa Memberantas Korupsi

Sumber foto: Facebook Sulis Bambang (road show#35).
"Puisi tak bisa memberantas korupsi," tegas Jenderal Gerakan Puisi Menolak Korupsi (PMK), Sosiawan Leak, ketika berlangsung talk show PMK ke-35, di aula hotel Ungaran Cantik, Kota Ungaran, Semarang, baru-baru ini. "Paling hanya bisa menolak, menentang, atau melawan. Itu saja," tambahnya menegaskan, yang disambut tepuk tangan gemuruh dari semua yang hadir. Talk show itu menampilkan pembicara utama Mbak Oely Sidabalok dan Mas Donny Danardono. Hadir sekitar 200 laskar PMK dari seluruh penjuru tanah air, termasuk dari Malaysia. Terlihat jenderal Leak, memakai sepatu jenggel tentara, hehehe....

Namun harus diakui, gerakan moral PMK yang digenderangkan Leak dan para penyair Nusantara beberapa tahun lalu itu, seperti virus yang terus menyebar ke mana-mana. Anti korupsi dimulai dari diri sendiri dan keluarga para penyair PMK. Gerakan ini telah didukung oleh berbagai pihak, termasuk dari KPK, dan pernah diundang pentas di gedung lembaga anti korupsi Indonesia itu. Ini membuktikan, PMK sudah diakui, sebagai gerakan moral anti korupsi, yang sudah pentas road show di 35 kota besar di Indonesia. Dan akan terus mengelilingi kota demi kota. Edan, ya? Hahaha....

Lima buku tebal kumpulan para laskar PMK sudah terbit dan sekarang menuju ke yang keenam. "Selama korupsi masih merajalela di tanah air, kita akan menulis puisi anti korupsi terus, sebagai bentuk perlawanan," kata Leak lagi. Ah, benar juga, kumpul dengan para laskar PMK, ada semangat membara dalam dada, untuk ikut berjuang membela bangsa dan negara. Sama dengan para pejuang 45. Bedanya, mereka mengangkat senjata, dan kita mengangkat pena. Bukankah pena lebih tajam dari seribu meriam? Kata-kata terkenal Napoleon Bonaparte, sekian ratus tahun lalu itu seperti masih bergema sampai kini. Ah... hehehe...

Acara PMK ke-35 kali ini, dikemas apik oleh Bu Sulis Bambang dan kawan-kawan dari Semarang, seperti Mas Driya Widiana, Mas Artvelo Sugiarto, Pak Imam Subagyo, Mas Lukni Maulana, Mbak Fransiska Ambar Kristiani, dan lain-lain dengan ditandai peluncuran buku "Perempuan Menentang Korupsi" karya para penyair wanita PMK. Dilanjutkan dengan pentas baca puisi oleh para perempuan seperti Mbak Dyah Setyawati, Mbak Ardi Susanti, Mbak Cynthia Suwarti, dan lain-lain termasuk Bu Sulis Bambang sendiri selaku ketua penyelenggara, tampil di depan umum dan nyanyi, hehehe...

Tampil atraktif Mbak Elisyus dan memukau audience dengan pembacaan puisi "Pertiwiku Sudah Mati". Sedangkan Mas Haryanto Sukiran tampil monolog "Semar". Bagi para laskar PMK lelaki pun banyak yang ikut tampil seperti Mas Heru Mugiarso, Mas Rama Dinta, dan lain-lain. Maaf para pembaca puisi, tidak dapat saya sebutkan satu persatu di sini, akan terlalu panjang banget. Pokoknya ramailah, ada mbak Denis Hilmawati dari Solo, mbak Cinta Logika, Mas Wage Teguh Wiyono, Mas Bontot Sukandar, Pak Bambang Eka Prasetyo, Mas Ethexs Suyitno bersama anak dan istrinya, ikut tampil meramaikan. Sekali lagi maaf ya, teman-teman, hehehe....

Ini yang spesial, tampilnya Mas Joshua Igo, sastrawan yang juga musikus. Membawakan orgen tunggal, mengiringi baik yang baca puisi, maupun yang nyanyi. Anehnya, setiap gerak-geriknya, selalu dirubung ibu-ibu Muslimah. Apa mungkin sudah takdir hidupnya, entahlah, hehehe....Okre, selamat sukses teman-teman PMK, salam laos.

Semarang, Desember 2015

Rabu, 08 April 2015

Puisi Menolak Korupsi (PMK): Gerakan Moral Tiada Akhir

Catatan Fakhrunnas MA Jabbar dari PMK XXIX di Kudus, Jateng

KUDUS- "Gerakan PMK ini kita biarkan saja mengalir terus. Tak perlu  dibatasi. Ini memang gerakan tiada akhir dalam menolak praktik dan  tindakan korup di negeri. Gerakan ini ditentukan oleh semua anggota komunitas. Saya hanya koordinator. Oleh sebab itu, saya pun tak punya kekuatan untuk menentukan PMK ini harus bagaimana. PMK ini menjadi milik dan tanggungjawab kita bersama."

Pernyataan itu diungkapkan Koordinator Puisi Menolak Korupsi (PMK), Sosiawan Leak ketika menjadi salah satu pembicara pada sesi  diskusi dalam rangkaian kegiatan PMK XXIX di Kudus, Jateng, 5 April  2015.

Suasana aula Universitas Muria Kudus (UMK), Minggu malam itu  terlihak semarak dan meriah. Ratusan orang duduk lesehan menghadap panggung yang dibalut potongan-potongan kain hitam dengan terpaan lampu panggung warna-warni. Ada sebuah patung kain yang berdiri tergantung di dahan pepohonan. Kesannya menjadi lebih mencekam dan magis.

Begitulah kegairahan para penyair dalam menyediakan diri selaku 'tuan rumah' kegiatan PMK secara bergiliran memberikan kesan, pesan dan suasana beragam yang menarik bila dihayati.

Kadangkala kegiatan PMK itu tampil meriah dan digelar di aula  hotel atau gedung universitas. Tapi tak jarang pula kegiatan itu dilakukan di tengah-tengah pesantren atau ruang kelas sekolah.

Namun, satu hal yang membanggakan hati, demi terselenggaranya  kegiatan PMK itu, pihak panitia yang menjadi inisiator menyelenggarakan kegiatan dengan semangat volunterisme (kerelawanan).

Bila tak ada sponsor yang yang didapatkan, harus rela merogok kocek sejumlah orang yang terlibat dengan peristiwa kepenyairan itu. Begitu pula, kegiatan PMK ini 'ditumpangkan' dengan kegiatan seni budaya yang digelar oleh institusi pemerintah yang benar-benar memiliki dana yang cukup.

Puncak keabsahan PMK sebagai gerakan moral yang simultan dalam ikut menyebarluaskan semangat antikorupsi lewat panggung baca puisi dan pementasan puisi ketika PMK digelar di Gedung KPK tahun 2013 silam.

Waktu itu sejumlah pimpinan KPK yang diketuai Abraham Samad hadir dan menyatakan suka-citanya soal gerakan para penyair dalam menyuarakan antikorupsi. Ikut pula hadir waktu itu penyair Taufiq Ismail dan Eka Budianta beserta seratus lebih penyair penggiat PMK termasuk Sosiawan Leak sendiri.

Baca Puisi Penuh Warna

Satu persatu para penyair yang berdatangan dari sejumlah kota di Indonesia didaulat tampil membacakan puisi. Sudah pasti, tema puisi-puisi yang disajikan penuh aromatika korupsi. Setidak-tidaknya itulah perwujudan penyair membenci korupsi dengan segala seluk-beluknya yag masih marak di negeri ini.

Satu hal lain yang juga menarik dicermati melalui panggung PMK itu, para penyair lintas generasi pun bertemu. Boleh jadi, 'Abah' Arsyad Indradi yang sudah berusia 70-an tahun merupakan penyair tertua yang paling aktif mengikuti perjalanan PMK di tanah air.

"Pak Arsyad itu sudah berniat akan ikut dalam setiap kegiatan PMK di mana saja. Bahkan dana pensiunnya memang dipersiapkannya untuk membiaya perjalanannya ke mana-mana," terang Sosiawan Leak.

Lihat saja, tak kurang 30 penyair komunitas PMK yang tampil bergiliran baca puisi malam itu di aula UMK. Menyebut sejumlah nama, ada Arsyad Indradi (Kalsel), Bambang Eka Prasetya (Yogyakarta), Heru Mugiarso (Semarang), Fransiska Ambar Kristyani. Selain itu, ada pula penyair Wardjito Soeharso, Bontot Sukandar. Ditambah para penyair angkatan muda yakni Faizy Mahmoed Hay dan Lukni Maulana.

Penyair Jumari Hs, koordinator road show XXIX PMK Kudus langsung menjadi pembawa acara selama kegiatan berlangsung. Ucap kata yang lincah dan ditingkahi guyonan segar membuat acara yang berlangsung sejak pukul 20.00 hingga pukul 01.00 tengah malam itu menjadi tak terasa lelah.

