"Puisi tak bisa memberantas korupsi," tegas Jenderal Gerakan Puisi Menolak Korupsi (PMK), Sosiawan Leak, ketika berlangsung talk show PMK
ke-35, di aula hotel Ungaran Cantik, Kota Ungaran, Semarang, baru-baru
ini. "Paling hanya bisa menolak, menentang, atau melawan. Itu saja,"
tambahnya menegaskan, yang disambut tepuk tangan gemuruh dari semua yang
hadir. Talk show itu menampilkan pembicara utama Mbak Oely Sidabalok
dan Mas Donny Danardono. Hadir sekitar 200 laskar PMK dari seluruh
penjuru tanah air, termasuk dari Malaysia. Terlihat jenderal Leak,
memakai sepatu jenggel tentara, hehehe....
Namun harus diakui,
gerakan moral PMK yang digenderangkan Leak dan para penyair Nusantara
beberapa tahun lalu itu, seperti virus yang terus menyebar ke mana-mana.
Anti korupsi dimulai dari diri sendiri dan keluarga para penyair PMK.
Gerakan ini telah didukung oleh berbagai pihak, termasuk dari KPK, dan
pernah diundang pentas di gedung lembaga anti korupsi Indonesia itu. Ini
membuktikan, PMK sudah diakui, sebagai gerakan moral anti korupsi, yang
sudah pentas road show di 35 kota besar di Indonesia. Dan akan terus
mengelilingi kota demi kota. Edan, ya? Hahaha....
Lima buku tebal
kumpulan para laskar PMK sudah terbit dan sekarang menuju ke yang
keenam. "Selama korupsi masih merajalela di tanah air, kita akan menulis
puisi anti korupsi terus, sebagai bentuk perlawanan," kata Leak lagi.
Ah, benar juga, kumpul dengan para laskar PMK, ada semangat membara
dalam dada, untuk ikut berjuang membela bangsa dan negara. Sama dengan
para pejuang 45. Bedanya, mereka mengangkat senjata, dan kita mengangkat
pena. Bukankah pena lebih tajam dari seribu meriam? Kata-kata terkenal
Napoleon Bonaparte, sekian ratus tahun lalu itu seperti masih bergema
sampai kini. Ah... hehehe...
Acara PMK ke-35 kali ini, dikemas
apik oleh Bu Sulis Bambang dan kawan-kawan dari Semarang, seperti Mas
Driya Widiana, Mas Artvelo Sugiarto, Pak Imam Subagyo, Mas Lukni
Maulana, Mbak Fransiska Ambar Kristiani, dan lain-lain dengan ditandai
peluncuran buku "Perempuan Menentang Korupsi" karya para penyair wanita
PMK. Dilanjutkan dengan pentas baca puisi oleh para perempuan seperti
Mbak Dyah Setyawati, Mbak Ardi Susanti, Mbak Cynthia Suwarti, dan
lain-lain termasuk Bu Sulis Bambang sendiri selaku ketua penyelenggara,
tampil di depan umum dan nyanyi, hehehe...
Tampil atraktif Mbak
Elisyus dan memukau audience dengan pembacaan puisi "Pertiwiku Sudah
Mati". Sedangkan Mas Haryanto Sukiran tampil monolog "Semar". Bagi para
laskar PMK lelaki pun banyak yang ikut tampil seperti Mas Heru Mugiarso,
Mas Rama Dinta, dan lain-lain. Maaf para pembaca puisi, tidak dapat
saya sebutkan satu persatu di sini, akan terlalu panjang banget.
Pokoknya ramailah, ada mbak Denis Hilmawati dari Solo, mbak Cinta
Logika, Mas Wage Teguh Wiyono, Mas Bontot Sukandar, Pak Bambang Eka
Prasetyo, Mas Ethexs Suyitno bersama anak dan istrinya, ikut tampil
meramaikan. Sekali lagi maaf ya, teman-teman, hehehe....
Ini yang
spesial, tampilnya Mas Joshua Igo, sastrawan yang juga musikus.
Membawakan orgen tunggal, mengiringi baik yang baca puisi, maupun yang
nyanyi. Anehnya, setiap gerak-geriknya, selalu dirubung ibu-ibu
Muslimah. Apa mungkin sudah takdir hidupnya, entahlah, hehehe....Okre,
selamat sukses teman-teman PMK, salam laos.
Catatan Fakhrunnas MA Jabbar dari PMK XXIX di Kudus, Jateng
KUDUS- "Gerakan PMK ini kita biarkan saja mengalir terus. Tak perlu
dibatasi. Ini memang gerakan tiada akhir dalam menolak praktik dan
tindakan korup di negeri. Gerakan ini ditentukan oleh semua anggota
komunitas. Saya hanya koordinator. Oleh sebab itu, saya pun tak punya
kekuatan untuk menentukan PMK ini harus bagaimana. PMK ini menjadi milik
dan tanggungjawab kita bersama."
Pernyataan itu diungkapkan
Koordinator Puisi Menolak Korupsi (PMK), Sosiawan Leak ketika menjadi
salah satu pembicara pada sesi diskusi dalam rangkaian kegiatan PMK
XXIX di Kudus, Jateng, 5 April 2015.
Suasana aula Universitas
Muria Kudus (UMK), Minggu malam itu terlihak semarak dan meriah.
Ratusan orang duduk lesehan menghadap panggung yang dibalut
potongan-potongan kain hitam dengan terpaan lampu panggung warna-warni.
Ada sebuah patung kain yang berdiri tergantung di dahan pepohonan.
Kesannya menjadi lebih mencekam dan magis.
Begitulah kegairahan
para penyair dalam menyediakan diri selaku 'tuan rumah' kegiatan PMK
secara bergiliran memberikan kesan, pesan dan suasana beragam yang
menarik bila dihayati.
Kadangkala kegiatan PMK itu tampil meriah
dan digelar di aula hotel atau gedung universitas. Tapi tak jarang
pula kegiatan itu dilakukan di tengah-tengah pesantren atau ruang kelas
sekolah.
Namun, satu hal yang membanggakan hati, demi
terselenggaranya kegiatan PMK itu, pihak panitia yang menjadi inisiator
menyelenggarakan kegiatan dengan semangat volunterisme (kerelawanan).
Bila
tak ada sponsor yang yang didapatkan, harus rela merogok kocek sejumlah
orang yang terlibat dengan peristiwa kepenyairan itu. Begitu pula,
kegiatan PMK ini 'ditumpangkan' dengan kegiatan seni budaya yang digelar
oleh institusi pemerintah yang benar-benar memiliki dana yang cukup.
Puncak
keabsahan PMK sebagai gerakan moral yang simultan dalam ikut
menyebarluaskan semangat antikorupsi lewat panggung baca puisi dan
pementasan puisi ketika PMK digelar di Gedung KPK tahun 2013 silam.
Waktu
itu sejumlah pimpinan KPK yang diketuai Abraham Samad hadir dan
menyatakan suka-citanya soal gerakan para penyair dalam menyuarakan
antikorupsi. Ikut pula hadir waktu itu penyair Taufiq Ismail dan Eka
Budianta beserta seratus lebih penyair penggiat PMK termasuk Sosiawan
Leak sendiri.
Baca Puisi Penuh Warna
Satu persatu
para penyair yang berdatangan dari sejumlah kota di Indonesia didaulat
tampil membacakan puisi. Sudah pasti, tema puisi-puisi yang disajikan
penuh aromatika korupsi. Setidak-tidaknya itulah perwujudan penyair
membenci korupsi dengan segala seluk-beluknya yag masih marak di negeri
ini.
Satu hal lain yang juga menarik dicermati melalui panggung
PMK itu, para penyair lintas generasi pun bertemu. Boleh jadi, 'Abah'
Arsyad Indradi yang sudah berusia 70-an tahun merupakan penyair tertua
yang paling aktif mengikuti perjalanan PMK di tanah air.
"Pak
Arsyad itu sudah berniat akan ikut dalam setiap kegiatan PMK di mana
saja. Bahkan dana pensiunnya memang dipersiapkannya untuk membiaya
perjalanannya ke mana-mana," terang Sosiawan Leak.
Lihat saja,
tak kurang 30 penyair komunitas PMK yang tampil bergiliran baca puisi
malam itu di aula UMK. Menyebut sejumlah nama, ada Arsyad Indradi
(Kalsel), Bambang Eka Prasetya (Yogyakarta), Heru Mugiarso
(Semarang), Fransiska Ambar Kristyani. Selain itu, ada pula penyair
Wardjito Soeharso, Bontot Sukandar. Ditambah para penyair angkatan muda
yakni Faizy Mahmoed Hay dan Lukni Maulana.
Penyair Jumari Hs, koordinator road show XXIX PMK Kudus langsung menjadi pembawa acara selama
kegiatan berlangsung. Ucap kata yang lincah dan ditingkahi guyonan segar
membuat acara yang berlangsung sejak pukul 20.00 hingga pukul 01.00
tengah malam itu menjadi tak terasa lelah.
