Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Desember 2015

Menolak Korupsi dengan Puisi


MENOLAK KORUPSI DENGAN PUISI
*Dimas Indianto S. M.Pd.I.


Pada 23 Desember 2009, sebuah buku berjudul “Membongkar Gurita Cikeas: di Balik Skandal Century” karangan George Junus Aditjondro menyita perhatian masyarakat Indonesia. Buku setebal 183 ini menuai banyak komentar karena tercatutnya nama orang-orang penting seperti Presiden SBY, empat yayasan yang ditengarai berafiliasi dengan SBY, dan Ny. Ani Yudhoyono, Ramadhan Pohan, Jero Wacik, Hatta Rajasa, Edhie Baskoro, dan sederet nama para politikus lainnya. Buku yang diterbitkan oleh GalangPress ini banyak membeberkan indikasi kebusukan sistem oligarki atau mengguritanya persekongkolan kotor dalam tubuh pemerintahan SBY ketika itu.
Keberadaan buku itu menjadi bukti, bahwa George sebagai bagian dari masyarakat sipil mampu membuat gerakan usaha pemberantasan korupsi melalui gerakan literasi. Bahkan selain membuat polemik berkepanjangan, lima hari setelah launching, 27 Desember buku ini sudah menghilang dari pasaran. Ini adalah indikasi bahwa ada pihak yang takut pada kebenaran atau data-data yang disuguhkan dalam buku ini. Potret ini menjadi bukti bahwa untuk menakuti koruptor tidak melulu dengan teriakan, demontrasi, bahkan mogok makan yang kerap dilakukan mahasiswa yang kadang tidak membuahkan hasil. Melalui tulisan yang menarik, George ternyata bisa membuka mata masyarakat Indonesia tentang sebuah praktik korupsi yang dilakukan para petinggi negeri ini.
Genealogi Korupsi
Jika menengok sejarah, korupsi memang suatu hal yang sudah sangat membudaya. Bahkan merupakan salah satu penghancur peradaban manusia. Di Mesir, Babilonia, Cina, India, Yunani, bahkannRomawi Kuno, korupsi memunculkan masalah yang dahsyat. Dalam ensiklopedi Britanica (1962), diungkapkan bahwa Hammurabi dari Babilonia yang naik tahta sekitar tahun 1200 SM memerintahkan seorang gubernur untuk menyidik perkara penyuapan terhadap aparat birokrasinya. Driver & Miles dalam The Babylonian Laws (1952) menulis, bahwa di tahun 200 SM, Shamash, Raja Assiria pernah menjatuhkan vonis pidana kepada seorang hakim yang menerima uang suap atau dalam eufemisme kita disebut uang pelicin.
Aksi-aksi korupsi oleh para pejabat birokrasi, berdampak mengerikan. Pada era kejayaan Romawi, misalnya, tindakan korupsi yang dilakukan oleh aparat birokrasi membuat kerajaan itu menjadi bangkrut. Frank dalam An Economic Suurvey of Ancient Rome (1959) menulis, bahwa Raja Romawi, Julius Caesar, memberi contoh paling buruk dalam sejarah birokrasi negaranya. Dia merampas harta kekayaan provinsi untuk keuntungan pribadinya. Ketika menyerbu Spanyol, Sang Raja Romawi itu dililit utang ekstra besar. Dengan terjun ke medan perang itu, dia bermaksud melakukan pengelabuan untuk membebaskan diri dari belenggu utang tersebut, sekaligus untuk menghapus citra dirinya sebagai pejabat paling korup pada saat itu.[1]
Seperti halnya di banyak negara, perilaku koruptif di Indonesia sudah berlangsung sepanjang sejarah. Secara kualitatif, puluhan tahun lalu Bung Hatta pernah memberikan label atas hal itu sebagai telah membudaya. Bahkan dalam formulasi kuantitatif yang relatif, Begawan ekonomi Indonesia, Prof. Soemitro Djojohadikusumo pernah mengemukakan pernyataan kontroversial, bahwa kebocoran anggaran pembangunan di Indonesia mencapai 30 persen.
Perlawanan dengan Jalan Bahasa
Diibaratkan sebuah penyakit, Korupsi adalah sebuah penyakit mematikan yang mudah menjangkit manusia. Sekali saja seorang manusia lengah dari kebersadaran diri, ia akan bisa terkena godaan penyakit yang satu ini. Oleh karena sifatnya yang lentur dan tidak nampak, korupsi menjadi godaan yang menggiurkan. Betapa tidak, di era serba cepat, efek globalisasi yang menawarkan hal-hal hedonis-pragmatis, siapapun sangat dengan mudah tergiur untuk mendapatkan “hasil” lebih banyak, dengan kinerja yang tidak begitu berat. Sekalipun dengan cara yang melanggar kode etik ataupun konvensi-konvensi yang berlaku.