Gerakan Tiada Akhir

Di sela sesi pertama dan kedua pembacaan puisi para penyair PMK, digelar pula acara Diskusi Sastra PMK. Ada enam tokoh yang tampil berbicara secara bergiliran yakni Fakhrunnas MA Jabbar (Riau), Acep Zamzam Noor (Tasikmalaya), Sosiawan Leak (Solo), Syarifuddin Arifn (Padang) dan kritikus sastra Indonesia selaku pembicara utama, Maman S. Mahayana (Jakarta).

Maman S. Mahayana berbicara soal bagaimana karya sastra khususnya puisi sejak masa lalu telah dijadikan sebagai sarana dalam membangun pencitraan dan stigma dalam segala lapangan kehidupan.

Politik imperialisme Belanda di masa lalu, menurut Maman berhasil membangun citra itu yang sangat berpihak ada keberadaan kaum penjajah di Indonesia. Bahkan, penerbit Balai Pustaka yang didirikan pada zaman Belanda itu sengaja menerbitkan roman, novel dan kumpulan cerpen yang menempatkan tokoh Belanda atau non-Muslim lebih dicitrakan sebagai 'orang hebat'.

"Hal senada pun dilakukan pula oleh pemerintahan penjajah Jepang. Bahkan Jepang berusaha membangun stigma buruk pada Belanda dan membangun citra baik pada pemerintahan Jepang," ucap Maman.

Dalam hal tindak korupsi yang terus merajalela di Indonesia, para penyair (baca: sastrawan) harus terus-menerus 'mengganyang' para koruptor dengan menumbuhkan stigma buruk yang dapat menimbulkan efek jera dan mau.

Menurut Maman, para penyair PMK sudah saatnya menulis puisi yang isinya lebih vulgar. Misalnya dengan menyebutkan nama koruptor dan kasus korupsi serta jumlah uang negara yang di'rampok'nya.

"Tentu para penyair tetap mengutamakan estetika dan penggunaan metafora yang pas," kata dosen FIB Universitas Indonesia (UI) ini.

Senada dengan Maman, penyair Sosiawan Leak menceritakan bagaimana tradisi kritis terhadap tindak korupsi telah dilakukan oleh semua agama di dunia.

Ensiklopedia Korupsi

Merespons apa yang dikemukakan Maman soal pola vulgar yang tertuju langsung pada nama koruptor  dan kasus korupsi yang dilakukannya terutama diarahkan bagi koruptor yang sudah berkekuatan hukum tetap atau vonis pengadilan.

"Dalam program penerbitan buku PMK IV, kami sengaja memberinya judul Ensiklopedia Korupsi (baca: Ensiklopegila Koruptor). Para penyair memang diarahkan untuk menyorot kasus-kasus korupsi yang sudah diputuskan di pengadilan dengan nama koruptornya," ucap Leak.

Sementara Fakhrunnas MA Jabbar lebih menyemangati para penggiat PMK untuk terus bergairah dalam melakukan kegatan penolakan korupsi. Meski kini KPK cederung 'dilemahkan' namun gerakan PMK harus terus dikuatkan.

Sedangkan Acep Zamzam Noor mengajak para penyair untuk menjadi momentum PMK sebagai ajang 'kegembiraan'. Sebab, kegembiraan semacam itu akan selalu memberikan kegairahan pada setiap penyair dalam menjalani kehidupan dan mengkritisi hal-hal yang bersifat koruptif.

Sementara Syarifuddin Arifin menekankan perlunya memberikan stigma 'malu' bagi pelaku korupsi termasuk keluarga (isteri dan anak-anak) mereka. "Munculnya rasa malu tentu akan berpengaruh pada karakter atau kepribadian yang terpuji dalam kehidupan," ucap Syarifuddin.

Acara PMK XXIX di kota Kudus itu disponsori sebagian oleh Djarum Bhakti Budaya yang selama ini sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia dalam membantu kegatan-kegiatan seni budaya di mana-mana di tanah air.***

Sumber: http://tiraskita.com/read-6-3244-2015-04-07-puisi-menolak-korupsi-pmk-gerakan-moral-tiada--akhir.html

[Disunting oleh admin]

Baca pula:
http://www.sagangonline.com/baca/artikel/968/gerakan-puisi-menolak-korupsi-pmk-gerakan-integritas-
http://www.murianews.com/item/11256-yang-muda-juga-tolak-korupsi.html
http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/melawan-korupsi-harus-berjamaah-2/

Rabu, 05 November 2014

Catatan Kecil Tentang Gerakan Puisi Menolak Korupsi oleh Hilda Rumambi

Jadwal road show PMK Oktober-Desember 2014
Mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa pekerja seni termasuk sastrawan Indonesia yang di dalamnya penyair, juga punya mata, hati dan telinga serta rasa dalam melihat fenomena korupsi yang telah merebak dan merusak sendi-sendi kehidupan, berbangsa dan bernegara. Melihat korupsi yang sudah lahir dan besar sebagai sesuatu ‘binatang’ menjijikkan dalam karakter yang lahir menjadi budaya dalam masyarakat. Budaya ‘binatang’ (beast) yang semestinya perlu diperangi dan dihabisi.

Namun pekerja seni dalam hal ini Penyair bukan aparat hukum, bukan politikus, juga bukan penguasa. Elemen-elemen negara yang seharusnya melakukan tugasnya dalam memberantas korupsi. Yang dapat dilakukan hanya menulis dan berkata-kata. Apa yang dapat dilakukan oleh penyair selain berkata-kata dan menuliskan rasanya? Bukan juga hanya kata-kata, kata-kata itu harus punya makna yang diwujudnyatakan dengan gerakan kultural yang punya dampak dalam ‘peperangan’ ini.

Dan, untuk ikut mengambil bagian bersama elemen-elemen masyarakat yang lain dalam hal memerangi korupsi, sebagian penyair Indonesia terpanggil untuk melakukan tindakan konkrit, bersikap tegas dengan menolak nilai-nilai kehidupan yang korup dengan menebar kata-kata dalam puisi dan menamai gerakan ini Gerakan Puisi Menolak Korupsi (PMK). Wujud nyata gerakan kita adalah bergerak dengan penyair-penyair di berbagai kota setanah air melakukan Roadshow Puisi Menolak Korupsi. Kegiatan yang dilakukan tidak lari dari merayakan puisi sebagai anak kandung dari kebudayaan itu sendiri:
“Gerakan Puisi Menolak Korupsi berbasis moral dan dan bergerak dalam ranah kebudayaan. Sebagaimana namanya, gerakan ini melakukan aktivitasnya dengan puisi (anak kandung kebudayaan) sebagai sumber ekspresinya. Maka, ia tak akan pernah bisa lepas dengan hal-hal yang terkait dengan puisi (menulis puisi, membaca puisi, mencetak puisi, menerbitkan puisi, mementaskan puisi, merayakan puisi, mendiskusikan puisi dll) selama puisi-puisi tersebut mengolah tema korupsi”.  (Sosiawan Leak)
Sifat dari gerakan PMK adalah nirlaba, independen dan mandiri secara ideologi maupun ekonomi (meminjam kata-kata mas Sosiawan Leak, sang Panglima PMK). Jadi bagaimana PMK bisa menghidupi dirinya sendiri? Ia bergerak dan menjalar  ke berbagai kota dengan sokongan para penyair dari kota-kota yang disinggahi dan ingin  di kotanya dilakukan roadshow. Para penyair lain yang datang ke kota-kota itu pun membiayai diri mereka sendiri tanpa membebankan yang lainnya.

Awal roadshow dilakukan di kota Blitar bulan Mei tahun 2013,  itulah Roadshow PMK pertama kali, kemudian menyusul kota-kota lainnya di Jawa Timur, Tengah dan Barat, Sumatra, Kalimantan dan juga Indonesia Timur, salah satunya (untuk sekarang mungkin satu-satunya) dilakukan di Palu, Sulawesi Tengah pada bulan September 2013. Kebetulan penulis menjadi koordinator Roadshow ke-4 PMK tersebut yang dengan penuh rasa syukur disambangi oleh penyair-penyair kondang tanah air seperti mas Sosiawan Leak, Acep Zam-zam Noor, abah Arsyad Indradi dan mas Wage Tegoeh Wijono.
Road show 4 PMK di Palu.
 
Musikalisasi puisi oleh Abah Arsyad Indradi - Palu (doc. Hilda R)
Selain roadshow, gerakan PMK telah menerbitkan 4 antologi* Puisi Menolak Korupsi dari sekitar 500 penyair Indonesia. Antologi Puisi Menolak Korupsi Jilid 1, Jilid 2a dan 2B, kemudian Jilid Pelajar Menolak Korupsi dimana penulis juga mengirimkan karya-karya anak di salah satu SMP terpencil di kabupaten Manggarai-NTT yang puji syukur masuk dalam seleksi puisi antologi pelajar dari seluruh Indonesia ini.

Tidak terasa, setahun lebih telah berjalan gerakan Puisi Menolak Korupsi, saat ini roadshow sudah sampai ke-27 kota, Desember ini kalau tidak salah roadshow akan diadakan di kota Tanjungpinang. Oh ya, di bulan September 2013 PMK juga telah melakukan roadshow di Gedung KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), Jakarta dihadiri oleh seluruh petinggi KPK pada saat itu, bahkan Abraham Samad sebagai Ketua KPK sempat membacakan puisi. What an inspiring moment at that time for me….