Gerakan Tiada Akhir
Di
sela sesi pertama dan kedua pembacaan puisi para penyair PMK, digelar
pula acara Diskusi Sastra PMK. Ada enam tokoh yang tampil berbicara
secara bergiliran yakni Fakhrunnas MA Jabbar (Riau), Acep Zamzam Noor
(Tasikmalaya), Sosiawan Leak (Solo), Syarifuddin Arifn (Padang) dan kritikus sastra Indonesia selaku pembicara utama, Maman S. Mahayana (Jakarta).
Maman
S. Mahayana berbicara soal bagaimana karya sastra khususnya puisi sejak
masa lalu telah dijadikan sebagai sarana dalam membangun pencitraan dan
stigma dalam segala lapangan kehidupan.
Politik imperialisme
Belanda di masa lalu, menurut Maman berhasil membangun citra itu yang
sangat berpihak ada keberadaan kaum penjajah di Indonesia. Bahkan,
penerbit Balai Pustaka yang didirikan pada zaman Belanda itu sengaja
menerbitkan roman, novel dan kumpulan cerpen yang menempatkan tokoh
Belanda atau non-Muslim lebih dicitrakan sebagai 'orang hebat'.
"Hal
senada pun dilakukan pula oleh pemerintahan penjajah Jepang. Bahkan
Jepang berusaha membangun stigma buruk pada Belanda dan membangun citra
baik pada pemerintahan Jepang," ucap Maman.
Dalam hal tindak
korupsi yang terus merajalela di Indonesia, para penyair (baca:
sastrawan) harus terus-menerus 'mengganyang' para koruptor dengan
menumbuhkan stigma buruk yang dapat menimbulkan efek jera dan mau.
Menurut
Maman, para penyair PMK sudah saatnya menulis puisi yang isinya lebih
vulgar. Misalnya dengan menyebutkan nama koruptor dan kasus korupsi
serta jumlah uang negara yang di'rampok'nya.
"Tentu para penyair
tetap mengutamakan estetika dan penggunaan metafora yang pas," kata
dosen FIB Universitas Indonesia (UI) ini.
Senada dengan Maman,
penyair Sosiawan Leak menceritakan bagaimana tradisi kritis terhadap
tindak korupsi telah dilakukan oleh semua agama di dunia.
Ensiklopedia Korupsi
Merespons
apa yang dikemukakan Maman soal pola vulgar yang tertuju langsung pada
nama koruptor dan kasus korupsi yang dilakukannya terutama diarahkan
bagi koruptor yang sudah berkekuatan hukum tetap atau vonis pengadilan.
"Dalam
program penerbitan buku PMK IV, kami sengaja memberinya judul
Ensiklopedia Korupsi (baca: Ensiklopegila Koruptor). Para penyair memang diarahkan untuk menyorot
kasus-kasus korupsi yang sudah diputuskan di pengadilan dengan nama
koruptornya," ucap Leak.
Sementara Fakhrunnas MA Jabbar lebih
menyemangati para penggiat PMK untuk terus bergairah dalam melakukan
kegatan penolakan korupsi. Meski kini KPK cederung 'dilemahkan' namun
gerakan PMK harus terus dikuatkan.
Sedangkan Acep Zamzam Noor
mengajak para penyair untuk menjadi momentum PMK sebagai ajang
'kegembiraan'. Sebab, kegembiraan semacam itu akan selalu memberikan
kegairahan pada setiap penyair dalam menjalani kehidupan dan mengkritisi
hal-hal yang bersifat koruptif.
Sementara Syarifuddin Arifin
menekankan perlunya memberikan stigma 'malu' bagi pelaku korupsi
termasuk keluarga (isteri dan anak-anak) mereka. "Munculnya rasa malu
tentu akan berpengaruh pada karakter atau kepribadian yang terpuji dalam
kehidupan," ucap Syarifuddin.
Acara PMK XXIX di kota Kudus itu
disponsori sebagian oleh Djarum Bhakti Budaya yang selama ini sudah
dikenal luas oleh masyarakat Indonesia dalam membantu kegatan-kegiatan
seni budaya di mana-mana di tanah air.***
Mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa pekerja seni termasuk sastrawan
Indonesia yang di dalamnya penyair, juga punya mata, hati dan telinga
serta rasa dalam melihat fenomena korupsi yang telah merebak dan merusak
sendi-sendi kehidupan, berbangsa dan bernegara. Melihat korupsi yang
sudah lahir dan besar sebagai sesuatu ‘binatang’ menjijikkan dalam
karakter yang lahir menjadi budaya dalam masyarakat. Budaya ‘binatang’
(beast) yang semestinya perlu diperangi dan dihabisi.
Namun pekerja seni dalam hal ini Penyair bukan
aparat hukum, bukan politikus, juga bukan penguasa. Elemen-elemen
negara yang seharusnya melakukan tugasnya dalam memberantas korupsi.
Yang dapat dilakukan hanya menulis dan berkata-kata. Apa yang dapat
dilakukan oleh penyair selain berkata-kata dan menuliskan rasanya? Bukan
juga hanya kata-kata, kata-kata itu harus punya makna yang
diwujudnyatakan dengan gerakan kultural yang punya dampak dalam
‘peperangan’ ini.
Dan, untuk ikut mengambil bagian bersama elemen-elemen masyarakat yang
lain dalam hal memerangi korupsi, sebagian penyair Indonesia terpanggil
untuk melakukan tindakan konkrit, bersikap tegas dengan menolak
nilai-nilai kehidupan yang korup dengan menebar kata-kata dalam puisi
dan menamai gerakan ini Gerakan Puisi Menolak Korupsi (PMK). Wujud nyata gerakan kita adalah bergerak dengan penyair-penyair di berbagai kota setanah air melakukan Roadshow Puisi Menolak Korupsi. Kegiatan yang dilakukan tidak lari dari merayakan puisi sebagai anak kandung dari kebudayaan itu sendiri:
“Gerakan Puisi Menolak Korupsi
berbasis moral dan dan bergerak dalam ranah kebudayaan. Sebagaimana
namanya, gerakan ini melakukan aktivitasnya dengan puisi (anak kandung
kebudayaan) sebagai sumber ekspresinya. Maka, ia tak akan pernah bisa
lepas dengan hal-hal yang terkait dengan puisi (menulis puisi, membaca
puisi, mencetak puisi, menerbitkan puisi, mementaskan puisi, merayakan
puisi, mendiskusikan puisi dll) selama puisi-puisi tersebut mengolah
tema korupsi”. (Sosiawan Leak)
Sifat dari gerakan PMK adalah nirlaba, independen dan mandiri secara ideologi maupun ekonomi (meminjam kata-kata mas Sosiawan Leak, sang Panglima PMK).
Jadi bagaimana PMK bisa menghidupi dirinya sendiri? Ia bergerak dan
menjalar ke berbagai kota dengan sokongan para penyair dari kota-kota
yang disinggahi dan ingin di kotanya dilakukan roadshow. Para penyair lain yang datang ke kota-kota itu pun membiayai diri mereka sendiri tanpa membebankan yang lainnya.
Awal roadshow dilakukan di kota
Blitar bulan Mei tahun 2013, itulah Roadshow PMK pertama kali, kemudian
menyusul kota-kota lainnya di Jawa Timur, Tengah dan Barat, Sumatra,
Kalimantan dan juga Indonesia Timur, salah satunya (untuk sekarang
mungkin satu-satunya) dilakukan di Palu, Sulawesi Tengah pada bulan
September 2013. Kebetulan penulis menjadi koordinator Roadshow ke-4 PMK
tersebut yang dengan penuh rasa syukur disambangi oleh penyair-penyair
kondang tanah air seperti mas Sosiawan Leak, Acep Zam-zam Noor, abah Arsyad Indradi dan mas Wage Tegoeh Wijono.
Selain roadshow, gerakan PMK telah menerbitkan 4 antologi* Puisi Menolak Korupsi dari sekitar 500 penyair Indonesia. Antologi Puisi Menolak Korupsi Jilid 1, Jilid 2a dan 2B, kemudian Jilid Pelajar Menolak Korupsi
dimana penulis juga mengirimkan karya-karya anak di salah satu SMP
terpencil di kabupaten Manggarai-NTT yang puji syukur masuk dalam
seleksi puisi antologi pelajar dari seluruh Indonesia ini.
Tidak terasa, setahun lebih telah berjalan gerakan Puisi Menolak Korupsi, saat ini roadshow sudah sampai ke-27 kota, Desember ini kalau tidak salah roadshow akan diadakan di kota Tanjungpinang. Oh ya, di bulan September 2013 PMK juga telah melakukan roadshow di Gedung KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), Jakarta dihadiri oleh seluruh petinggi KPK pada saat itu, bahkan Abraham Samad sebagai Ketua KPK sempat membacakan puisi. What an inspiring moment at that time for me….