Di titik yang memprihatinkan, jika korupsi menjangkit semua lapisan orang yang memiliki kedudukan di sebuah elemen negara, maka tinggal menunggu waktu hancurnya negara itu. Indonesia, sebagai bagian dari negara dengan tingkat korupsi yang cukup tinggi, tidak menutupkemungkinan untuk segera datang masa kehancuran. Mereka, para koruptor itu, tidak berpikir panjang atas ulah mereka. Sementara rakyat kecil, yang tidak menahu ikhwal perbuatan para petingginya, selalu menjadi korbannya.
Maka itu, untuk mengurangi angka korupsi di Indonesia, diperlukan keterlibatan masyarakat untuk memberantas tindakan korupsi, atau setidak-tidaknya mencegah korupsi yang lebih parah lagi. Salah satu yang bisa menjadi jalan adalah dengan jalan bahasa. Sebagaimana George dengan bukunya itu, menghadirkan data-data tentang tindakan koruptif yang melibatkan pejabat penting. George dengan tulisannya membuka mata rakyat untuk lebih awas melihat persoalan yang sedang terjadi, yang notabene adalah tindakan merugikan buat rakyat.
Langkah yang dilakukan oleh George itu, adalah sebagaimana Finochiaro mendefinisikan fungsi bahasa menjadi lima kelompok, 1) fungsi personal, yakni merupakan fungsi bahasa untuk menyatakan diri, baik berupa pikiran maupun perasaan; 2) fungsi interpersonal, yakni merupakan fungsi yang menyangkut hubungan antarpenutur atau antarpersona untuk menjalin hubungan sosial, 3) fungsi direktif, yakni merupakan fungsi bahasa untuk mengatur oranglain, menyuruh oranglain, memberikan saran untuk melakukan tindakan atau meminta sesuatu, 4) fungsi refrensial, yakni merupakan fungsi bahasa untuk menampilkan suatu referensi dengan menggunakan lambang bahasa; dan 5) fungsi imajinatif, yakni merupakan fungsi bahasa untuk menciptakan sesuatu denagn berimajinasi.[2]
Dari sinilah, dengan jalan komunikasi lewat bahasa tulis, George membuktikan betapa bahasa sungguh memiliki peran yang sangat signifikan. George mengancam pihak-pihak yang dinyatakan bersalah, baik secara de jure maupun de facto. Tentang keterancaman dengan jalan bahasa ini, sebenarnya sudah dibuktikan bertahun-tahun yang lalu. Para penulis atau sastrawan yang menyuarakan perlawanan dengan jalan sastra, misalnya, menjadi buronan para politisi dan pejabat yang terkait. Adalah sebagaimana yang dialami Pramoedya Ananta Toer, ataupun Widji Thukul, misalnya, yang beberapa kali diasingkan, bahkan Thukul tidak diketahui ke mana rimbanya hingga detik ini, disinyalir adalah oleh karena mereka keras dalam menentang kekejaman rezim melalui tulisan, melalui bahasa: melalui sastra.
Puisi Menolak Korupsi
Baru-baru ini, muncul gerakan Puisi Menolak Korupsi, yaitu sebuah gerakan yang masif, terstruktur, dan sistematis dari bagian masyarakat untuk membukukan puisi-puisi bertemakan penolakan terhadap bahaya laten korupsi di Indonesia. Gerakan yang dikoordinatori oleh sastrawan Sosiawan Leak ini pantas dicatat dan distabilo dalam sejarah perlawanan terhadap korupsi. Betapa tidak, dari namanya saja, Puisi Menolak Korupsi, bukan penyair menolak korupsi. Ini menekankan bahwa penolakan terhadap korupsi adalah tanggungjawab semua lapisan masyarakat. Jadi dalam gerakan ini yang terpenting adalah puisi yang berbicara, tidak dibatasi hanya penyair saja yang menuliskan puisi, tetapi siapapun yang mempunyai ketertarikan menuliskan ikhwal penolakan terhadap korupsi. Presiden John F. Kennedy pernah mengatakan dalam pidatonya, bahwa jika politik bengkok puisi yang meluruskan (bukan penyair yang meluruskan). Seirama dengan itu, Seno Gumira Adjidarma, seorang cerpenis terkenal mengatakan dalam bukunya jika jurnalisme dibungkam sastra berbicara (sastra bukan sastrawan). Kedua adagium itu sarat dengan muatan kemahadahsyatan sebuah sastra, sebuah puisi.