Disisi lainnya, banyak suka dan duka dilalui bersama rekan-rekan penyair seluruh tanah air pada saat mengikuti kegiatan-kegiatan PMK. Rasa kekeluargaan yang melekat erat didalamnya sudah terjalin, sehingga dimanapun penulis pergi selama masih ada di dalam wilayah Indonesia, penulis akan bertemu dengan sahabat-sahabat yang terlibat dengan gerakan ini dan sudah seperti keluarga sendiri layaknya.

Maju terus Gerakan PMK, maju terus penyair tanah air dalam menolak korupsi melalui kebudayaan. Semoga apa yang kita sama-sama lakukan untuk menghancurkan korupsi melalui puisi dapat selalu berjalan maju, meskipun langkah kita kecil, namun makin lama langkah makin panjang, ribuan kilometer telah dilakukan dan akan dilakukan, lagi dan lagi sehingga perjalanan PMK makin lama makin bermakna dan bernas. Aksi kita untuk Indonesia dalam menolak korupsi!

Salam hangat, doa kuat, satu hati menolak korupsi.

Dari Tanah Cendana - NTT (suatu saat mudah-mudahan bisa buat lagi roadshow PMK di sini)

*) Hilda Rumambi


*Sebenarnya baru 3 jilid buku: Jilid I, jilid IIa & IIb, dan jilid III (edisi pelajar Indonesia)

Penyunting Ekohm Abiyasa.

Senin, 03 November 2014

Sumpah Pemuda, Sumpah Melawan Korupsi di Kolom Apresiasi Lampung Post, Minggu (02/11/2014)

Apresiasi | Lampung Post, Minggu, 2 November 2014

Oleh: Alexander GB

Sumpah Pemuda, Sumpah Melawan Korupsi
Meski Puisi Menolak Korupsi ini digelar di mal, semoga gaya hidup hedonis tidak turut menyertai penyair-penyair dan masyarakatnya.

--------------

Aku bertanya
tetapi pertanyaanku
membentur jidat-jidat penyair-penyair salon
yang bersajak tentang anggur dan rembulan
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian

Inilah sajakku
pamplet masa darurat,
apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apalah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.

(W.S. Rendra, Sajak Sebatang Lisong dalam Potret Pembangunan dalam Puisi, ITB Bandung, 1977)

MELALUI puisi ini, Rendra mengajak kita, para penyair dan seniman sekalian, untuk berhenti bermanja-manja di kafe-kafe, hotel-hotel, mal, supermarket, memuja-muja bulan, dan anggur secara berlebihan. Puisi ini mengajak kita untuk tak menutup mata pada persoalan masyarakat. Puisi ini mengajak kita ke jalan, ke kampung-kampung, ke pasar-pasar rakyat, sekolah-sekolah yang hampir roboh, anak-anak yang dipaksa menjual koran, ngamen demi sesuap nasi. Mari menyapa rumah-rumah kumuh yang penghuninya terancam kebodohan dan kelaparan! Begitulah yang disuarakan Rendra dan sejumlah penyair ketika itu.

Nah, sekarang, apa yang paling mungkin kita lakukan? Apa yang mesti kita perbuat di masa krisis multidimensi ini, ketika jutaan rakyat takut untuk sekadar berharap atau bercita-cita? Apa yang mesti kita lakukan untuk mengenang dan mewarisi semangat Sumpah Pemuda yang menjadi cikal bakal terhimpunnya mimpi bersama, yang kini kita sebut sebagai Indonesia ini?

Tentu, ada banyak cara, termasuk yang terjadi di Mal Kartini lantai III, Bandar Lampung, 27—28 Oktober lalu. Di tempat ini bertemu puluhan pelajar, mahasiswa, penyair, yang secara bersama-sama berniat melawan korupsi. Kegiatan yang tidak lepas restu pemilik Mal Kartini, Hartarto Lojaya, ini bertajuk Pemuda Melawan Korupsi. Begitulah, lomba baca puisi tingkat pelajar dan mahasiswa se-Lampung dan Road Show Ke-25 Puisi Menolak Korupsi (PMK) mendapat sambutan meriah dari banyak kalangan.

Gerakan Kultural

Tak kurang 50-an pelajar dan mahasiswa berpartisipasi. Penampil terbaik tingkat mahasiswa diraih Nala Rahmawati, sedangkan pemenang pertama pelajar Nada Chalisa. Pemenang pertama, kedua, dan ketiga juga tampil membacakan puisi bersama penyair, pembaca puisi, dan penonton yang tampil spontan

Direktur Utama Mal Kartini Hartarto Lojaya mengaku terkesan dengan suara hati para penyair yang menolak korupsi. "Ini sejalan dengan perjuangan saya sebagai legislatif," kata politikus Partai Demokrat yang kini kembali duduk di DPRD Lampung untuk kedua kalinya itu.

Sebelum di Bandar Lampung, Road Show PMK yang dikoordinatori Sosiawan Leak ini telah melakukan di 24 titik atau kota di Tanah Air. Ditandai yang pertama di Blitar dan sebelumnya di Pekanbaru. "Bulan November di Pasuruan dan Desember di Tanjungpinang, Kepri," jelas Sosiawan Leak.

Isbedy Stiawan Z.S. bersama Syaiful Irba Tanpaka harus bekerja keras untuk road show ke-25 PMK yang dihadiri sejumlah seniman dan tokoh Lampung, seperti Ketua Umum DKL Syafariah Widiati atau Atu Ayi, para seniman Lampung seperti Dana E. Rachmat, Entus Alrafi, Devin, Ivan Bonang, Iin Muthmainnah, dan masih banyak lagi. Menjadi ajang silaturahmi dan refleksi bersama.

Gerakan PMK mengambil posisi sebagai gerakan kultural, melengkapi gerakan lain yang dilakukan sejumlah unsur dari berbagai lapisan masyarakat berikut karakter dan alat perjuangnya (hukum, politik, agama, jurnalistik, intelektual, dan lain-lain). Gerakan ini pada hakikatnya menyatu dan padu dengan semua kekuatan yang beritikad mengawal proses perjalanan masyarakat membangun kehidupan bangsa dan negara yang berkeadilan dan lebih bermartabat. Secara signifikan gerakan ini juga menjadi sarana bagi penyair untuk menyatakan sikap tegas, menolak nilai-nilai kehidupan yang korup.

Sejak awal, PMK telah berjalan sebagai gerakan yang bersifat nirlaba, independen, dan mandiri, baik secara ideologi maupun ekonomi. Kemandirian ideologi dibuktikan dengan proses penerbitan antologi puisi yang senantiasa merujuk pada tema antikorupsi. Kemandirian ekonomi diwujudkan dalam melakukan iuran secara gotong-royong guna mendanai proses penerbitan antologi tersebut, murni atas biaya dari para penyair dengan mengutamakan asas kebersamaan dan transparansi. Kemandirian semacam itu juga menjadi dasar digulirkannya program kegiatan PMK lainnya, yakni Road Show PMK yang dilakukan mandiri dan otonomi di berbagai kota di Indonesia, dikoordinasi para penyair PMK yang mukim di kota tersebut.

Hingga sekarang gerakan yang idenya dilontarkan Heru Mugiarso, penyair Semarang, tersebut telah menerbitkan antologi puisi, merangkum karya para penyair yang berasal dari berbagai daerah, usia, dan kecenderungan puitika. Setelah melewati proses seleksi dan penyuntingan, karya-karya tersebut terbit dalam Antologi Puisi Menolak Korupsi (melibatkan 85 penyair, terbit Mei 2013), Antologi Puisi Menolak Korupsi 2a (melibatkan 99 penyair, terbit September 2013), dan Antologi Puisi Menolak Korupsi 2b (melibatkan 98 penyair, terbit September 2013).

Sejak Mei 2013, gerakan ini juga melakukan kampanye antikorupsi bertajuk Road Show PMK ke berbagai wilayah di Indonesia dalam wujud pembacaan puisi, pentas seni, seminar, diskusi, orasi, lomba baca puisi, lomba cipta puisi, dan lain-lain. Kini Gerakan PMK telah melakukan proses penerimaan dan seleksi puisi bertema antikorupsi dari para pelajar di seluruh Indonesia yang diterbitkan April 2014 dalam Antologi Puisi Menolak Korupsi 3; Pelajar Indonesia Menggugat (melibatkan 286 pelajar).

Para penyair yang menyemarakkan pembacaan Puisi Menolak Korupsi, Selasa, 28 Oktober malam di antaranya Isbedy Stiawan Z.S., Juperta Panji Utama, Udo Z. Karzi, Alexander GB, Syaiful Irba Tanpaka, Syarifuddin Arifin, Murdoks, Alya Salaisha, Setia Cipta, Sosiawan Leak, dan lain-lain.