Disisi lainnya, banyak suka dan duka
dilalui bersama rekan-rekan penyair seluruh tanah air pada saat
mengikuti kegiatan-kegiatan PMK. Rasa kekeluargaan yang melekat erat
didalamnya sudah terjalin, sehingga dimanapun penulis pergi selama masih
ada di dalam wilayah Indonesia, penulis akan bertemu dengan
sahabat-sahabat yang terlibat dengan gerakan ini dan sudah seperti
keluarga sendiri layaknya.
Maju terus Gerakan PMK, maju terus penyair
tanah air dalam menolak korupsi melalui kebudayaan. Semoga apa yang kita
sama-sama lakukan untuk menghancurkan korupsi melalui puisi dapat
selalu berjalan maju, meskipun langkah kita kecil, namun makin lama
langkah makin panjang, ribuan kilometer telah dilakukan dan akan
dilakukan, lagi dan lagi sehingga perjalanan PMK makin lama makin
bermakna dan bernas. Aksi kita untuk Indonesia dalam menolak korupsi!
Salam hangat, doa kuat, satu hati menolak korupsi.
Dari Tanah Cendana - NTT (suatu saat mudah-mudahan bisa buat lagi roadshow PMK di sini)
Sumpah Pemuda, Sumpah Melawan Korupsi
Meski Puisi Menolak Korupsi ini digelar di mal, semoga gaya hidup
hedonis tidak turut menyertai penyair-penyair dan masyarakatnya. -------------- Aku bertanya tetapi pertanyaanku membentur jidat-jidat penyair-penyair salon yang bersajak tentang anggur dan rembulan sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan termangu-mangu di kaki dewi kesenian … Inilah sajakku pamplet masa darurat, apakah artinya kesenian bila terpisah dari derita lingkungan. Apalah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan. (W.S. Rendra, Sajak Sebatang Lisong dalam Potret Pembangunan dalam Puisi, ITB Bandung, 1977)
MELALUI puisi ini, Rendra mengajak kita, para penyair dan seniman
sekalian, untuk berhenti bermanja-manja di kafe-kafe, hotel-hotel, mal,
supermarket, memuja-muja bulan, dan anggur secara berlebihan. Puisi ini
mengajak kita untuk tak menutup mata pada persoalan masyarakat. Puisi
ini mengajak kita ke jalan, ke kampung-kampung, ke pasar-pasar rakyat,
sekolah-sekolah yang hampir roboh, anak-anak yang dipaksa menjual koran,
ngamen demi sesuap nasi. Mari menyapa rumah-rumah kumuh yang
penghuninya terancam kebodohan dan kelaparan! Begitulah yang disuarakan
Rendra dan sejumlah penyair ketika itu. Nah, sekarang, apa yang
paling mungkin kita lakukan? Apa yang mesti kita perbuat di masa krisis
multidimensi ini, ketika jutaan rakyat takut untuk sekadar berharap
atau bercita-cita? Apa yang mesti kita lakukan untuk mengenang dan
mewarisi semangat Sumpah Pemuda yang menjadi cikal bakal terhimpunnya
mimpi bersama, yang kini kita sebut sebagai Indonesia ini?
Tentu, ada banyak cara, termasuk yang terjadi di Mal Kartini lantai III,
Bandar Lampung, 27—28 Oktober lalu. Di tempat ini bertemu puluhan
pelajar, mahasiswa, penyair, yang secara bersama-sama berniat melawan
korupsi. Kegiatan yang tidak lepas restu pemilik Mal Kartini, Hartarto
Lojaya, ini bertajuk Pemuda Melawan Korupsi. Begitulah, lomba baca puisi
tingkat pelajar dan mahasiswa se-Lampung dan Road Show Ke-25 Puisi
Menolak Korupsi (PMK) mendapat sambutan meriah dari banyak kalangan. Gerakan Kultural
Tak kurang 50-an pelajar dan mahasiswa berpartisipasi. Penampil terbaik
tingkat mahasiswa diraih Nala Rahmawati, sedangkan pemenang pertama
pelajar Nada Chalisa. Pemenang pertama, kedua, dan ketiga juga tampil
membacakan puisi bersama penyair, pembaca puisi, dan penonton yang
tampil spontan Direktur Utama Mal Kartini Hartarto Lojaya
mengaku terkesan dengan suara hati para penyair yang menolak korupsi.
"Ini sejalan dengan perjuangan saya sebagai legislatif," kata politikus
Partai Demokrat yang kini kembali duduk di DPRD Lampung untuk kedua
kalinya itu. Sebelum di Bandar Lampung, Road Show PMK yang
dikoordinatori Sosiawan Leak ini telah melakukan di 24 titik atau kota
di Tanah Air. Ditandai yang pertama di Blitar dan sebelumnya di
Pekanbaru. "Bulan November di Pasuruan dan Desember di Tanjungpinang,
Kepri," jelas Sosiawan Leak. Isbedy Stiawan Z.S. bersama
Syaiful Irba Tanpaka harus bekerja keras untuk road show ke-25 PMK yang
dihadiri sejumlah seniman dan tokoh Lampung, seperti Ketua Umum DKL
Syafariah Widiati atau Atu Ayi, para seniman Lampung seperti Dana E.
Rachmat, Entus Alrafi, Devin, Ivan Bonang, Iin Muthmainnah, dan masih
banyak lagi. Menjadi ajang silaturahmi dan refleksi bersama.
Gerakan PMK mengambil posisi sebagai gerakan kultural, melengkapi
gerakan lain yang dilakukan sejumlah unsur dari berbagai lapisan
masyarakat berikut karakter dan alat perjuangnya (hukum, politik, agama,
jurnalistik, intelektual, dan lain-lain). Gerakan ini pada hakikatnya
menyatu dan padu dengan semua kekuatan yang beritikad mengawal proses
perjalanan masyarakat membangun kehidupan bangsa dan negara yang
berkeadilan dan lebih bermartabat. Secara signifikan gerakan ini juga
menjadi sarana bagi penyair untuk menyatakan sikap tegas, menolak
nilai-nilai kehidupan yang korup. Sejak awal, PMK telah
berjalan sebagai gerakan yang bersifat nirlaba, independen, dan mandiri,
baik secara ideologi maupun ekonomi. Kemandirian ideologi dibuktikan
dengan proses penerbitan antologi puisi yang senantiasa merujuk pada
tema antikorupsi. Kemandirian ekonomi diwujudkan dalam melakukan iuran
secara gotong-royong guna mendanai proses penerbitan antologi tersebut,
murni atas biaya dari para penyair dengan mengutamakan asas kebersamaan
dan transparansi. Kemandirian semacam itu juga menjadi dasar
digulirkannya program kegiatan PMK lainnya, yakni Road Show PMK yang
dilakukan mandiri dan otonomi di berbagai kota di Indonesia,
dikoordinasi para penyair PMK yang mukim di kota tersebut.
Hingga sekarang gerakan yang idenya dilontarkan Heru Mugiarso, penyair
Semarang, tersebut telah menerbitkan antologi puisi, merangkum karya
para penyair yang berasal dari berbagai daerah, usia, dan kecenderungan
puitika. Setelah melewati proses seleksi dan penyuntingan, karya-karya
tersebut terbit dalam Antologi Puisi Menolak Korupsi (melibatkan 85
penyair, terbit Mei 2013), Antologi Puisi Menolak Korupsi 2a (melibatkan
99 penyair, terbit September 2013), dan Antologi Puisi Menolak Korupsi
2b (melibatkan 98 penyair, terbit September 2013). Sejak Mei
2013, gerakan ini juga melakukan kampanye antikorupsi bertajuk Road Show
PMK ke berbagai wilayah di Indonesia dalam wujud pembacaan puisi,
pentas seni, seminar, diskusi, orasi, lomba baca puisi, lomba cipta
puisi, dan lain-lain. Kini Gerakan PMK telah melakukan proses penerimaan
dan seleksi puisi bertema antikorupsi dari para pelajar di seluruh
Indonesia yang diterbitkan April 2014 dalam Antologi Puisi Menolak
Korupsi 3; Pelajar Indonesia Menggugat (melibatkan 286 pelajar).
Para penyair yang menyemarakkan pembacaan Puisi Menolak Korupsi,
Selasa, 28 Oktober malam di antaranya Isbedy Stiawan Z.S., Juperta Panji
Utama, Udo Z. Karzi, Alexander GB, Syaiful Irba Tanpaka, Syarifuddin
Arifin, Murdoks, Alya Salaisha, Setia Cipta, Sosiawan Leak, dan
lain-lain. Tentu ini menjadi kabar baik dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara kita dewasa ini yang saban hari marak dengan
tumpah-ruahnya berita kriminal, sengketa anggota Dewan, penguasa dan
politikus yang tersangkut kasus korupsi. Keberpihakan Penyair
Keberpihakan penyair sesungguhnya bukan hal yang baru. Seperti Rendra
dalam beberapa sajaknya yang mengkritisi nasib bangsa ini, jika penyair
yang lebih suka asyik-masyuk dalam kelimun pikiran dan perasaannya
sendiri, seperti halnya pada banyak lagu Iwan Fals yang juga banyak
mengkritisi situasi sosial-politik kita. Puisi Menolak Korupsi
harus juga diikuti dengan gerakan konkret lainnya, sehingga tidak
sekadar acara seremonial, sekadar jargon, yang sok antikorupsi, yang sok
peduli dengan nasib rakyat, tapi memang benar-benar keluar dari lubuk
hati yang paling dalam. Kepedulian pada nasib bangsa yang kian
karut-marut ini. Meski acara ini digelar di mal, semoga gaya
hidup hedonis tidak turut menyertai penyair-penyair dan masyarakatnya.