Manusia itu terkutuk untuk bebas, begitu kata Jean Paul Sartre. Manusia dengan jiwa bebasnya tak ingin tertindas oleh kepentingan orang-orang yang menyalahgunakan kekuasaan. Penyair adalah sebagian orang yang memilihnya dari jalur bahasa. Mereka maju ke depan sebagai corong kemanusiaan untuk menyuarakan itu. Segala yang membuat mereka terusik itu tertanam dalam karya mereka, yang dengannya jutaan manusia lain bisa mengambil perenungan untuk menyadari kekeliruan yang mereka lakukan. Buah pemikiran yang bening itu seperti mata air, siapapun dan dengan latar belakang apapun boleh dan bisa menimbanya sehingga mengalirkan pemikiran segar baru darinya.[3]
Mengapa dengan puisi? Teks puisi memiliki keunikan dalam pemaparan bahasa sebagai cara ungkap berbagai masalah kehidupan, baik berupa peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, sesuatu yang dialami oleh penyair, masalah sejarah-sosial-politik-ekonomi-budaya, maupun berbagai fenomena kehidupan yang menjadi bahan renungan, hayatan, pemikiran penyair diekspresikan secara unik dan menarik.Puisi merupakan proyek filsafat yang selalu meruahkan pertanyaan. Setiap pertanyaan akan melahirkan banyak jawaban, formula, konsep, tata nilai dan yang pasti tak habis dimaknai.
Teks puisi dibentuk dan diciptakan oleh penyair tampaknya berdasarkan desakan emosional dan rasional. Puisi karya penyair, sejalan dengan wawasan Luxemburg, merupakan sebuah ciptaan, sebuah kreasi, bukan sebuah imitasi. Maka wajar jika unsur-unsur pribadi penyair seperti pengetahuan, peristiwa penting, visi, misi, dan konsepsinya mewarnai puisi yang ditulis. Penggunaan simbol, bahasa kias, metafora, dan gaya bahasa lain oleh penyair dimaksudkan untuk memadatkan dan mengefektifkan pengungkapan.
Dalam pada ini, puisi tidak bisa diremehkan. Banyak sastrawan-sastrawan yang mengungkapkan bahwa puisi bukanlah karya biasa, yang ditafsirkan dengan bahasa biasa-biasa saja, dibacakan dengan nada biasa, dan diolah pikir dengan cara-cara biasa. HB. Jassin, seorang kritikus sastraIndonesia, mengatakan bahwa puisi ialah pengucapan dengan perasaan. Dalam puisi itu, pikiran dan perasaan seolah-olah bersayap, ditambah lagi oleh syarat-syarat keindahan bahasa tinggi rendah tekanan suara. Puisi ialah pelahiran manusia seluruhnya, manusia agung dengan pikiran dan perasaannya. Edgar Allan Poe, seorang penulis berkebangsaan Amerika, mengatakan bahwa puisi adalahh ciptaan dengan irama keindahan yang dimaksudkan untuk meluhurkan jiwa. Percy Bysche Shelly, mengatakan bahwa puisi adalah rekaman dari saat-saat paling baik dan paling menyenangkan dari pikiran-pikiran yang paling baik dan paling menyenangkan.
Samuel Johnson mengatakan bahwa puisi adalah peluapan spontan dari perasaan-perasaan penuh daya, dia bercikal bakal dari emosi yang berpadu kembali dalam kedamaian. Matthew Arnold memberikan definisi bahwa puisi merupakan bentuk organiasai tertinggi dari kegiatan intelektual manusia. Senada dengan tu, Bradley mengatakan puisi adalah semangat. Sementara, Ralph Woldo Emerson mengatakan bahwa puisi merupakan upaya abadi untuk engekspresikan jiwa sesuatu untuk menggerakkan tubuh yang kasar dan mencari kehidupan lain dan alasan yang menyebabkannya ada.[4]
Dari Roadshow ke Roadshow
Gerakan Puisi Menolak Korupsi, jika dikategorikan sebagai sebuah genre karya, adalah karya sastra bertendensi. Yaitu salah satu genre sastra yang berkaitan erat dengan kepentingan-kepentingan tertentu. Sebagai juru bicara kelompok, penyair semenjak awal telah dibekali dengan niat dan ideologi tertentu. Karya sastra dijadikan alat yang pada gilirannya dapat difungsikan sebagai sarana untuk menyampaikan maksud-maksudnya.Lahirnya sastra bertendensi justru diakibatkan oleh adanya anggapan bahwa karya sastra menduduki posisi yang penting dalam masyarakat. Melalui sastra dapat disalurkan berbagai aspirasi, visi, dan missi, baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung.[5]