Tentu ini menjadi kabar baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita dewasa ini yang saban hari marak dengan tumpah-ruahnya berita kriminal, sengketa anggota Dewan, penguasa dan politikus yang tersangkut kasus korupsi.

Keberpihakan Penyair

Keberpihakan penyair sesungguhnya bukan hal yang baru. Seperti Rendra dalam beberapa sajaknya yang mengkritisi nasib bangsa ini, jika penyair yang lebih suka asyik-masyuk dalam kelimun pikiran dan perasaannya sendiri, seperti halnya pada banyak lagu Iwan Fals yang juga banyak mengkritisi situasi sosial-politik kita.

Puisi Menolak Korupsi harus juga diikuti dengan gerakan konkret lainnya, sehingga tidak sekadar acara seremonial, sekadar jargon, yang sok antikorupsi, yang sok peduli dengan nasib rakyat, tapi memang benar-benar keluar dari lubuk hati yang paling dalam. Kepedulian pada nasib bangsa yang kian karut-marut ini.

Meski acara ini digelar di mal, semoga gaya hidup hedonis tidak turut menyertai penyair-penyair dan masyarakatnya. Kerap kita juga harus mencermati dan jika perlu mengkritisi para penyair yang lebih akrab dengan mal, hotel, anggur, rembulan, dan kafe daripada terlibat langsung dalam gerakan mencerdaskan kehidupan bangsa atau penanaman nilai kejujuran, kreativitas, kepedulian terhadap sesama, memerangi korupsi yang menjadi penyebab utama keterpurukan bangsa kita akhir-akhir ini.

* Alexander GB (Sastrawan)


Sumber: Facebook Udo Z Karzi.

Kamis, 09 Oktober 2014

Semoga Ayah Ibuku Tidak Korupsi...


KOMPAS.com - Rakyat mengungkapkan rasa jijik mereka atas menggilanya kejahatan korupsi lewat mural di tembok-tembok kota. Di ruang pamer, perupa ”berperang” melawan korupsi dengan menampilkan sosok celeng, alias babi hutan, sebagai metafora keserakahan para pengisap harta rakyat.

"Ya Tuhan, Semoga Ayah Ibuku Tidak Korupsi...”, itulah harapan dan doa warga yang tertulis pada pilar beton penyangga jembatan layang yang melintas di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Di samping tulisan itu tergambar seorang ibu berdoa dengan tangan menengadah.

Di tiang penyangga lain, masih di kolong jembatan layang yang sama, ada mural atau lukisan dinding bergambar perempuan dengan air mata menitik bertuliskan, ”Aku Tak Sudi Bersuamikan Koruptor...”.

Gambar itu terbuat dari kertas berwarna putih dan ditempelkan di dinding beton. Kondisinya usang dan berimpit dengan gambar-gambar lain. Namun, mural ini tampak cukup menohok mata. Kata-katanya tertulis dengan huruf berwarna merah tegas.

Mural-mural di kolong jembatan layang itu terletak sekitar 300 meter dari gerbang Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia yang berpagar besi menjulang. Kolong jembatan itu menjadi tempat berteduh warga pejalan kaki atau pengendara motor kala hujan turun.

Kita simak mural lain di tembok jembatan layang arteri Permata Hijau, Jakarta Selatan. Di sana, ada mural bergambar wajah dengan ujung jari telunjuk yang ditempel di depan bibir. Wajah itu seakan memberi isyarat peringatan. Lalu ada tulisan, ”Ssstt... Ingat...!!! Masih Ada Korupsi...”.

Cobalah tengok ke terowongan Cawang, Jakarta Timur. Pada dinding kiri ujung terowongan yang mengarah ke Cililitan terpampang mural yang menggambarkan meja makan. Di atasnya ada mangkuk berisi buah-buahan dan gelas minum. Meja itu dikitari sosok berdasi berkepala setan, tikus, babi, dan celeng. Pada sudut kanan bawahnya terbaca pesan, ”Hati-hati dalam Memilih”.

Lawan
Begitulah mural-mural bertebaran di sudut-sudut kota Jakarta dengan muatan ekspresi yang hampir sama, yaitu melawan korupsi! Tak mudah melawan korupsi dengan cara mural. Komunitas Street Serrum yang cukup gencar berperang melawan korupsi dengan senjata mural harus pintar-pintar bermain kucing-kucingan dengan polisi atau petugas dari kelurahan.

Komunitas Serrum lahir tahun 2006 sebagai wadah para mahasiswa bereksplorasi dengan menjajal berbagai medium karya seni rupa. Arief ”Arman” Rachman (32), salah satu pegiatnya, menuturkan, nama ”Serrum” sebenarnya pelesetan dari bahasa Inggris, share room, yang bermakna berbagi ruang. Dalam hal ini berbagi ruang penyampai unek-unek rakyat.

Namun, tidak mudah berbagi ruang dengan pihak yang mungkin mendukung korupsi. Nyatanya, banyak mural antikorupsi kerap berumur pendek. Bahkan, banyak yang hanya berumur jam-jaman. Para pegiat street art sudah hafal, ada daerah-daerah keramat untuk mural dan grafiti. Underpass Dukuh Atas itu salah satu tempat paling ”keramat”, grafiti atau mural apa pun biasanya akan dibersihkan dalam satu-dua hari.

MG Pringgotono (32) alias MG, anggota Serrum, hafal jenis mural, grafiti, atau poster ”keramat” yang tak bakal berumur panjang. Tiap kali membuat mural, grafiti, dan poster antikorupsi yang menyebut nama tokoh, misalnya seorang terpidana korupsi, pasti karya itu bakal lenyap dalam hitungan jam.

”Jadi, ada lokasi ’angker’, yang pasti membersihkan grafiti, mural, atau poster apa pun dalam hitungan hari. Dan, selalu ada isu ’keramat’ yang selalu dibersihkan entah oleh siapa dalam hitungan hari, bahkan jam,” kata MG.

Namun, mereka tidak pernah jeri dan terus bergerilya melakukan ”perang kota”. ”Kami memilih melakukan pendidikan publik di ruang publik, lewat propaganda publik,” ujar MG.

Perang celeng
Bendera perang terhadap korupsi juga dikibarkan oleh pelukis Aris Budiono Sadjad dengan menggelar pameran bertajuk ”Perang Suci Melawan Korupsi”, 14-23 Maret 2013, di Bentara Budaya Jakarta (BBJ). Pameran yang menggelar 23 lukisan ini dibuka oleh Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Dedi A Rachim, Kamis (14/3).

Aris geram melihat perilaku para koruptor yang tidak menampakkan penyesalan. Karena itu, ia menggunakan celeng sebagai metafor kerakusan dan kebebalan. ”Kalau tikus itu mudah dikalahkan dan penakut, nah kalau celeng, tetap merasa gagah walau korupsi,” kata Aris.

Dalam lukisan ”Empat Cakil Rakyat”, Aris menggambar empat butha cakil (raksasa kecil yang rakus) sedang menunggang empat ekor celeng. Keempat celeng bertaring panjang dengan mata mendelik dan mulut merah. Jelas sekali ciri-ciri sebagai ”hama” yang rakus itu siap memangsa apa saja.

Di lukisan lain dengan penuh ironi Aris melukis ”Corruptor Family Gathering”. Di kanvas tampak sejumlah kalangan sedang berpesta pora, bersenang-senang, berenang, main musik, dan segala aktivitas hiburan lainnya. Hal yang aneh, seluruh pelaku pesta pora itu berwajah celeng. Begitulah, kata Aris, sifat celeng. ”Selalu gagah, tak pernah takut, malah diperlakukan seperti selebritas. Semua itu, kan, kini terjadi di hadapan kita?” kata Aris.

Kita kini seolah hidup di negeri penuh koruptor. Pemutarbalikan fakta jadi hal biasa, perasaan tidak bersalah jadi pemandangan sehari-hari. ”Dan itu memuakkan sekali, sudah seharusnya dilawan,” kata Aris.

KPK merasa mendapat kawan dalam berperang melawan para ”celeng” pemangsa harta rakyat. ”Ibaratnya kami sedang berperang sendirian di tengah gurun pasir, dan tiba-tiba ada sumber air. Ini menyejukkan kami. Ternyata, KPK punya teman-teman seniman,” kata Dedi dalam pembukaan pameran di BBJ.

Provokasi kesadaran batin
Seniman yang beraksi dengan mural dan grafiti di tembok-tembok kota tentunya juga kawan- kawan KPK. Budayawan Mudji Sutrisno SJ menyebut seniman seperti mereka sebagai penjaga kehidupan yang tetap mau menjaga kelangsungan hidup bermartabat.

Apakah suara rakyat yang terucap di tembok-tembok kota itu didengar orang?
”Kentungan harus dipukul terus untuk mengingatkan jaga malam saat waktu jaga, atau bahaya-bahaya, maling, kebakaran yang akan menghancurkan masyarakat. Anjing harus terus menggonggong lantaran proses membaca tulisan-tulisan di mural yang antikorupsi masih tetap menemukan bacaannya untuk kita,” kata Mudji.