Kerap kita juga harus mencermati dan jika perlu mengkritisi para penyair
yang lebih akrab dengan mal, hotel, anggur, rembulan, dan kafe daripada
terlibat langsung dalam gerakan mencerdaskan kehidupan bangsa atau
penanaman nilai kejujuran, kreativitas, kepedulian terhadap sesama,
memerangi korupsi yang menjadi penyebab utama keterpurukan bangsa kita
akhir-akhir ini. * Alexander GB (Sastrawan) Sumber: Facebook Udo Z Karzi.
KOMPAS.com
- Rakyat mengungkapkan rasa jijik mereka atas menggilanya kejahatan
korupsi lewat mural di tembok-tembok kota. Di ruang pamer, perupa
”berperang” melawan korupsi dengan menampilkan sosok celeng, alias babi
hutan, sebagai metafora keserakahan para pengisap harta rakyat.
"Ya
Tuhan, Semoga Ayah Ibuku Tidak Korupsi...”, itulah harapan dan doa
warga yang tertulis pada pilar beton penyangga jembatan layang yang
melintas di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Di samping tulisan itu
tergambar seorang ibu berdoa dengan tangan menengadah.
Di tiang
penyangga lain, masih di kolong jembatan layang yang sama, ada mural
atau lukisan dinding bergambar perempuan dengan air mata menitik
bertuliskan, ”Aku Tak Sudi Bersuamikan Koruptor...”.
Gambar itu
terbuat dari kertas berwarna putih dan ditempelkan di dinding beton.
Kondisinya usang dan berimpit dengan gambar-gambar lain. Namun, mural
ini tampak cukup menohok mata. Kata-katanya tertulis dengan huruf
berwarna merah tegas.
Mural-mural di kolong jembatan layang itu
terletak sekitar 300 meter dari gerbang Gedung Dewan Perwakilan Rakyat
Republik Indonesia yang berpagar besi menjulang. Kolong jembatan itu
menjadi tempat berteduh warga pejalan kaki atau pengendara motor kala
hujan turun.
Kita simak mural lain di tembok jembatan layang
arteri Permata Hijau, Jakarta Selatan. Di sana, ada mural bergambar
wajah dengan ujung jari telunjuk yang ditempel di depan bibir. Wajah itu
seakan memberi isyarat peringatan. Lalu ada tulisan, ”Ssstt...
Ingat...!!! Masih Ada Korupsi...”.
Cobalah tengok ke terowongan
Cawang, Jakarta Timur. Pada dinding kiri ujung terowongan yang mengarah
ke Cililitan terpampang mural yang menggambarkan meja makan. Di atasnya
ada mangkuk berisi buah-buahan dan gelas minum. Meja itu dikitari
sosok berdasi berkepala setan, tikus, babi, dan celeng. Pada sudut
kanan bawahnya terbaca pesan, ”Hati-hati dalam Memilih”.
Lawan
Begitulah
mural-mural bertebaran di sudut-sudut kota Jakarta dengan muatan
ekspresi yang hampir sama, yaitu melawan korupsi! Tak mudah melawan
korupsi dengan cara mural. Komunitas Street Serrum yang cukup gencar
berperang melawan korupsi dengan senjata mural harus pintar-pintar
bermain kucing-kucingan dengan polisi atau petugas dari kelurahan.
Komunitas
Serrum lahir tahun 2006 sebagai wadah para mahasiswa bereksplorasi
dengan menjajal berbagai medium karya seni rupa. Arief ”Arman” Rachman
(32), salah satu pegiatnya, menuturkan, nama ”Serrum” sebenarnya
pelesetan dari bahasa Inggris, share room, yang bermakna berbagi ruang.
Dalam hal ini berbagi ruang penyampai unek-unek rakyat.
Namun,
tidak mudah berbagi ruang dengan pihak yang mungkin mendukung korupsi.
Nyatanya, banyak mural antikorupsi kerap berumur pendek. Bahkan, banyak
yang hanya berumur jam-jaman. Para pegiat street art sudah hafal, ada
daerah-daerah keramat untuk mural dan grafiti. Underpass Dukuh Atas itu
salah satu tempat paling ”keramat”, grafiti atau mural apa pun
biasanya akan dibersihkan dalam satu-dua hari.
MG Pringgotono
(32) alias MG, anggota Serrum, hafal jenis mural, grafiti, atau poster
”keramat” yang tak bakal berumur panjang. Tiap kali membuat mural,
grafiti, dan poster antikorupsi yang menyebut nama tokoh, misalnya
seorang terpidana korupsi, pasti karya itu bakal lenyap dalam hitungan
jam.
”Jadi, ada lokasi ’angker’, yang pasti membersihkan grafiti,
mural, atau poster apa pun dalam hitungan hari. Dan, selalu ada isu
’keramat’ yang selalu dibersihkan entah oleh siapa dalam hitungan hari,
bahkan jam,” kata MG.
Namun, mereka tidak pernah jeri dan terus
bergerilya melakukan ”perang kota”. ”Kami memilih melakukan pendidikan
publik di ruang publik, lewat propaganda publik,” ujar MG.
Perang celeng
Bendera
perang terhadap korupsi juga dikibarkan oleh pelukis Aris Budiono
Sadjad dengan menggelar pameran bertajuk ”Perang Suci Melawan Korupsi”,
14-23 Maret 2013, di Bentara Budaya Jakarta (BBJ). Pameran yang
menggelar 23 lukisan ini dibuka oleh Direktur Pendidikan dan Pelayanan
Masyarakat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Dedi A Rachim, Kamis
(14/3).
Aris geram melihat perilaku para koruptor yang tidak
menampakkan penyesalan. Karena itu, ia menggunakan celeng sebagai
metafor kerakusan dan kebebalan. ”Kalau tikus itu mudah dikalahkan dan
penakut, nah kalau celeng, tetap merasa gagah walau korupsi,” kata Aris.
Dalam
lukisan ”Empat Cakil Rakyat”, Aris menggambar empat butha cakil
(raksasa kecil yang rakus) sedang menunggang empat ekor celeng. Keempat
celeng bertaring panjang dengan mata mendelik dan mulut merah. Jelas
sekali ciri-ciri sebagai ”hama” yang rakus itu siap memangsa apa saja.
Di
lukisan lain dengan penuh ironi Aris melukis ”Corruptor Family
Gathering”. Di kanvas tampak sejumlah kalangan sedang berpesta pora,
bersenang-senang, berenang, main musik, dan segala aktivitas hiburan
lainnya. Hal yang aneh, seluruh pelaku pesta pora itu berwajah celeng.
Begitulah, kata Aris, sifat celeng. ”Selalu gagah, tak pernah takut,
malah diperlakukan seperti selebritas. Semua itu, kan, kini terjadi di
hadapan kita?” kata Aris.
Kita kini seolah hidup di negeri penuh
koruptor. Pemutarbalikan fakta jadi hal biasa, perasaan tidak bersalah
jadi pemandangan sehari-hari. ”Dan itu memuakkan sekali, sudah
seharusnya dilawan,” kata Aris.
KPK merasa mendapat kawan dalam
berperang melawan para ”celeng” pemangsa harta rakyat. ”Ibaratnya kami
sedang berperang sendirian di tengah gurun pasir, dan tiba-tiba ada
sumber air. Ini menyejukkan kami. Ternyata, KPK punya teman-teman
seniman,” kata Dedi dalam pembukaan pameran di BBJ.
Provokasi kesadaran batin
Seniman
yang beraksi dengan mural dan grafiti di tembok-tembok kota tentunya
juga kawan- kawan KPK. Budayawan Mudji Sutrisno SJ menyebut seniman
seperti mereka sebagai penjaga kehidupan yang tetap mau menjaga
kelangsungan hidup bermartabat.
Apakah suara rakyat yang terucap di tembok-tembok kota itu didengar orang?
”Kentungan
harus dipukul terus untuk mengingatkan jaga malam saat waktu jaga,
atau bahaya-bahaya, maling, kebakaran yang akan menghancurkan
masyarakat. Anjing harus terus menggonggong lantaran proses membaca
tulisan-tulisan di mural yang antikorupsi masih tetap menemukan
bacaannya untuk kita,” kata Mudji.