Oleh sebab itu, wajar bila Sosiawan Leak mengatakan “Gerakan Puisi Menolak Korupsi berbasis moral dan bergerak dalam ranah kebudayaan. Sebagaimana namanya, gerakan ini melakukan aktivitasnya dengan puisi (anak kandung kebudayaan) sebagai sumber ekspresinya. Maka, ia tak akan pernah bisa lepas dengan hal-hal yang terkait dengan puisi (menulis puisi, membaca puisi, mencetak puisi, menerbitkan puisi, mementaskan puisi, merayakan puisi, mendiskusikan puisi, dan lain-lain) selama puisi-puisi tersebut mengolah tema korupsi”. Dalam pada ini penolakan terhadap korupsi adalah sebuah misi suci yang dipanjikan para anggotanya.
Gerakan ini terus melancarkan penolakan terhadap korupsi dengan melibatkan masyarakat secara luas, terbukti anggota dari gerakan ini bukan semata penyair yang namanya sudah besar di media-media, melainkan juga ibu-ibu, pedagang, karyawan, guru, wartawan, mahasiswa hingga siswa sekolah. Pada antologi puisi PMK jilid 1, terdapat sedikitnya 85 orang yang ikut serta, sedangkan antologi PMK jilid 2 yakni 2a dan 2b (oleh karena jumlah orang yang ingin bergabung jumlahnya semakin banyak) yakni 197 orang, sementara antologi PMK jilid 3 (edisi Pelajar Menolak Puisi) adalah 286 pelajar seluruh Indonesia, dan PMK jilid 4 (mengambil tema Ensiklopegila Koruptor) terdapat 175 orang yang bergabung.[6]
Bukti bahwa gerakan PMK merupakan sebuah respresetasi dari gerakan masyarakat menolak korupsi adalah dengan diberlakukannya konsep iuran dan “saweran”. Penerbitan buku-buku antologi PMK ini murni atas dana swadaya masing-masing kontributor puisi. Jadi, sesiapa yang karyanya dinyatakan masuk (setelah proses kurasi ketat oleh Sosiawan Leak)[7] melakukan iuran untuk pendanaan penerbitan buku. Sedangkan “saweran” adalah istilah dalam gerakan PMK bagi masing-masing kontributor yang ingin mmberikan iuran atau sumbangan lebih demi kelancaran Gerakan PMK.
Hal ini dilakukan, oleh sebab gerakan PMK tidak sekedar membukukan puisi saja, melainkan juga membacakannya dari kota satu ke kota lain yang kemudian dinamakan roadshow menolak korupsi. Sebagimana menurut Laswell, agar komunikasi itu bisa diterima dengan baik maka harus ada komponen-komponen pendukung yaitu harus ada si pengirim atau pihak yang menyampaikan pesan, ada pesan yang ingin disampaikan, ada media atau perantara untuk menyampaikan pesan, ada penerima pesan, ada umpan balik atau tanggapan dari penerimaan pesan dan ada aturan-aturan yang disepakati. Media itu adalah pembacaan puisi, deklamasi puisi, musikalisasi puisi, dramatisasi puisi, hingga lomba baca puisi dari kota ke kota.[8]
Misi utama dalam pelaksanaan roadshow ini adalah bahwa puisi lahir dari suara masyarakat dan untuk masyarakat. Menyebarkan semangat untuk menolak korupsi harus berkelanjutan. Mengabarkan bahwa pelaku korupsi harus dikenakan sangsi sosial berupa pengecaman dari masyarakat.[9] Puisi yang telah dibukukan kemudian dibacakan di berbagai forum dan tempat di berbagai kota di Indonesia, sehingga muatan dari puisi tersebut tersampaikan. Bahkan di setiap roadshow PMK, selalu diadakan diskusi perihal persoalan korupsi dengan menghadirkan pihak-pihak yang berkompeten baik dosen, pengamat politik, pengamat sosial, maupun para budayawan untuk bisa menjadi partner dalam usaha memberantas korupsi. Dengan begitu, gerakan ini, adalah representasi dari rasa cinta (sense of belonging) masyarakat, khususnya penyair, terhadap tanah air Indonesia. Hal ini sebagaimana Jean Paul Sartre pernah menuliskan tentang “Tanggungjawab Pengarang”, menurutnya pengarang semestinya selalu mengorientasikan dirinya dengan peristiwa-peristiwa aktuil di mana pun dari bumi ini. Tabik.