Mudji melihat suara-suara di tembok kota tetap diperlukan. Yang berbahaya adalah kalau apatisme dan kebisuan, cuek, tidak acuh sudah menjadi sikap lalu tidak ada sama sekali reaksi atau tulisan-tulisan mural lagi. Bila sampai tahap ini, demokrasi dan hidup bersama berada dalam lampu merah. ”Selama seniman nurani masih terus nulis tajam dan kritis antikorupsi di mural-mural, itu berarti masih ada dinamika hidup di masyarakat kita,” kata Mudji.

Bagaimanapun, suara rakyat di tembok-tembok kota atau di ruang pameran akan tetap mempunyai makna di tengah kehidupan negeri ini saat ini. Kritikus seni rupa Suwarno Wisetrotomo dalam katalog pameran ”Perang Suci Melawan Korupsi” mengingatkan bahwa karya seni memiliki fungsi untuk memprovokasi kesadaran dan batin.

Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta itu menandaskan, ”Karya seni melatih kepekaan dan sikap kritis terhadap segala ketidakadilan atau kezaliman yang menimpa manusia, kemanusiaan, serta kehidupan.”

Sumber: kompas.com

Minggu, 25 Mei 2014

Road Show XIX Puisi Menolak Korupsi di Amuntai Kalsel

Oleh: Samsuni Sarman

Membelah Kota Bumi Kuripan
Panas mentari pukul 12.00 wita dari Pusat Gelar Budaya Kota Banjarbaru (Rabu, 14/5) rombongan penyair nasional bersama sahabat sastra kota Banjarmasin dan Banjarbaru merayap perlahan menuju satu arah - Road Show XIX Puisi Menolak Korupsi di Kota Bumi Kuripan Amuntai. Penyair yang datang dari seberang pulau antara lain Sosiawan Leak (Surakarta), Wage Teguh Wijono (Purwokerto), Bambang Eka Prasetya (Magelang) dan Surya Hardy (Pekanbaru) serta Maria Roesli (Samarinda) beserta penyair Kalimantan Selatan lainnya. Kami sempat singgah di Binuang untuk mengisi perut dengan kuliner sederhana seperti nasi lalapan, pepesan ikan, dan sop kikil dengan sedikit tragedi - yaitu mobil yang ditumpangi penyair nasional mogok. Maka, ramailah semua penumpang turun untuk mendorong dan ternyata setelah diperiksa cuma karena kabel accu yang longgar. Persis di Kecamatan Amuntai Tengah - tepatnya di desa Muara Tapus kami singgah untuk mengabadikan suasana daerah rawa yang memiliki pemandangan cukup indah. Ada luas rawa yang membelah kota Amuntai dengan deretan rumah panggung penduduk serta kuliner khas pepesan telur ikan puyau yang masing hangat di atas panggangan tempurung kelapa. Kami pun menikmati suasana ini.
Diskusi Sastra Menjelang Senja
Sore pukul 17.00 wita rombongan 4 buah mobil sebanyak 30 penyair tiba di Bumi Kuripan Amuntai beserta barisan sepeda motor sebanyak 5 penyair memasuki penginapan sekaligus tempat digelar diskusi sastra dalam pendopo pananggak banua Pemda Kabupaten Hulu Sungai Utara. Silaturahim dengan saling memperkenalkan diri antara penyair pun dimulai sekaligus saling menyampaikan pandangan pribadi tentang integritas gerakan Puisi Menolak Korupsi - dan bersahutanlah harapan dan keinginan dalam upaya pemberantasan korupsi yang saat ini merajalela dan satu demi satu pejabat negara dibebaskan dari bangku kekuasaan karena parigal memalukan tersebut. Semua itu tergambar jelas dalam larik puisi yang termuat dalam buku antologi PMK jilid 1 dan 2.a/b karya penyair Indonesia serta PMK jilid 3 sebagai karya pelajar Indonesia. Penyair Arsyad Indradi, Iberamsyah Amandit, Raji Leonada, Ali Syamsuddin Arsy, dan He Benyamine merupakan sebagian penyair Kalimantan Selatan yang konsisten dalam mengawal gerakan PMK tanpa batas waktu. Senja itu, diskusi sastra diakhir dengan salam dan ucapan terima kasih dari penyelenggara acara Dewan Kesenian HSU dengan Hendra Royadi selaku penggagas sastra PMK sebagai motorisnya.
Panggung PMK XIX di Pelataran Tugu Itik
Lantunan surah Al Alaq - Iqra Bismi Rabbikal Ladzi Khalaq - mengawali acara dipanggung Road Show XIX PMK di pelataran Tugu Itik siring Sungai Nagara. Iqra membuat semua terkesima karena bermakna bukan saja perintah membaca dan menulis - melainkan mencerna dengan akal, menganalisa, mendalami, merenungkan, menyampaikan, meneliti dan lain sebagainya sebagai wujud dari gerakan PMK menebar rasa larik puisi bagi ketinggian derajat manusia. Puisi pun mulai diperdengarkan, musikalisasi puisi karya Iberamsyah Barbary berjudul Curhat Kepada Tuhan disenandungkan oleh  Sanggar Air Amuntai pimpinan Hendra Royadi sekaligus vokalis. Perpaduan alat musik tradisional sepertu kuriding, guitar, gendang, dan gamelan serta backing vokal dari pelajar puteri kota Amuntai yang berbusana putih. Suasana islami sangat kental memulai pargelaran acara akbar ini sebagaimana disampaikan oleh Bupati Kepala Daerah HSU dalam kata sambutan tertulis yang dibacakan Ketua Dewan Kesenian HSU yaitu Harun Al Rasyid yang mendukung gerakan PMK serta menginginkan masyarakat Amuntai yang religiusitas dapat memberikan kontribusi dalam upaya pemberantasan korupsi melalui kegiatan berkesenian, khususnya puisi sebagai gerakan moral. Gong tanda bergema di Bumi Kuripan pun bersahutan -  Dra. Hj. Anisah Rasyidah Wahid, MAP sebagai isteri Bupati tampil pertama di panggung Road Show PMK XIX dengan suara yang lantang dan penuh semangat membacakan puisi karya Fahruraji Asmuni yang bertutur tentang negeri baldatun thoyibatun warrabun ghofur - masyarakat yang memenuhi pelataran Tugu Itik pun bangga dan bersorak menandai larik demi larik puisi bagai sebuah tekad dan semangat semua warga untuk segera memberantas korupsi, hari ini hingga masa depan kelak. Ada tiga komunitas sastra yang menyajikan teaterikal puisi, seperti Teater Pahajatan dari SMA Negeri 2 Paringin dengan tema tradisional dayak Meratus dalam membacakan puisi karya Sosiawan Leak, kemudian Sanggar Buluh Marindu dari kota Barabai yang dipimpin penyair muda berbakat Rezqie Muhammad AlFajar dengan sensasi mistis balian suku dayak membacakan puisi berjudul ‘Negeri Tikus’ karya Arsyad Indradi. Mereka bergerak tak beraturan menarikan ritme cepat dengan property asap dupa dan lambaian daun nyiur kuning sebagai pertanda kemurkaan pada tikus-tikus koruptor yang berada di negeri ini. Sementara, Teater Benteng Tundakan dari pelajar SMA Negeri 1 Awayan dibimbing sastrawan teaterikal Imam Buhkori dan Fahmi Wahid dengan tema kerusakan hutan yang diakibatkan tangan industri dan penggali sumber daya alam. Sebuah tindakan korupsi yang memiliki dampak sangat luas dan tak berbatas waktu - hutan yang disimbolkan dalam derap teater ini dibabat habis hingga tak tersisa sedikitpun bagi petani hingga muncul unsur masyarakat dan pemerintah secara sinergis menantang dan menghancurkan perusak alam tersebut. Dan, sebagaimana lazimnya sebuah gelar baca puisi - maka secara bergantian penyair yang tergabung dalam antologi PMK tampil di panggung Road Show PMK XIX Amuntai dengan segala gaya dan vokal untuk menyuarakan tekad - Satu Hati Tolak Korupsi.
Salam dan doa kuat, sahabat PMK di Indonesia.

Kita jumpa lagi di Road Show Puisi Menolak Korupsi akan datang.


Rabu, 26 Maret 2014

Nafsu Konsumtif Orang Kaya (Suara Merdeka, Kamis 27/03/14)


Dengan judul asli (sebelum dikirim ke SM) ORANG KAYA BELI APA?

Oleh: Wardjito Soeharso

Kalau anda jadi orang kaya, anda ingin beli apa? Saya yakin anda pasti ingin beli rumah mewah, mobil mewah, tanah yang luas, emas berlian permata mutu manikam, dan seabreg barang mewah dan mahal lainnya. Mengapa anda ingin membeli semua barang-barang itu? Jawabnya sederhana: karena anda punya uang. Dengan uang anda bisa memperoleh segalanya. Dengan uang dunia seisinya ini bisa anda beli.