Mudji melihat suara-suara di
tembok kota tetap diperlukan. Yang berbahaya adalah kalau apatisme dan
kebisuan, cuek, tidak acuh sudah menjadi sikap lalu tidak ada sama
sekali reaksi atau tulisan-tulisan mural lagi. Bila sampai tahap ini,
demokrasi dan hidup bersama berada dalam lampu merah. ”Selama seniman
nurani masih terus nulis tajam dan kritis antikorupsi di mural-mural,
itu berarti masih ada dinamika hidup di masyarakat kita,” kata Mudji.
Bagaimanapun,
suara rakyat di tembok-tembok kota atau di ruang pameran akan tetap
mempunyai makna di tengah kehidupan negeri ini saat ini. Kritikus seni
rupa Suwarno Wisetrotomo dalam katalog pameran ”Perang Suci Melawan
Korupsi” mengingatkan bahwa karya seni memiliki fungsi untuk
memprovokasi kesadaran dan batin.
Dosen Fakultas Seni Rupa dan
Desain ISI Yogyakarta itu menandaskan, ”Karya seni melatih kepekaan dan
sikap kritis terhadap segala ketidakadilan atau kezaliman yang menimpa
manusia, kemanusiaan, serta kehidupan.”
Panas mentari pukul 12.00 wita dari Pusat
Gelar Budaya Kota Banjarbaru (Rabu, 14/5) rombongan penyair nasional
bersama sahabat sastra kota Banjarmasin dan Banjarbaru merayap perlahan
menuju satu arah - Road Show XIX Puisi Menolak Korupsi
di Kota Bumi Kuripan Amuntai. Penyair yang datang dari seberang pulau
antara lain Sosiawan Leak (Surakarta), Wage Teguh Wijono (Purwokerto),
Bambang Eka Prasetya (Magelang) dan Surya Hardy (Pekanbaru) serta Maria
Roesli (Samarinda) beserta penyair Kalimantan Selatan lainnya. Kami
sempat singgah di Binuang untuk mengisi perut dengan kuliner sederhana
seperti nasi lalapan, pepesan ikan, dan sop kikil dengan sedikit tragedi
- yaitu mobil yang ditumpangi penyair nasional mogok. Maka, ramailah
semua penumpang turun untuk mendorong dan ternyata setelah diperiksa
cuma karena kabel accu yang longgar. Persis di Kecamatan Amuntai Tengah -
tepatnya di desa Muara Tapus kami singgah untuk mengabadikan suasana
daerah rawa yang memiliki pemandangan cukup indah. Ada luas rawa yang
membelah kota Amuntai dengan deretan rumah panggung penduduk serta
kuliner khas pepesan telur ikan puyau yang masing hangat di atas
panggangan tempurung kelapa. Kami pun menikmati suasana ini.
Diskusi Sastra Menjelang Senja
Sore pukul 17.00 wita rombongan 4 buah
mobil sebanyak 30 penyair tiba di Bumi Kuripan Amuntai beserta barisan
sepeda motor sebanyak 5 penyair memasuki penginapan sekaligus tempat
digelar diskusi sastra dalam pendopo pananggak banua Pemda Kabupaten
Hulu Sungai Utara. Silaturahim dengan saling memperkenalkan diri antara
penyair pun dimulai sekaligus saling menyampaikan pandangan pribadi
tentang integritas gerakan Puisi Menolak Korupsi - dan bersahutanlah
harapan dan keinginan dalam upaya pemberantasan korupsi yang saat ini
merajalela dan satu demi satu pejabat negara dibebaskan dari bangku
kekuasaan karena parigal memalukan tersebut. Semua itu tergambar jelas
dalam larik puisi yang termuat dalam buku antologi PMK jilid 1 dan 2.a/b
karya penyair Indonesia serta PMK jilid 3 sebagai karya pelajar
Indonesia. Penyair Arsyad Indradi, Iberamsyah Amandit, Raji Leonada, Ali
Syamsuddin Arsy, dan He Benyamine merupakan sebagian penyair Kalimantan
Selatan yang konsisten dalam mengawal gerakan PMK tanpa batas waktu.
Senja itu, diskusi sastra diakhir dengan salam dan ucapan terima kasih
dari penyelenggara acara Dewan Kesenian HSU dengan Hendra Royadi selaku
penggagas sastra PMK sebagai motorisnya.
Panggung PMK XIX di Pelataran Tugu Itik
Lantunan surah Al Alaq - Iqra Bismi
Rabbikal Ladzi Khalaq - mengawali acara dipanggung Road Show XIX PMK di
pelataran Tugu Itik siring Sungai Nagara. Iqra membuat semua terkesima
karena bermakna bukan saja perintah membaca dan menulis - melainkan
mencerna dengan akal, menganalisa, mendalami, merenungkan, menyampaikan,
meneliti dan lain sebagainya sebagai wujud dari gerakan PMK menebar
rasa larik puisi bagi ketinggian derajat manusia. Puisi pun mulai
diperdengarkan, musikalisasi puisi karya Iberamsyah Barbary berjudul
Curhat Kepada Tuhan disenandungkan oleh Sanggar Air Amuntai pimpinan
Hendra Royadi sekaligus vokalis. Perpaduan alat musik tradisional
sepertu kuriding, guitar, gendang, dan gamelan serta backing vokal dari
pelajar puteri kota Amuntai yang berbusana putih. Suasana islami sangat
kental memulai pargelaran acara akbar ini sebagaimana disampaikan oleh
Bupati Kepala Daerah HSU dalam kata sambutan tertulis yang dibacakan
Ketua Dewan Kesenian HSU yaitu Harun Al Rasyid yang mendukung gerakan
PMK serta menginginkan masyarakat Amuntai yang religiusitas dapat
memberikan kontribusi dalam upaya pemberantasan korupsi melalui kegiatan
berkesenian, khususnya puisi sebagai gerakan moral. Gong tanda bergema
di Bumi Kuripan pun bersahutan - Dra. Hj. Anisah Rasyidah Wahid, MAP
sebagai isteri Bupati tampil pertama di panggung Road Show PMK XIX
dengan suara yang lantang dan penuh semangat membacakan puisi karya
Fahruraji Asmuni yang bertutur tentang negeri baldatun thoyibatun
warrabun ghofur - masyarakat yang memenuhi pelataran Tugu Itik pun
bangga dan bersorak menandai larik demi larik puisi bagai sebuah tekad
dan semangat semua warga untuk segera memberantas korupsi, hari ini
hingga masa depan kelak. Ada tiga komunitas sastra yang menyajikan
teaterikal puisi, seperti Teater Pahajatan dari SMA Negeri 2 Paringin
dengan tema tradisional dayak Meratus dalam membacakan puisi karya
Sosiawan Leak, kemudian Sanggar Buluh Marindu dari kota Barabai yang
dipimpin penyair muda berbakat Rezqie Muhammad AlFajar dengan sensasi
mistis balian suku dayak membacakan puisi berjudul ‘Negeri Tikus’ karya
Arsyad Indradi. Mereka bergerak tak beraturan menarikan ritme cepat
dengan property asap dupa dan lambaian daun nyiur kuning sebagai
pertanda kemurkaan pada tikus-tikus koruptor yang berada di negeri ini.
Sementara, Teater Benteng Tundakan dari pelajar SMA Negeri 1 Awayan
dibimbing sastrawan teaterikal Imam Buhkori dan Fahmi Wahid dengan tema
kerusakan hutan yang diakibatkan tangan industri dan penggali sumber
daya alam. Sebuah tindakan korupsi yang memiliki dampak sangat luas dan
tak berbatas waktu - hutan yang disimbolkan dalam derap teater ini
dibabat habis hingga tak tersisa sedikitpun bagi petani hingga muncul
unsur masyarakat dan pemerintah secara sinergis menantang dan
menghancurkan perusak alam tersebut. Dan, sebagaimana lazimnya sebuah
gelar baca puisi - maka secara bergantian penyair yang tergabung dalam
antologi PMK tampil di panggung Road Show PMK XIX Amuntai dengan segala
gaya dan vokal untuk menyuarakan tekad - Satu Hati Tolak Korupsi.
Salam dan doa kuat, sahabat PMK di Indonesia.
Kita jumpa lagi di Road Show Puisi Menolak Korupsi akan datang.
Dengan judul asli (sebelum dikirim ke SM) ORANG KAYA BELI APA?
Oleh: Wardjito Soeharso
Kalau anda jadi orang kaya, anda ingin beli apa? Saya yakin
anda pasti ingin beli rumah mewah, mobil mewah, tanah yang luas, emas berlian
permata mutu manikam, dan seabreg
barang mewah dan mahal lainnya. Mengapa anda ingin membeli semua barang-barang
itu? Jawabnya sederhana: karena anda punya uang. Dengan uang anda bisa
memperoleh segalanya. Dengan uang dunia seisinya ini bisa anda beli.
Jadilah hidup kita ini sangat konsumtif. Gatal rasanya
tangan kalau sudah pegang uang. Sementara rayuan iklan juga begitu merangsang
selera. Di rumah, televisi membombardir keluarga dengan iklan 24 jam penuh.