Yogyakarta, 14 Desember 2015.


*Dimas Indianto S. M.Pd.I. mempunyai nama pena Dimas Indiana Senja. Lahir di Brebes, 20 Desember 1990. Alumni pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Menulis puisi, cerpen, esai, artikel, dan resensi buku. Beberapa puisinya memenangkan lomba penulisan puisi. Sering diundang membacakan puisi dan mengisi seminar kepenulisan sastra. Buku puisinya: Nadhom Cinta (2012), Suluk Senja (2015). Buku kumpulan esainya Sastra Nadhom (2015). Menerima beberapa penghargaan, antara lain Pemuda Berprestasi di Bidang Pendidikan, Seni, dan Budaya dari PemDa Brebes; dan masuk dalam tokoh penting Kabupaten Brebes oleh Kabid Humas dan Protokoler Kab. Brebes. Menjadi pengasuh komunitas sastra santri Pondok Pena Purwokerto, ketua Sanggar Suluk Bumiayu, dan Komite Sastra Dewan Kesenian Kab. Brebes (2015-2020).


[1] Sudarwan Danim. Agenda Pembaruan Sistem Pendidikan. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hlm. 61.
[2] Dimas Arika Mihardja, dkk. Reparasi dan Apresiasi ala Bengkel Puisi Swadaya Mandiri jilid 1. (Yogyakarta: Javakarsamedia, 2012) hlm. 20.
[3] Dimas Arika Mihardja, dkk. Reparasi dan Apresiasi ala Bengkel Puisi Swadaya Mandiri jilid 2. (Yogyakarta: Javakarsamedia, 2012) hlm. 150.
[4]Ibid.,hlm. 169
[5] Nyoman Kutha Ratna, Sastra dan Cultural Studies: Representasi Fiksi dan Fakta. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hlm 360-364.
[6]Silahkan lihat lampiran keanggotaan antologi puisi PMK. Data ini belum ditambah dengan tiga antologi senada, yakni Memo untuk Presiden, Memo untuk Wakil Rakyat, dan Perempuan Menentang Korupsi.
[7]Proses kurasi dalam antologi buku ini dilakukan untuk menjaga entitas kesastraan dari puisi yang dikirimkan. Dalam pada ini, sastra bertendensi yang mengedepankan visi bukan berarti menanggalkan nilai-nilai estetis sebuah karya sastra. Hal ini menampik anggapan bahwa puisi yang masuk antologi PMK adalah puisi asal bunyi atau asal membahas korupsi.
[8]Untuk melihat betapa gerakan ini begitu masif, terstruktur, dan sistematis, silahkan lihat lampiran tentang jadwal Roadshow Menolak Korupsi.
[9] Dalam buku antologi PMK jilid 4, yang kemudian diberi tajuk “ensiklopegila koruptor”, bahkan puisi-puisi di dalamnya mencantumkan nama-nama koruptor berikut kasus masing-masing dengan variasi hukumannya. Langkah ini adalah bukti konkrit gerakan PMK membuka mata masyarakat agar mengenal satu persatu penjahat Negara yang mencuri uang Indonesia untuk kepentingan pribadi. Maka membaca buku antologi PMK 4 adalah membaca ensiklopedia koruptor.

Selasa, 24 Juni 2014

Puisi Menolak Korupsi (PMK) Antologi Puisi Terdahsyat!

Oleh: Rg Bagus Warsono

Disampaikan dalam Road Show PMK di Kec. Sukra Indramayu, Jumat 20 Juni 2014

Pemberantasan korupsi setengah hati
Adalah Indonesia di 2013 ini. Sebuah negeri yang mendambakan bebas dari korup tetapi cita-cita itu digarap dengan setengah hati. Sejak masalah korupsi dimasukkan dalam ketetapan MPR di awal reformasi, garapan pemerintah yang berkuasa sepanjang era ini sampai sekarang dapat diambil kesimpulan hanyalah dagelan dan suguhan tontonan yang klasik bagi bangsa ini. Karena hasil dari kerja pemerintah yang berkuasa dari mulai pemerintahan BJ Habibie, Abdurrachman Wahid, Megawati, sampai SBY tak ada prestasi yang cukup dinilai baik dalam ukuran nasional tentang garapan pemberantasan korupsi.

Semua hanya omong kosong/bualan, slogan verbalis, dan program ngambang yang bertujuan untuk membodohi rakyat. Berapa trilyun uang negara yang dikorupsi dan berapa uang yang kembali, serta berapa oknum yang menjadi tersangka dan berapa orang yang korup dijebloskan penjara masih belum mencapai prosentase yang dapat dinilai baik.

Harapan rakyat kepada penegak hukum akan pemberantasan korupsi sebetulnya sudah dipercayakan pada penyelenggara penegakan hukum itu seperti Kepolisian, Kejaksaan, Kehakiman, sampai KPK, namun rakyat hanya menaruh harapan terus menerus tanpa melihat hasil yang berdampak pada perubahan karakter bangsa ini. Malah justru perilaku korup semakin menjadi-jadi. Akhirnya tumpuan harapan kepercayaan itu makin tak jelas dan akhirnya menjadi masa-bodoh dan akhirnya terserah saja pada yang menyelenggarakan pemerintah ini.

Bermula
Dunia sastra Indonesia 2013 dikejutkan dengan adanya karya puisi menolak korupsi yang ditulis oleh sastrawan se Nusantara. Seperti tersiram hujan semua rumput “nglilir” bergerak dan serentak dalam satu keinginan untuk negerinya menolak korupsi di Tanah Air ini. Lebih dari 200 sastrawan dari seluruh penjuru Tanah air terlibat menulis dalam antologi puisi yang bertema Puisi Menolak Korupsi (PMK). Adalah Leak Sosiawan (47) sastrawan asal Solo yang memiliki gagasan yang pada mulanya merupakan kegiatan seni sastra dengan menerbitkan antologi puisi menolak korupsi kini telah menjadi sebuah gerakan nasional dari kalangan sastrawan yang merasa terpanggil untuk menyelamatkan Indonesia dari bahaya korupsi.