Jadilah hidup kita ini sangat konsumtif. Gatal rasanya tangan kalau sudah pegang uang. Sementara rayuan iklan juga begitu merangsang selera. Di rumah, televisi membombardir keluarga dengan iklan 24 jam penuh. Begitu kita keluar rumah, di sepanjang jalan kita juga disodori pemandangan yang sama: iklan, yang merayu kita untuk membeli, membeli, dan terus membeli. Hidup kita sudah dikepung dengan rayuan iklan yang sangat massif, di mana pun dan kapan pun kita berada.

Bahkan, telepon seluler (handphone) kita juga sudah bukan barang privat lagi. Nomor kita sudah diperjualbelikan oleh provider. Hampir setiap saat masuk short message service (sms) yang berisi segala macam penawaran produk, dari obat kuat sampai pinjaman tanpa jaminan dengan nominal ratusan juta hingga milyaran rupiah.

Martabat dan wibawa orang sekarang dilihat dari materi yang dimiliki. Gaya hidup mewah sudah menjadi wabah. Orang berlomba mengejar yang serba “wah” untuk mendapatkan sanjungan dan kehormatan. Untuk itu semua, orang rela berbuat apa saja. Boleh jadi, itulah alasan banyak orang lalu memburu uang dengan berbagai cara, termasuk cara illegal sekalipun, seperti mencuri, merampok, atau korupsi.  Yang penting uang didapat, dan dengan uang itu orang bisa memanjakan nafsu membeli sepuas-puasnya.

Ya, nafsu membeli memang sudah melilit kita semua. Apalagi punya uang, lha wong tidak punya uang saja orang tetap ingin memanjakan nafsu membeli. Lihat saja, perusahaan leasing terus saja gila-gilaan merayu orang untuk membeli barang dengan fasilitas kredit yang sangat mudah. Beli rumah, mobil, motor, televisi, sampai handphone, bisa dilakukan dengan cara kredit dengan jangka waktu angsur yang panjang. Orang jadi tidak berpikir logis tentang bunga yang tinggi mencekik, yang penting barang bisa dibawa pulang. Soal angsuran berbunga tinggi? Ah, kumaha engke wae!

Dari berbagai kasus korupsi yang sudah berhasil diungkap, ternyata para koruptor itu juga memiliki nafsu membeli yang luar biasa. Dari uang hasil korupsi, mereka membeli rumah mewah, mobil mewah, tanah yang luas, dan barang-barang mewah lainnya. Ini membuktikan bahwa para koruptor juga sangat memanjakan nafsu membeli. Bukan sekedar barang yang mereka beli, bahkan cewek-cewek cantik juga mereka koleksi. Gaya hidup mereka benar-benar membuat kita tercengang. Mereka tidak peduli, walau profil profesi  jadi tidak sesuai dengan gaya hidup. Aparatur Negara dengan gaji kecil kok bisa hidup dengan mewah berkelimpahan. Toh, tidak ada yang mempersoalkannya.

Nah, dari nafsu membeli itu mestinya negara bisa melacak tindak kejahatan, termasuk korupsi. Selama ini, yang dipakai alat penelusur hanya aliran dana bank melalui rekening dan transaksinya. Dari laporan  Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) yang memantau pergerakan aliran dana dari rekening bank, para koruptor itu akhirnya jatuh terjegal, dan terperangkap dalam jerat hukum.

Mestinya, negara bisa memantau atau menyelidiki transaksi pembelian dengan besaran tertentu. Misalnya, transaksi pembelian 100 juta ke atas harus dilaporkan ke negara.  Jadi, siapa pun yang melakukan transaksi pembelian barang atau jasa bernilai 100 juta ke atas, pihak penjual wajib meminta, mencatat identitas pembeli, dan melaporkan transaksi pembelian itu kepada negara. Maka, kalau ada Pejabat Negara dan Pegawai Negeri mampu membeli rumah, mobil, tanah,  berharga ratusan juta rupiah, misalnya, akan masuk dalam laporan transaksi pembelian. Walaupun pembelian dilakukan secara kredit, laporan transaksi pembelian itu harus tetap ada, lengkap dengan model, besaran, dan jangka waktu angsuran. Dari sana  bisa dilihat profil statusnya sebagai Pejabat Negara dan Pegawai Negeri dengan golongan pangkat dan jabatan apa, wajar atau tidak yang bersangkutan mampu membeli barang-barang seharga sekian, dengan besaran cicilan sekian per bulan, dst.

Kalau sistem seperti ini bisa dipakai, negara akan mudah melacak siapa saja yang membelanjakan uangnya dalam jumlah besar. Tinggal mencocokkan saja, apakah penghasilan si pembeli mendukung kemampuan daya belinya? Kalau memang iya, tidak masalah, tapi kalau tidak, perlu dipersoalkan dari mana si pembeli mendapatkan uangnya. 

Dengan pemberlakuan sistem ini, setiap gerak orang kaya tidak lepas dari pengamatan negara. Bagaimana mereka memperoleh uang dan bagaimana mereka membelanjakan uang, diketahui oleh negara. Bila mereka memang jujur dalam memperoleh dan membelanjakan uang, tentunya mereka juga tidak akan mempersoalkan.

Saya bukan ahli ekonomi, jadi tidak tahu bagaimana mekanisme untuk menjalankan sistem seperti ini. Tapi saya berkeyakinan, where there is a will, there is a way, di mana ada kemauan, pasti ada jalan. Kalau negara mau, pasti bisa. Ini bisa jadi salah satu alternatif untuk mengurangi korupsi. Fakta membuktikan, setiap koruptor tertangkap, dalam penyidikan lanjut, selalu diikuti tindak pidana pencucian uang (money laundering). Mereka membelanjakan uang hasil korupsi untuk menyembunyikan hartanya. Siapa tahu, dengan cara ini, negara jadi lebih mudah melacak dan menangkap pelaku korupsi. Nyatanya, dengan sistem yang ada sekarang ini, pemberantasan korupsi masih saja tertatih-tatih.

Artikel ini akan dipakai sebagai Bahan Diskusi dalam Road Show Puisi Menolak Korupsi XVII di Tegal, Sabtu, 29 Maret 2014. Penulis adalah Widyaiswara pada Badan Diklat Prov. Jateng, Penyair, Pegiat Komunitas Penulismuda Indonesia, dan tinggal di Semarang, Jawa Tengah.
 
Sumber Facebook PMK

Link http://www.suaramerdeka.com/v2/index.php/read/cetak/2014/03/27/256972/Nafsu-Konsumptif-Orang-Kaya

Selasa, 18 Maret 2014

Korupsi dan Self-concept Kolektif Masyarakat

Oleh Sulfiza  Ariska

Korupsi telah membudaya di Indonesia. Tidak sulit menemukan ‘tikus-tikus berdasi atau berlipstik’. Nyaris seluruh sistem sosial budaya menjadi sarang mereka. Kita memiliki Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), tetapi impian mewujudkan Indonesia bebas korupsi takkan terlaksana tanpa peran aktif masyarakat. Membenahi self-concept (konsep diri) kolektif merupakan salah satu cara efektif untuk memberantas korupsi.

Menelusuri Jejak Korupsi
Fenomena sosial dapat kita telaah memalui self-concept yang menjadi tradisi dalam masyarakat. Self-concept adalah pikiran dan keyakinan seseorang mengenai dirinya sendiri [...] William D. Brooks mendefinisikan konsep diri sebagai “persepsi yang bersifat fisik, sosial, dan psikologis, mengenai diri kita, yang didapat dari pengalaman dan interaksi kita dengan orang lain” (Armando, 2006).

Di lain sisi, korupsi dapat kita maknai sebagai praktik-praktik manipulasi (penyimpangan) kekuasaan untuk mencapai keuntungan ekonomi yang menimbulkan kerugian orang lain (negara) telah menjadi bagian self-concept negatif di Indonesia.

Korelasi antara self-concept dan korupsi bisa kita telaah dari fenomena sosial pada masa berdirinya kerajaan di Nusantara dan keberadaan pemerintah kolonial. Sinergi kedua kuasa ini melahirkan penindasan keji dengan menciptakan dogma dan doktrin guna membentuk self-concept negatif masyarakat. Hal ini dapat kita jumpai dalam penyimpangan-penyimpangan filosofi dari khasanah kearifan lokal Jawa, antara lain:

Pertama, ‘mangan ora mangan, ngumpul’ (makan tidak makan tetap berkumpul). Makan bisa kita asumsikan sebagai representasi dari representasi dari nafkah. Secara kontekstual, ‘Makan kita berkumpul’, tapi ‘Apakah kita tetap berkumpul dalam keadaan tidak makan?’. Filosofi ini telah tertanam ke dalam self-concept masyarakat Jawa dan diyakini hingga sekarang. Filosofi ini mendorong kita menjadi ‘lamban’, tidak inovatif, cepat puas dengan kemajuan sesaat, dan termotivasi untuk mencapai kemajuan-kemajuan yang bersifat instan. Pada konteks kelas sosial menengah ke atas, korupsi terlihat dari pada praktik yang dilakukan kaum bangsawan/kerajaan yang bekerjasama dengan pemerintah kolonial Belanda dalam tanam paksa. Sedangkan pada kelas sosial menengah ke bawah terdapat pada praktik ‘perdagangan manusia’ yang dilakukan aparat desa ataupun keluarga pada masa pendudukan kolonial Belanda. Di mana rakyat jelata yang buta huruf dan lugu, ditipu untuk ditempatkan bekerja di daerah tambang atau perkebunan milik pemerintah kolonial.