Begitu kita keluar rumah, di sepanjang jalan kita juga disodori pemandangan
yang sama: iklan, yang merayu kita untuk membeli, membeli, dan terus membeli.
Hidup kita sudah dikepung dengan rayuan iklan yang sangat massif, di mana pun
dan kapan pun kita berada.
Bahkan, telepon seluler (handphone) kita juga sudah bukan barang privat lagi.
Nomor kita sudah diperjualbelikan oleh provider. Hampir setiap saat masuk short message service (sms) yang berisi
segala macam penawaran produk, dari obat kuat sampai pinjaman tanpa jaminan
dengan nominal ratusan juta hingga milyaran rupiah.
Martabat dan wibawa orang sekarang dilihat dari materi yang
dimiliki. Gaya hidup mewah sudah menjadi wabah. Orang berlomba mengejar yang
serba “wah” untuk mendapatkan sanjungan dan kehormatan. Untuk itu semua, orang
rela berbuat apa saja. Boleh jadi, itulah alasan banyak orang lalu memburu uang
dengan berbagai cara, termasuk cara illegal sekalipun, seperti mencuri,
merampok, atau korupsi.Yang penting
uang didapat, dan dengan uang itu orang bisa memanjakan nafsu membeli
sepuas-puasnya.
Ya, nafsu membeli memang sudah melilit kita semua. Apalagi
punya uang, lha wong tidak punya uang
saja orang tetap ingin memanjakan nafsu membeli. Lihat saja, perusahaan leasing terus saja gila-gilaan merayu
orang untuk membeli barang dengan fasilitas kredit yang sangat mudah. Beli
rumah, mobil, motor, televisi, sampai handphone, bisa dilakukan dengan cara
kredit dengan jangka waktu angsur yang panjang. Orang jadi tidak berpikir logis
tentang bunga yang tinggi mencekik, yang penting barang bisa dibawa pulang.
Soal angsuran berbunga tinggi? Ah, kumaha
engke wae!
Dari berbagai kasus korupsi yang sudah berhasil diungkap, ternyata
para koruptor itu juga memiliki nafsu membeli yang luar biasa. Dari uang hasil
korupsi, mereka membeli rumah mewah, mobil mewah, tanah yang luas, dan
barang-barang mewah lainnya. Ini membuktikan bahwa para koruptor juga sangat
memanjakan nafsu membeli. Bukan sekedar barang yang mereka beli, bahkan
cewek-cewek cantik juga mereka koleksi. Gaya hidup mereka benar-benar membuat
kita tercengang. Mereka tidak peduli, walau profil profesijadi tidak sesuai dengan gaya hidup. Aparatur
Negara dengan gaji kecil kok bisa hidup dengan mewah berkelimpahan. Toh, tidak
ada yang mempersoalkannya.
Nah, dari nafsu membeli itu mestinya negara bisa melacak
tindak kejahatan, termasuk korupsi. Selama ini, yang dipakai alat penelusur
hanya aliran dana bank melalui rekening dan transaksinya. Dari laporanPusat Pelaporan dan Analisis Transaksi
Keuangan (PPATK) yang memantau pergerakan aliran dana dari rekening bank, para
koruptor itu akhirnya jatuh terjegal, dan terperangkap dalam jerat hukum.
Mestinya, negara bisa memantau atau menyelidiki transaksi
pembelian dengan besaran tertentu. Misalnya, transaksi pembelian 100 juta ke
atas harus dilaporkan ke negara.Jadi,
siapa pun yang melakukan transaksi pembelian barang atau jasa bernilai 100 juta
ke atas, pihak penjual wajib meminta, mencatat identitas pembeli, dan
melaporkan transaksi pembelian itu kepada negara. Maka, kalau ada Pejabat
Negara dan Pegawai Negeri mampu membeli rumah, mobil, tanah,berharga ratusan juta rupiah, misalnya, akan
masuk dalam laporan transaksi pembelian. Walaupun pembelian dilakukan secara
kredit, laporan transaksi pembelian itu harus tetap ada, lengkap dengan model,
besaran, dan jangka waktu angsuran. Dari sanabisa dilihat profil statusnya sebagai Pejabat Negara dan Pegawai Negeri
dengan golongan pangkat dan jabatan apa, wajar atau tidak yang bersangkutan
mampu membeli barang-barang seharga sekian, dengan besaran cicilan sekian per
bulan, dst.
Kalau sistem seperti ini bisa dipakai, negara akan mudah
melacak siapa saja yang membelanjakan uangnya dalam jumlah besar. Tinggal
mencocokkan saja, apakah penghasilan si pembeli mendukung kemampuan daya
belinya? Kalau memang iya, tidak masalah, tapi kalau tidak, perlu dipersoalkan
dari mana si pembeli mendapatkan uangnya.
Dengan pemberlakuan sistem ini, setiap gerak orang kaya
tidak lepas dari pengamatan negara. Bagaimana mereka memperoleh uang dan
bagaimana mereka membelanjakan uang, diketahui oleh negara. Bila mereka memang
jujur dalam memperoleh dan membelanjakan uang, tentunya mereka juga tidak akan mempersoalkan.
Saya bukan ahli ekonomi, jadi tidak tahu bagaimana mekanisme
untuk menjalankan sistem seperti ini. Tapi saya berkeyakinan, where there is a will, there is a way, di
mana ada kemauan, pasti ada jalan. Kalau negara mau, pasti bisa. Ini bisa jadi
salah satu alternatif untuk mengurangi korupsi. Fakta membuktikan, setiap
koruptor tertangkap, dalam penyidikan lanjut, selalu diikuti tindak pidana
pencucian uang (money laundering).
Mereka membelanjakan uang hasil korupsi untuk menyembunyikan hartanya. Siapa
tahu, dengan cara ini, negara jadi lebih mudah melacak dan menangkap pelaku
korupsi. Nyatanya, dengan sistem yang ada sekarang ini, pemberantasan korupsi
masih saja tertatih-tatih.
Artikel ini akan dipakai sebagai Bahan Diskusi dalam Road Show Puisi Menolak Korupsi XVII di
Tegal, Sabtu, 29 Maret 2014. Penulis adalah Widyaiswara pada Badan Diklat
Prov. Jateng, Penyair, Pegiat Komunitas Penulismuda Indonesia, dan tinggal di
Semarang, Jawa Tengah.
Korupsi telah membudaya di Indonesia. Tidak sulit menemukan
‘tikus-tikus berdasi atau berlipstik’. Nyaris seluruh sistem sosial
budaya menjadi sarang mereka. Kita memiliki Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK), tetapi impian mewujudkan Indonesia bebas korupsi takkan
terlaksana tanpa peran aktif masyarakat. Membenahi self-concept (konsep diri) kolektif merupakan salah satu cara efektif untuk memberantas korupsi.
Menelusuri Jejak Korupsi
Fenomena sosial dapat kita telaah memalui self-concept yang menjadi tradisi dalam masyarakat. Self-concept
adalah pikiran dan keyakinan seseorang mengenai dirinya sendiri [...]
William D. Brooks mendefinisikan konsep diri sebagai “persepsi yang
bersifat fisik, sosial, dan psikologis, mengenai diri kita, yang didapat
dari pengalaman dan interaksi kita dengan orang lain” (Armando, 2006).
Di lain sisi, korupsi dapat kita maknai sebagai praktik-praktik
manipulasi (penyimpangan) kekuasaan untuk mencapai keuntungan ekonomi
yang menimbulkan kerugian orang lain (negara) telah menjadi bagian self-concept negatif di Indonesia.
Korelasi antara self-concept dan korupsi bisa kita telaah dari
fenomena sosial pada masa berdirinya kerajaan di Nusantara dan
keberadaan pemerintah kolonial. Sinergi kedua kuasa ini melahirkan
penindasan keji dengan menciptakan dogma dan doktrin guna membentuk self-concept
negatif masyarakat. Hal ini dapat kita jumpai dalam
penyimpangan-penyimpangan filosofi dari khasanah kearifan lokal Jawa,
antara lain:
Pertama, ‘mangan ora mangan, ngumpul’ (makan tidak makan tetap
berkumpul). Makan bisa kita asumsikan sebagai representasi dari
representasi dari nafkah. Secara kontekstual, ‘Makan kita berkumpul’,
tapi ‘Apakah kita tetap berkumpul dalam keadaan tidak makan?’. Filosofi
ini telah tertanam ke dalam self-concept masyarakat Jawa dan
diyakini hingga sekarang. Filosofi ini mendorong kita menjadi ‘lamban’,
tidak inovatif, cepat puas dengan kemajuan sesaat, dan termotivasi untuk
mencapai kemajuan-kemajuan yang bersifat instan. Pada konteks kelas
sosial menengah ke atas, korupsi terlihat dari pada praktik yang
dilakukan kaum bangsawan/kerajaan yang bekerjasama dengan pemerintah
kolonial Belanda dalam tanam paksa. Sedangkan pada kelas sosial menengah
ke bawah terdapat pada praktik ‘perdagangan manusia’ yang dilakukan
aparat desa ataupun keluarga pada masa pendudukan kolonial Belanda. Di
mana rakyat jelata yang buta huruf dan lugu, ditipu untuk ditempatkan
bekerja di daerah tambang atau perkebunan milik pemerintah kolonial.