Sumbangsih penyair untuk negeri
Dunia menyoroti kita sebagai salah satu negeri terkorup. Negara-negara donatur sudah geram melihat tingkah pejabat kita yang korup. Media bingung memberitakan kasus korupsi yang mana yang harus di beritakan pagi hari, karena saking banyaknya kasus korupsi yang masuk di meja redaksi. Alim ulama tak henti-henti menggemborkan untuk menyelamatkan negeri ini.

Sesekali tokoh muncul anti korupsi hanya untuk meraih suara, sudah itu ia juga termasuk dan melakukan korupsi. Lalu yang berteriak lantang membasmi korupsi kemuadian teriakan itu menjadi lagu nostalgia yang membikin orang kantuk. Pendek kata hanya isapan jempol semata.

Di sinilah penyair dengan berbagai keberadaannya yang sama sekali tidak ada perhatian dari pemerintah, bahkan boleh jadi pada komunitasnya yang ‘terpinggirkan’ dan mungkin ‘terbuang’ ikut memberikan sumbangsih dalam menyelamatkan negeri ini dari acaman bahaya korupsi. Melalui karya Puisi Menolak Korupsi mereka suguhkan untuk khalayak masyarakat Indonesia untuk dapat memberikan apresiasi terhadap karyanya. Diharapkan melalui karya ini dapat mengajak masyarakat untuk menolak korupsi di mana pun tempat.

Kelihatannya seperti tak ada artinya puisi menolak korupsi atau penyair menolak korupsi. Penegak hukum yang memiliki tanggung jawab pemberantasan korupsi yang ada di Indonesia juga susah menghadapi masalah korupsi ini, apalagi penyair yang tak punya apa-apa. Ditilik dari tindakan mungkin belum ada arti, namun melalui puisi menolak korupsi yang dibaca jutaan manusia Indonesia akan dapat menyentuh hati. Ia tidak saja sebagai penyejuk atau siraman air untuk otak manusia, tetapi telah memberikan wacana mendasar bahwa penyair Indonesia telah berbuat untuk negerinya, sebagai sumbangsih karya untuk Tanah Air tercinta.

Jangan sampai korupsi menjadi budaya
Masalah korupsi bukankah sudah ada sejak negara ini berdiri? Namun sebelumnya hal korupsi belum marak seperti sekarang ini. Masalah korupsi hampir terjadi di setiap pelosok negeri. Pelakunya dari pangkat terendah sampai pucuk pimpinan, dari pegawai rendahan sampai mentri, dari pejabat tingkat RT sampai Presiden dan beraneka profesi yang melakukannya. Wabahnya bak penyakit menular yang juga menyerang mantri pembasmi penyakit itu. Berangkat dari merajalelanya masalah korupsi yang sudah menasional ini bagaikan sebuah budaya baru yang dilakukan masyarakat, para penyair merasa prihatin melihat kejadian wabah korupsi yang terjadi di mana-mana ini.

Mengapa gunakan puisi
Sebuah pertanyaan kenapa puisinya yang menolak korupsi tidak penyairnya? Jika ini sebuah gerakan para penyair kenapa bukan penyair yang harus di depan? Pertanyaan di atas tidaklah harus disamakan dengan profesi lain. Sebab menurut sejarah, lebih berani tulisannya ketimbang orangnya. Lebih tajam pena-nya ketimbang lidahnya, lebik kritis kalimatnya ketimbang pendapatnya. Oleh karena itu para penyair gunakan produknya sebagai senjata untuk melawan korupsi.

Lebih dari itu sebetulnya produk sastra sangat erat dengan penulisnya. Undang-undang hak cipta begitu memberi kekuatan yang tak terpisahkan antara penulis dan karyanya. Jadi sebetulnya produk sastra tersirat di belakang sosok penulisnya. Jika demikian jelas pesan yang dituangkan dalam karya sastra sebetulnya adalah hasil pemikiran penulisnya. Puisi menolak korupsi ini otomatis penyair yang mencipta puisi itu juga menolak korupsi.

Dalam diri hati manusia ada sisi baik dan sisi buruk. Siap orang yang waras menginginkan kehidupan yang baik. Sisi buruk yang ada hanyalah pembatas untuk tidak melakukannya. Sisi baik dan buruk selalu seiring pada diri manusia yang memiliki nafsu. Ini tergantung neracanya. Karena itu sisi buruk manusia perlu diisi dengan agama, aturan, pendidikan dan norma hidup. Sehingga sisi buruk itu terbelenggu dan tidak akan keluar dari nafsu manusia. Puisi sebagai karya sastra memiliki nilai berbagai macam sentuhan hati. Sebab puisi yang diciptakan oleh para penyair terkandung menitipkan pesan-pesan kebaikan yang beraneka. Akhlak, budi pekerti, budaya luhur, norma adat, peraturan, pantangan dan sebagainya terdapat dalam puisi. Hampir tiap puisi yang dibuat terkandung unsur intrinsik pesan-pesan tersebut dan intrinsik inklusif dalam Puisi Menolak Korupsi adalah masalah korupsi.