Kedua, ‘manunggal kawula gusti’ (patuh pada pimpinan). Patuh pada pimpinan memang sebuah keharusan untuk membentuk tatanan sosial yang harmoni. Tapi bagaimana dengan pemimpin yang menyalahgunakan kekuasaan? Ketika pimpinan (gusti) melakukan tindakan korupsi, rakyat yang dipimpin tidak memiliki hak untuk mengkritisi. Praktik ini telah menjamur dari masa pendudukan kolonial hingga sekarang.

Ketiga, ‘rame ing gawe, sepi ing pamrih’ (ramai bekerja/berkarya, sepi dalam pamrih). Secara kontekstual, semua pekerjaan pasti memiliki pamrih. Sebab, pamrih tidak semata imbalan ‘pujian’ atau ‘materi’, tapi juga berarti ‘harapan’ atau pahala dari Tuhan. Harapan merupakan pamrih yang bersifat positif. Misalnya, seorang individu melakukan inovasi dengan harapan hasil inovasi berguna bagi masyarakat. Individu yang tidak memiliki pamrih sama sekali merupakan individu yang ‘tidak utuh’ dan tidak memiliki kesadaran eksistensial. Sehingga, individu ini mudah dimanipulasi/ditindas/dijajah.

Semestinya, ketiga filosofi di atas berpijak pada ajaran ‘tauhid’ (religiositas/ketuhanan), bukan ditujukan untuk ‘mendewakan’ penguasa atau pihak otoritatif. Dengan interpretasi; Pertama, ‘mangan ora mangan, ngumpul’. Kita tetap menunaikan ibadah dan patuh pada kebenaran universal meskipun dalam keadaan tidak makan. Kedua, ‘manunggal kawula gusti’. Kita patuh pada pimpinan yang adil. Pemimpin yang tidak adil wajib kita kritisi (nasihati atau dilengserkan), bukan mematuhi (mempertahankan) pemimpin yang merepresi (tidak adil). Ketiga, ‘rame ing gawe, sepi ing pamrih’ (ramai bekerja/berkarya, sepi dalam pamrih). Sebagai bangsa Indonesia, kita harus rajin bekerja dan gemar berinovasi dengan ‘pamrih’ pahala dari Tuhan/Pencipta dan harapan mewujudkan kemakmuran yang berkeadilan. Dengan demikian, kita bisa membangun self-concept positif, melenjitkan kreativitas, meningkatkan kualitas pribadi, mampu memenuhi kebutuhan pribadi (golongan) dengan kerja/karya nyata, dan mencapai tujuan yang konstruktif tanpa menempuh jalan instan (korupsi).

Tentunya, kita tidak adil bila menyalahkan interpretasi/aplikasi konvensional yang keliru itu. Sebab, dalam sejarah Jawa, pemerintah kolonial memiliki peran besar dalam rekontruksi kearifan lokal ke arah negatif. Ini sebuah metode ‘komunikasi antarbudaya’ atau ‘ilmu antropologi’ yang sangat keji melalui program pendidikan Politik Etis. Pemerintah kolonial menggunakan ilmu pengetahuan untuk menciptakan self-concept negatif yang bermuatan learned helplessness (ketidakberdayaan yang dipelajari) dan ditransformasikan melalui pendidikan. Budaya ini bertransformasi ke dalam self-concept kolektif dan mendidik rakyat jajahan (kita) menjadi tidak berdaya.

Rekontruksi Tradisi
Dalam mengatasi korupsi, semestinya kita tidak terfokus pada program yang dicanangkan KPK. Melainkan, kita harus merekontruksi tradisi yang ada. Salah satu jalan yang harus kita tempuh adalah memajukan ‘budaya literasi’.

Budaya literasi bisa kita asumsikan sebagai tradisi membaca dan menulis. Pada zona empiris, budaya literasi berkorelasi erat dengan apresiasi/inovasi bahasa, kritik ideologi, sastra, dan filsafat. Proses membaca dan menulis akan menuntun kita untuk mengurai tesis yang tersimpan dalam peta kognitif. Semakin sempurna dengan mendiskusikan serta bentuk apresiasi-apresiasi lainnya.

Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan, budaya literasi-lah yang mengantarkan Negara Kesatuan Republik Indonesia ke gerbang kemerdekaan. Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan para Pendiri Bangsa Indonesia, adalah pribadi-pribadi yang menjadikan budaya literasi sebagai self-concept dalam perjuangan. Dengan budaya tulis dan baca; pembentukan solidaritas, ideologi, dan Nasionalisme bisa diwujudkan.

Sayangnya, pascakemerdekaan, budaya literasi diamputasi dari kurikulum pendidikan. Hal ini yang dikritik Taufiq Ismail dalam pidatonya bertajuk Tragedi Nol Buku, Tragedi Kita Bersama yang disampaikan dalam pidato kunci pada Rakerpus IPI (Ikatan Pustakawan Indonesia), 31 Mei – 3 Juni 2005 di Pekan Baru. Dari 13 negara (termasuk Hindia Belanda Yogyakarta 1939-1942 dan Hindia Belanda Malang 1929-1932), tradisi literasi (diidentifikasi melalui jumlah buku sastra yang dibaca), era Indonesia 1943-2005 terdapat ‘nol’ judul. Buku yang menjadi jendela dunia tidak dianggap penting. Tak mengherankan, kita memiliki self-concept negatif. Meski hidup di negara merdeka; kelaparan, buta aksara, kemiskinan, kebodohan, dan penyalahgunaan kekuasaan masih menjamur di Tanah Air. Kita terjajah secara pemikiran!

Segenap elemen masyarakat harus bersatu dalam memajukan budaya literasi. Buta aksara harus kita berantas. Perpustakaan dibangun sebagai ruang publik dalam rekontruksi tradisi. Kita bisa menyerap ilmu pengetahuan tanpa harus menjalani pendidikan formal. Masyarakat kita menjadi pembelajar. Dengan terpelajar, kita akan memiliki bekal ilmu dalam mewujudkan legenda pribadi, ekonomi mandiri, dan meningkatkan iklim kondusif demokrasi.

Dapat kita simpulkan, tanpa self-concept positif, semua orang memiliki potensi yang sama besar menjadi tikus berdasi atau berlipstik. Budaya literasi merupakan jalan yang dapat kita tempuh dalam merekontruksi self-concept negatif (berupa korupsi). Dengan memiliki self-concept positif; kita bisa berkarya, berinovasi, mewujudkan ekonomi mandiri, bebas finansial, dan terciptalah civil society. Semoga!

Referensi: Armando, Nina M. (2006). Psikologi Komunikasi. Universitas Terbuka: Jakarta.


Rabu, 22 Januari 2014

Korupsi Masalah Bersama

Oleh Abdul Salam*

Pada acara diskusi dan pembacaan puisi Banten Menolak Korupsi di Rumah Dunia, (18/01) Dahnil Anzar salah satu pembicara dalam acara tersebut mengatakan, selama ini jika memandang korupsi adalah urusan partai politik, urusan pemerintah itu salah besar. Korupsi adalah masalah kita bersama, masalah orang yang hidup di dunia ini. Lebih fatal lagi kata Dahnil, dosen Untirta yang mengajar ilmu ekonomi ini, jika menganggap korupsi adalah musibah atau cobaan.

Sungguh, negara kita sedang diuji banyak masalah yang menakutkan dan mengancam, dimuali dari banjir yang hampir dua minggu menenggelamkan Kota Jakarta dan sekitarnya, selain itu disusul banjir Bandang di Kota Manado yang menelan 16 korban. Tidak itu saja, gunung Sinabung di Sumatra ikut meletus, akan tetapi dari banyaknya kasus yang menimpa negara ini, kasus korupsi menjadi kasus yang lebih menakutkan dan mendapatkan lebih banyak sorotan media. Ya, kasus korupsi di negara ini semakin merajalela. Untuk itu, para penyair dari pelosok Indonesia yang puisinya tergabung dalam buku antologi “Puisi Menolak Korupsi Jilid ke-2” hadir di Rumah Dunia untuk membacakan puisi-puisinya.

Menurut Sosiawan Leak dalam sambutannya, terbitnya buku antologi menolak korupsi jilid ke-2 ini bentuk sumbangsih para penyair dalam menyikapi korupsi di Indonesia. Harus diingat, "Para penyair yang seharusnya mendapatkan bayaran setelah menulis, akan tetapi sebaliknya penyair yang karyanya dinyatakan lolos seleksi dalam buku ini diminta membayar Rp 150 ribu untuk biaya percetakan buku. Selain itu, para penyair dari pelosok Indonesia; Kalimantan, Bekasi, Bandung dan sebagainya, yang malam ini hadir atas biaya pribadi. Ini bisa kita tandai bahwa begitu besarnya hasrat penyair untuk melawan korupsi".