Kedua, ‘manunggal kawula gusti’ (patuh pada pimpinan). Patuh pada
pimpinan memang sebuah keharusan untuk membentuk tatanan sosial yang
harmoni. Tapi bagaimana dengan pemimpin yang menyalahgunakan kekuasaan?
Ketika pimpinan (gusti) melakukan tindakan korupsi, rakyat yang dipimpin
tidak memiliki hak untuk mengkritisi. Praktik ini telah menjamur dari
masa pendudukan kolonial hingga sekarang.
Ketiga, ‘rame ing gawe, sepi ing pamrih’ (ramai bekerja/berkarya, sepi
dalam pamrih). Secara kontekstual, semua pekerjaan pasti memiliki
pamrih. Sebab, pamrih tidak semata imbalan ‘pujian’ atau ‘materi’, tapi
juga berarti ‘harapan’ atau pahala dari Tuhan. Harapan merupakan pamrih
yang bersifat positif. Misalnya, seorang individu melakukan inovasi
dengan harapan hasil inovasi berguna bagi masyarakat. Individu yang
tidak memiliki pamrih sama sekali merupakan individu yang ‘tidak utuh’
dan tidak memiliki kesadaran eksistensial. Sehingga, individu ini mudah
dimanipulasi/ditindas/dijajah.
Semestinya, ketiga filosofi di atas berpijak pada ajaran ‘tauhid’
(religiositas/ketuhanan), bukan ditujukan untuk ‘mendewakan’ penguasa
atau pihak otoritatif. Dengan interpretasi; Pertama, ‘mangan
ora mangan, ngumpul’. Kita tetap menunaikan ibadah dan patuh pada
kebenaran universal meskipun dalam keadaan tidak makan. Kedua,
‘manunggal kawula gusti’. Kita patuh pada pimpinan yang adil. Pemimpin
yang tidak adil wajib kita kritisi (nasihati atau dilengserkan), bukan
mematuhi (mempertahankan) pemimpin yang merepresi (tidak adil). Ketiga,
‘rame ing gawe, sepi ing pamrih’ (ramai bekerja/berkarya, sepi dalam
pamrih). Sebagai bangsa Indonesia, kita harus rajin bekerja dan gemar
berinovasi dengan ‘pamrih’ pahala dari Tuhan/Pencipta dan harapan
mewujudkan kemakmuran yang berkeadilan. Dengan demikian, kita bisa
membangun self-concept positif, melenjitkan kreativitas,
meningkatkan kualitas pribadi, mampu memenuhi kebutuhan pribadi
(golongan) dengan kerja/karya nyata, dan mencapai tujuan yang
konstruktif tanpa menempuh jalan instan (korupsi).
Tentunya, kita tidak adil bila menyalahkan interpretasi/aplikasi
konvensional yang keliru itu. Sebab, dalam sejarah Jawa, pemerintah
kolonial memiliki peran besar dalam rekontruksi kearifan lokal ke arah
negatif. Ini sebuah metode ‘komunikasi antarbudaya’ atau ‘ilmu
antropologi’ yang sangat keji melalui program pendidikan Politik Etis.
Pemerintah kolonial menggunakan ilmu pengetahuan untuk menciptakan self-concept negatif yang bermuatan learned helplessness (ketidakberdayaan yang dipelajari) dan ditransformasikan melalui pendidikan. Budaya ini bertransformasi ke dalam self-concept kolektif dan mendidik rakyat jajahan (kita) menjadi tidak berdaya.
Rekontruksi Tradisi
Dalam mengatasi korupsi, semestinya kita tidak terfokus pada program
yang dicanangkan KPK. Melainkan, kita harus merekontruksi tradisi yang
ada. Salah satu jalan yang harus kita tempuh adalah memajukan ‘budaya
literasi’.
Budaya literasi bisa kita asumsikan sebagai tradisi membaca dan menulis.
Pada zona empiris, budaya literasi berkorelasi erat dengan
apresiasi/inovasi bahasa, kritik ideologi, sastra, dan filsafat. Proses
membaca dan menulis akan menuntun kita untuk mengurai tesis yang
tersimpan dalam peta kognitif. Semakin sempurna dengan mendiskusikan
serta bentuk apresiasi-apresiasi lainnya.
Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan, budaya literasi-lah yang
mengantarkan Negara Kesatuan Republik Indonesia ke gerbang kemerdekaan.
Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan para Pendiri Bangsa Indonesia,
adalah pribadi-pribadi yang menjadikan budaya literasi sebagai self-concept dalam perjuangan. Dengan budaya tulis dan baca; pembentukan solidaritas, ideologi, dan Nasionalisme bisa diwujudkan.
Sayangnya, pascakemerdekaan, budaya literasi diamputasi dari kurikulum
pendidikan. Hal ini yang dikritik Taufiq Ismail dalam pidatonya bertajuk
Tragedi Nol Buku, Tragedi Kita Bersama yang disampaikan dalam pidato
kunci pada Rakerpus IPI (Ikatan Pustakawan Indonesia), 31 Mei – 3 Juni
2005 di Pekan Baru. Dari 13 negara (termasuk Hindia Belanda Yogyakarta
1939-1942 dan Hindia Belanda Malang 1929-1932), tradisi literasi
(diidentifikasi melalui jumlah buku sastra yang dibaca), era Indonesia
1943-2005 terdapat ‘nol’ judul. Buku yang menjadi jendela dunia tidak
dianggap penting. Tak mengherankan, kita memiliki self-concept
negatif. Meski hidup di negara merdeka; kelaparan, buta aksara,
kemiskinan, kebodohan, dan penyalahgunaan kekuasaan masih menjamur di
Tanah Air. Kita terjajah secara pemikiran!
Segenap elemen masyarakat harus bersatu dalam memajukan budaya literasi.
Buta aksara harus kita berantas. Perpustakaan dibangun sebagai ruang
publik dalam rekontruksi tradisi. Kita bisa menyerap ilmu pengetahuan
tanpa harus menjalani pendidikan formal. Masyarakat kita menjadi
pembelajar. Dengan terpelajar, kita akan memiliki bekal ilmu dalam
mewujudkan legenda pribadi, ekonomi mandiri, dan meningkatkan iklim
kondusif demokrasi.
Dapat kita simpulkan, tanpa self-concept positif, semua orang
memiliki potensi yang sama besar menjadi tikus berdasi atau berlipstik.
Budaya literasi merupakan jalan yang dapat kita tempuh dalam
merekontruksi self-concept negatif (berupa korupsi). Dengan memiliki self-concept positif; kita bisa berkarya, berinovasi, mewujudkan ekonomi mandiri, bebas finansial, dan terciptalah civil society. Semoga!
Referensi: Armando, Nina M. (2006). Psikologi Komunikasi. Universitas Terbuka: Jakarta.
Pada acara diskusi dan pembacaan puisi Banten Menolak Korupsi di Rumah
Dunia, (18/01) Dahnil Anzar salah satu pembicara dalam acara tersebut
mengatakan, selama ini jika memandang korupsi adalah urusan partai
politik, urusan pemerintah itu salah besar. Korupsi adalah masalah kita
bersama, masalah orang yang hidup di dunia ini. Lebih fatal lagi kata
Dahnil, dosen Untirta yang mengajar ilmu ekonomi ini, jika menganggap
korupsi adalah musibah atau cobaan.
Sungguh, negara kita
sedang diuji banyak masalah yang menakutkan dan mengancam, dimuali dari
banjir yang hampir dua minggu menenggelamkan Kota Jakarta dan
sekitarnya, selain itu disusul banjir Bandang di Kota Manado yang
menelan 16 korban. Tidak itu saja, gunung Sinabung di Sumatra ikut
meletus, akan tetapi dari banyaknya kasus yang menimpa negara ini, kasus
korupsi menjadi kasus yang lebih menakutkan dan mendapatkan lebih
banyak sorotan media. Ya, kasus korupsi di negara ini semakin merajalela. Untuk itu, para penyair dari pelosok Indonesia yang puisinya
tergabung dalam buku antologi “Puisi Menolak Korupsi Jilid ke-2” hadir
di Rumah Dunia untuk membacakan puisi-puisinya.
Menurut
Sosiawan Leak dalam sambutannya, terbitnya buku antologi menolak korupsi
jilid ke-2 ini bentuk sumbangsih para penyair dalam menyikapi korupsi
di Indonesia. Harus diingat, "Para penyair yang seharusnya mendapatkan
bayaran setelah menulis, akan tetapi sebaliknya penyair yang karyanya
dinyatakan lolos seleksi dalam buku ini diminta membayar Rp 150 ribu
untuk biaya percetakan buku. Selain itu, para penyair dari pelosok
Indonesia; Kalimantan, Bekasi, Bandung dan sebagainya, yang malam ini
hadir atas biaya pribadi. Ini bisa kita tandai bahwa begitu besarnya
hasrat penyair untuk melawan korupsi".