Antologi puisi terbesar
Penerbitan antologi bersama (PMK) merupakan sebuah karya buku bersama. Sejak Angkatan Pujangga Baru telah ada penyair-penyair yang menerbitkan antologi bersama. Isi bisa satu tema, namun juga bisa berbeda tema atau beraneka tema puisi. Ada berbagai tujuan untuk menbuat antologi bersama: 1. Memenuhi standar ketebalan buku, 2. mengetengahkan bahwa pemilik gagasan (tema) bukan oleh seorang penyair tetapi lebih dari seorang penyair dengan maksud pembaca untuk mengapresiasi lebih terhadap isi yang melekat dengan sosok penyairnya, 3. Memenuhi angkatan pujangga pada saat itu, 4. Memberikan kekuatan pada buku bahwa buku itu kelak dapat dibaca oleh publik tidak saja fans seorang sastrawan tertentu, tetapi lebih dari satu sastrawan yang juga memiliki fans-nya, 5. Semangat untuk sebuah gagasan dari isi sebuah pesan. Dan yang terakhir ini, pada buku PMK ini, saya melihat semangat para penyair untuk sebuah gagasan (menolak korupsi di Tanah Air) lewat sebuah pesan (isi puisi) lebih kuat tampaknya. Agaknya Leak Sosiawan tidak memandang siapa penyairnya, dari golongan apa penyairnya, atau dari mana asal penyairnya yang penting adalah sumbangsih karya puisi itu. Lebih dari itu Leak Sosiawan telah diterima oleh setiap pengirim puisi untuk memilah dan menentukan kelayakan sebuah puisi laik terbit. Namun ia senantiasa menghargai bobot karya dari siapa pun karena memang pertimbangan no. 2 dan 4 di atas dari tujuan membuat puisi bersama. Yang terakhir adalah, bahwa semua orang bisa melakukan seperti meniru, tetapi orang pertama yang mencetuskan/menciptakan/menggagas/menelorkan ide itu harus dihargai.

Multi angkatan
Dalam kurun hampir setengah abad perjalanan negeri ini (sejak 1966) perjalanan sastrawan kita hanya membuat karya yang bagus serta kreativitas karya kekinian (modern) namun sulit dibuat angkatan. Bolehlah pada kritikus sastra atau sastrawan membuat angkatan kesusastraan, dengan alasan yang berbeda-beda. Itu sah-sah saja. Angkatan Reformasi, Angkatan 2000 tak menjadi masalah sejauh referensinya dapat diterima. Di antologi PMK terdapat beberapa nama penyair yang terkenal dan termasuk dalam angkatan-angkatan sastrawan sebelumnya. Seperti Ahmadun Yosi Herfanda, Tajuddin Noor Ganie, Isbedy Stiawan ZS, Gol A Gong, Acep Zamzam Noor, Jamal D Rahman dan lain-lain yang termasuk dalam angkatan 80-an, angkatan 90-an, atau angkatan 2000 . Bahkan jika dilihat dari usia ada penyair PMK yang berusia 60 tahun dan juga yang masih dibawah usia 30. Meskipun gelombang reformasi mengganti orde baru, karya satra berikut sastrawannya tidak mengiringi perubahan bangsa ini. Hal demikian dikarenakan reformasi yang sampai sekarang masih berjalan tersendat-sendat.

Menembus 2,5 juta pembaca
Antologi bersama dapat menjadi sebuah dokumen sastra yang bersifat nasional dan memenuhi banyak pembaca serta menjadi bahan rujukan. Sebagai contoh antologi puisi yang ditulis oleh banyak penyair dari berbagai penjuru Tanah Air akan mampu menembus pembaca hingga jutaan manusia. Buku Antologi puisi Menolak Korupsi kurang lebih ditulis oleh 284 penyair Indonesia dan 291 karya pelajar atau berjumlah 575 peserta pengisi antologi. Jika setiap penyair memiliki keluarga, teman, fans, dan anak asuh sastra di sanggar saja maka setiap penyair mambawa 200 pembaca buku tersebut. Maka buku antologi bersama akan menembus ratusan ribu pembaca.

Sengaja penulis tidak menghitung buku yang dicetak. Menghitung pembaca dari buku yang dicetak akan sulit ditaksir. Kecuali buku tersebut telah terjual dan menjadi best seller. Ini juga dengan menggunakan prinsip buku yang terjual pasti dibaca pembelinya meskipun tidak semua pembeli buku membaca buku yang dibelinya sampai tamat.