Acara yang dimulai pada pukul 20:00 WIB, menghadirkan diskusi dengan narasumber Dahnil Anzar, Ahmadun Yossy Herfanda, sastrawan Indonesia dan Feri Patiro dari Cilegon. Tak terduga sebelumnya, acara ini banyak menarik warga sekitar dan masyarakat kampus untuk hadir mengikuti. Ruangan gedung Surosowan Rumah Dunia berkapasitas 75 orang itu terasa sesak dan padat. Bahkan beberapa peserta tidak bisa masuk lantaran penuhnya isi ruangan. Saya meyakini, banyaknya masyarakat datang diacara Banten Menolak Korupsi ini salah satunya didasarkan pada alasan panggilan nurani yang menginginkan negara ini bersih dari korupsi, terutama di Banten yang begitu akut dengan kasus korupsi.

Tetapi dalam hati kecil saya bertanya, pentingkah acara diskusi dan pembacaan puisi menolak korupsi itu diadakan di Banten, entahlah? Sambil duduk di antara kerumunan orang yang mengikuti diskusi dan mendengarkan pembacaan puisi dari para penyair Indonesia dengan bahasa menggebu-gebu, santai dan satir para hadirin saya melihat menikmati sambil tertawa-tawa nyinyir.
Foto - Penyair PMK sedang menonton pameran foto "71,5 KM dari Jakarta"

*Abdul Salam
Relawan Rumah Dunia dan Mahasiswa Untirta Serang.

Sumber Facebook PMK (Gol A Gong)

Senin, 20 Januari 2014

Rumus Korupsi oleh Dahnil Anzar

Dahnil Anzar. Foto oleh Firman Venayaksa.
Dosen ekonomi Untirta yang tambun tapi ganteng, Dahnil Anzar dengan jernih memaparkan rumus korupsi di Banten di acara "Banten Menolak Korupsi", rangkaian dari road show "Puisi Menolak Korupsi" yang digagas Leak Sosiawan, di Taman Budaya Rumah Dunia.

"Rumus korupsi menurut pandangan saya sebagai dosen ekonomi adalah; monopoli + diskresi (policy) - Transparancy (accountable)

Banyak pelaku koruptor yang membela diri dengan mengatakan pada media bahwa kasus mereka dipolitisasi, sebuah konspirasi untuk menjatuhkan, dan yang lebih ironis mereka mengatakan bahwa korupsi itu sebuah musibah dari Allah."

Sumber Facebook Gol A Gong. satu, dua

Puisi Menolak Korupsi di Rumah Dunia, Serang-Banten

Ahmad Mukhlis Yusuf. Foto oleh Firman Venayaksa.
Korupsi di Indonesia jika diibaratkan seperti penyakit sudah mencapai stadium empat. Apalagi di berbagai daerah seperti Banten, perkara korupsi sungguh benar-benar sudah kronis. Hal itu bisa ditinjau melalui kasus korupsi para pemimpinnya yang saat ini panas diberitakan oleh berbagai media. Ironisnya, justru masyarakatlah yang harus menanggung bebannya. Namun korupsi sulit pula dihentikan karena sudah sangat menggurita. Maka dari itu, Rumah Dunia sebagai sebuah komunitas nirlaba di Kampung Ciloang, Serang, menyelenggarakan diskusi dengan tajuk, "Banten Menolak Korupsi", pada Sabtu (18/1).

Pada kesempatan itu, Ahmadun Yossy Herfanda (AYH) prosais yang juga penulis buku Puisi Menolak Korupsi (PMK), dosen Untirta, Dahnil Anzar dan Feri Patiro (Pusat Informasi Regional) ditunjuk sebagai pembicaranya. Mereka menyampaikan beberapa argumennya menyangkut korupsi yang tengah melanda pemerintahan di Banten. Dahnil Anzar mengawali diskusi dengan mengatakan bahwa korupsi itu dapat mengancurkan seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat. "Korupsi membuat rakyat miskin, korupsi membuat anak-anak tidak mampu sekolah," ujar Dahnil dalam pemaparannya.

Sementara itu, AYH mengatakan, harus tetap semangat menulis puisi meski korupsi memang sulit dihentikan. Salah satu momennya adalah tetap menyemarakan tema PMK. "Karena puisi adalah ungkapan doa. Sesulit apapun menghadapi korupsi, kita harus tetap perangi dengan ungkapan puisi sebagai media sastranya," kata Ahmadun.

Di sisi lain, Feri Patiro, menyatakan memang dalam memerangi korupsi tidak hanya para aktivis, tetapi juga penyair pun memiliki andil dalam memerangi korupsi. “Mari kita sama-sama perangi korupsi, baik aktivis maupun penyair wajib memusuhi korupsi, sebab itu adalah penyakit yang sangat membahayakan bagi kehidupan kita,” katanya.

Tampak hadir pula para pendiri Rumah Dunia, seperti Gol A Gong, Toto ST Radik, Tias Tatanka dan penasehat Rumah Dunia dan mantan direktur LKBN Antara, A. Mukhlis Yusuf. Kemudian acara tersebut ditutup dengan parade pembacaan puisi oleh para penyair PMK, di antaranya adalah Ahmadun Yossy Herfanda, Sosiawan Leak, Toto ST Radik Gol A Gong, dan Ardian Je. (HS)

Sumber Facebook PMK (Gol A Gong)

* * *
Oleh Rully Ferdiansyah

Kemarin malam, Sabtu 19 Januari 2014, komunitas "Rumah Dunia" adakan acara seni pembacaan puisi menolak korupsi. Banyak hadirin yang berdatangan. Umumnya, gedung seni-budaya "Rumah Dunia" dipadati oleh para ibu-ibu dari PAUD. Acara tersebut diisi oleh diskusi dan klimaksnya pembacaan puisi. Adapun untuk diskusi, tiga narsum memberikan pernyataan seperti di bawah ini;

Dahnil Anzar; "Rumus korupsi menurut pandangan saya sebagai dosen ekonomi adalah; monopoli + diskresi (policy) - Transparancy (accountable). Banyak pelaku koruptor yang membela diri dengan mengatakan pada media bahwa kasus mereka dipolitisasi, sebuah konspirasi untuk menjatuhkan, dan yang lebih ironis mereka mengatakan bahwa korupsi itu sebuah musibah dari Allah. Ini keterlaluan. Kalau mereka sering mengatakan demikian, banyak masyarakat awam terbawa opini mereka. Karena itu, kita sebagai orang yang mengerti harus sering memberikan penyadaran pada orang awam bahwa korupsi itu tindakan kejahatan yang menghabiskan dua tiga generasi bangsa Indonesia. Acara seperti ini memang harus tetap berlangsung. Inilah yang harus jadi budaya.. bukan korupsi."

Ahmadun Yosi Herfanda; "Saya sedih kalau Indonesia dapat fenomena korupsi yang merongrong seperti ini. Anggapan yang mengatakan bahwa 'money is power, everything' membuat saya nambah sedih. Karena itu, mas Sosiawan Leak mengajak saya terlibat dalam kegiatan puisi tolak korupsi, saya angsung kegirangan, antusias mengikutinya. Tapi, apakah puisi bisa mencegah atau mengusir penyakit korupsi? Al-Qur'an saja dikorupsi. Tapi, tidak masalah. Yang penting semangatnya. Bahkan, puisi ini bisa jadi do'a yang mustajab. Semoga dengan puisi yang dibaca di sini bisa menjadi do'a kepada Allah untuk menyelamatkan Banten, menyelamatkan negeri ini dari korupsi."

Iitulah isi omongan narasumber yang saya ingat. Kemudian, saya dan beberapa penggiat puisi menolak korupsi berbincang mengenai masa depan sastra di Indonesia dan kasus korupsi. Sebagai koordinator (PMK), Sosiawan Leak menyayangkan adanya kasus skandal sastra dari penyair seperti "SS" dari Jakarta dan Denny J.A. Ia menceritakan dengan kegetiran kalau orang di setiap kota selalu menanyakan kasus dua skandal tersebut padanya ketika ia hendak menggelar acara pembacaan PMK.

Keprihatinan Leak adalah kepirihatinan kita semua, tapi saya tidak bisa larut dalam kegetiran dua skandal itu. Saya optimis kalau yang namanya puisi ataupun bentuk sastra lainnya selalu "memulihkan" dirinya sendiri. Dulu orang jahiliah di Arab kerap bersyair untuk kegemerlapan duniawi yang memabukkan. Dan, setelah Al-Qur'an turun, para penyair Quraisy terkesiap dengan bentuk diksi dan isi yang sedemikian indah. Sukar ditandingi. Kemudian salah satu ayat Al-Qur'an mengatakan "Hai, para penyair, kalau bisa membuat satu ayat semisal Al-Qur'an, buatlah. Silakan kalau minta bantuan jin, setan, dan semua bala tentaramu. Tapi, kalian takkan mampu menandingi ayat Al-Qur'an".

Ddemikianlah. Semoga acara ini tetap berlangsung hingga korupsi benar-benar hilang dari Banten dan Indonesia secara keseluruhan. (*)

Sumber Facebook PMK (Gol A Gong)