Acara yang dimulai pada
pukul 20:00 WIB, menghadirkan diskusi dengan narasumber Dahnil Anzar,
Ahmadun Yossy Herfanda, sastrawan Indonesia dan Feri Patiro dari
Cilegon. Tak terduga sebelumnya, acara ini banyak menarik warga sekitar
dan masyarakat kampus untuk hadir mengikuti. Ruangan gedung Surosowan
Rumah Dunia berkapasitas 75 orang itu terasa sesak dan padat. Bahkan
beberapa peserta tidak bisa masuk lantaran penuhnya isi ruangan. Saya
meyakini, banyaknya masyarakat datang diacara Banten Menolak Korupsi ini
salah satunya didasarkan pada alasan panggilan nurani yang menginginkan
negara ini bersih dari korupsi, terutama di Banten yang begitu akut
dengan kasus korupsi.
Tetapi dalam hati kecil saya bertanya,
pentingkah acara diskusi dan pembacaan puisi menolak korupsi itu
diadakan di Banten, entahlah? Sambil duduk di antara kerumunan orang
yang mengikuti diskusi dan mendengarkan pembacaan puisi dari para
penyair Indonesia dengan bahasa menggebu-gebu, santai dan satir para
hadirin saya melihat menikmati sambil tertawa-tawa nyinyir.
Foto -
Penyair PMK sedang menonton pameran foto "71,5 KM dari Jakarta"
Dosen ekonomi Untirta yang tambun tapi ganteng, Dahnil Anzar dengan jernih memaparkan rumus korupsi di Banten di acara "Banten Menolak Korupsi", rangkaian dari road show "Puisi Menolak Korupsi" yang digagas Leak Sosiawan, di Taman Budaya Rumah Dunia.
"Rumus korupsi menurut pandangan saya sebagai dosen ekonomi adalah; monopoli + diskresi (policy) - Transparancy (accountable).
Banyak pelaku koruptor yang membela diri dengan mengatakan pada media bahwa kasus mereka dipolitisasi, sebuah konspirasi untuk menjatuhkan, dan yang lebih ironis mereka mengatakan bahwa korupsi itu sebuah musibah dari Allah."
Korupsi di Indonesia jika diibaratkan seperti penyakit sudah mencapai
stadium empat. Apalagi di berbagai daerah seperti Banten, perkara
korupsi sungguh benar-benar sudah kronis. Hal itu bisa ditinjau melalui
kasus korupsi para pemimpinnya yang saat ini panas diberitakan oleh
berbagai media. Ironisnya, justru masyarakatlah yang harus menanggung
bebannya. Namun korupsi sulit pula dihentikan karena sudah sangat
menggurita. Maka dari itu, Rumah Dunia sebagai sebuah komunitas nirlaba
di Kampung Ciloang, Serang, menyelenggarakan diskusi dengan tajuk,
"Banten Menolak Korupsi", pada Sabtu (18/1).
Pada kesempatan
itu, Ahmadun Yossy Herfanda (AYH) prosais yang juga penulis buku Puisi
Menolak Korupsi (PMK), dosen Untirta, Dahnil Anzar dan Feri Patiro
(Pusat Informasi Regional) ditunjuk sebagai pembicaranya. Mereka
menyampaikan beberapa argumennya menyangkut korupsi yang tengah melanda
pemerintahan di Banten. Dahnil Anzar mengawali diskusi dengan mengatakan
bahwa korupsi itu dapat mengancurkan seluruh sendi-sendi kehidupan
masyarakat. "Korupsi membuat rakyat miskin, korupsi membuat anak-anak
tidak mampu sekolah," ujar Dahnil dalam pemaparannya.
Sementara
itu, AYH mengatakan, harus tetap semangat menulis puisi meski korupsi
memang sulit dihentikan. Salah satu momennya adalah tetap menyemarakan
tema PMK. "Karena puisi adalah ungkapan doa. Sesulit apapun menghadapi
korupsi, kita harus tetap perangi dengan ungkapan puisi sebagai media
sastranya," kata Ahmadun.
Di sisi lain, Feri Patiro, menyatakan
memang dalam memerangi korupsi tidak hanya para aktivis, tetapi juga
penyair pun memiliki andil dalam memerangi korupsi. “Mari kita sama-sama
perangi korupsi, baik aktivis maupun penyair wajib memusuhi korupsi,
sebab itu adalah penyakit yang sangat membahayakan bagi kehidupan kita,”
katanya.
Tampak hadir pula para pendiri Rumah Dunia, seperti
Gol A Gong, Toto ST Radik, Tias Tatanka dan penasehat Rumah Dunia dan
mantan direktur LKBN Antara, A. Mukhlis Yusuf. Kemudian acara tersebut
ditutup dengan parade pembacaan puisi oleh para penyair PMK, di
antaranya adalah Ahmadun Yossy Herfanda, Sosiawan Leak, Toto ST Radik
Gol A Gong, dan Ardian Je. (HS)
Kemarin malam, Sabtu 19 Januari 2014,
komunitas "Rumah Dunia" adakan acara seni pembacaan puisi menolak
korupsi. Banyak hadirin yang berdatangan. Umumnya, gedung seni-budaya
"Rumah Dunia" dipadati oleh para ibu-ibu dari PAUD. Acara tersebut diisi oleh
diskusi dan klimaksnya pembacaan puisi. Adapun untuk diskusi, tiga narsum
memberikan pernyataan seperti di bawah ini;
Dahnil
Anzar; "Rumus korupsi menurut pandangan saya sebagai dosen ekonomi adalah; monopoli + diskresi (policy) - Transparancy (accountable). Banyak pelaku koruptor yang membela diri dengan mengatakan pada media
bahwa kasus mereka dipolitisasi, sebuah konspirasi untuk menjatuhkan,
dan yang lebih ironis mereka mengatakan bahwa korupsi itu sebuah musibah
dari Allah. Ini keterlaluan. Kalau mereka
sering mengatakan demikian, banyak masyarakat awam terbawa opini mereka. Karena itu, kita sebagai orang yang mengerti harus sering memberikan
penyadaran pada orang awam bahwa korupsi itu tindakan kejahatan yang
menghabiskan dua tiga generasi bangsa Indonesia. Acara seperti ini memang
harus tetap berlangsung. Inilah yang harus jadi budaya.. bukan
korupsi."
Ahmadun Yosi Herfanda; "Saya sedih kalau Indonesia
dapat fenomena korupsi yang merongrong seperti ini. Anggapan yang mengatakan
bahwa 'money is power, everything' membuat saya nambah sedih. Karena
itu, mas Sosiawan Leak mengajak saya terlibat dalam kegiatan puisi tolak
korupsi, saya angsung kegirangan, antusias mengikutinya. Tapi, apakah
puisi bisa mencegah atau mengusir penyakit korupsi? Al-Qur'an saja
dikorupsi. Tapi, tidak masalah. Yang penting semangatnya. Bahkan, puisi
ini bisa jadi do'a yang mustajab. Semoga dengan puisi yang dibaca di sini bisa
menjadi do'a kepada Allah untuk menyelamatkan Banten, menyelamatkan negeri ini
dari korupsi."
Iitulah isi omongan narasumber yang saya ingat. Kemudian, saya dan beberapa penggiat puisi menolak korupsi berbincang
mengenai masa depan sastra di Indonesia dan kasus korupsi. Sebagai
koordinator (PMK), Sosiawan Leak menyayangkan adanya kasus skandal sastra
dari penyair seperti "SS" dari Jakarta dan Denny J.A. Ia menceritakan
dengan kegetiran kalau orang di setiap kota selalu menanyakan kasus dua
skandal tersebut padanya ketika ia hendak menggelar acara pembacaan PMK.
Keprihatinan Leak adalah kepirihatinan kita semua, tapi saya tidak bisa
larut dalam kegetiran dua skandal itu. Saya optimis kalau yang namanya
puisi ataupun bentuk sastra lainnya selalu "memulihkan" dirinya sendiri. Dulu orang jahiliah di Arab kerap bersyair untuk kegemerlapan duniawi yang
memabukkan. Dan, setelah Al-Qur'an turun, para penyair Quraisy terkesiap
dengan bentuk diksi dan isi yang sedemikian indah. Sukar ditandingi. Kemudian salah satu ayat Al-Qur'an mengatakan "Hai, para penyair, kalau
bisa membuat satu ayat semisal Al-Qur'an, buatlah. Silakan kalau minta
bantuan jin, setan, dan semua bala tentaramu. Tapi, kalian takkan mampu
menandingi ayat Al-Qur'an".
Ddemikianlah. Semoga acara ini tetap
berlangsung hingga korupsi benar-benar hilang dari Banten dan Indonesia
secara keseluruhan. (*)