Keunggulan buku antologi bersama secara geografis terkadang memenuhi keterwakilan publik di suatu daerah. Hal demikian dikarenakan sastrawan biasanya merupakan tokoh masyarakat di daerahnya. Semakin banyak keterwakilan sastrawan dari berbagai daerah, bahkan daerah terpencil maka semakin banyak jumlah pembacanya.

Antologi bersama sangat menguntungkan nama penyairnya dikarenakan melalui buku itu masing-masing dikenalkan kepada penyair lainnya dalam buku itu. Yang sudah populer akan semakin dikenal masyarakat dan yang baru meniti tangga mulai dikenalkan lewat karya dalam buku itu.

Antologi yang demikian menjadi Antologi puisi yang berstandar nasional pada ukuran pembaca. Demikian karena ukuran kelayakan sebuah buku adalah layak dibaca dan pernah dibaca. Contoh saja misalnya dalam lomba perpustakaan, ukuran keberhasilan adalah pembaca. Terbiasa sekali juri lomba perpustakaan mengukur jumlah pengunjung sebagai faktor utama, bukan gedung dan bukan bukunya yang tebal-tebal dan mahal.

Antologi bersama memerlukan standar isi agar bermutu. Karenanya perlu menampilkan team penyeleksi puisi peserta antologi. Bukan penyair peserta pengisi antologi tetapi karya peserta itu yang diseleksi. Jadi dua hal penting antologi bersama yakni pembaca dan puisi peserta antologi.

Hal pembaca sastra Indonesia kebanyakan didominasi pelajar dan mahasiswa pada status sosial lain masih demikian rendah. Menempati urutan kedua adalah pendidik. Pembaca sastra Indonesia banyak dimotori/digelorakan oleh para pendidik itu kepada siswa dan mahasiswanya. Andai saja mereka turut membantu karya sastrawan, maka pembaca sastra Indonesia akan meningkat, sebab sepertiga jumlah penduduk Indonesia adalah anak-anak dan remaja! Di antara para pengisi antologi ini terdapat banyak penyair yang juga berprofesi sebagai pendidik. Seringkali buku PMK dijadikan bahan ajar pelajaran sastra di sekolah-sekolah maka bukan mustahil buku yang dicetak terbatas diperuntukkan untuk penulisnya ini banyak dibaca siswa. Kemudian kegiatan-kegiatan peluncuran antologi PMK, bedah buku PMK, Lomba baca PMK, serta road Show PMK menambah jumlah pembaca. Kini kegiatan road Show PMK telah lebih dari 20 tempat dilaksanakan di Tanah Air.

‘Road Show’ puisi denyut nadi PMK sepanjang tahun
Belum pernah sebelumnya ada buku antologi puisi di-‘roadshow’-kan ke sejumlah kota untuk apa? Apakah belum cukup populer dengan sekali peluncuran? Apakah belum menyentuh sasaran? Atau ini merupakan roadshow-nya penyair PMK? Jawabnya adalah seperti dikatakan Sosiawan Leak yakni kemandirian yang menjadi dasar digulirkannya program Road Show Puisi Menolak Korupsi. Isi road show bisa dalam wujud pembacaan puisi, pentas seni, seminar, diskusi, orasi, lomba baca puisi, lomba cipta puisi dan lain-lain yang dilakukan secara otonom di berbagai kota, dikoordinir oleh penyair PMK yang mukim di kota tersebut. Ini artinya bahwa untuk melaksanakan gerakan PMK itu dilaksanakan tanpa paksaan dari siapa pun yang turut tergerak hatinya untuk berpartisipasi melawan korpsi dengan cara kegiatan sastra seperti disebutkan Sosiawan Leak sebagai gerakan sikap para penyair untuk melwan korupsi dengan caranya.

Bermula di wujudkan dengan road show-nya di area Makam Proklamator terus merambah ke kota-kota di seluruh Tanah Air dan pada 27 September 2013 road show-nya VI di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi di Jakarta.

Peserta pengisi antologi terbanyak dalam sejarah
Siapa-siapa saja mereka (penyair itu yang terlibat) adalah para penulis puisi dalam antologi Puisi Menolak Korupsi, mereka adalah Penyair Indonesia yang ikut menulis di buku Antologi Puisi Menolak Korupsi (PMK). Untuk melihat siapa saja penyairnya, bisa ke halaman Penyair Pendukung atau ke sumber artikel ini.

*penyunting Ekohm Abiyasa

Sumber atau postingan serupa:
1. Facebook PMK (Rg Bagus Warsono)

Senin, 19 Mei 2014

Satu Hati – Tolak Korupsi! Road Show Puisi Menolak Korupsi (PMK) ke-19 di Kota Amuntai, Kabupaten HSU - Kalsel


18 Mei 2014 pukul 21:31
(Media Kalimantan, 18 Mei 2014: A4)

Oleh: HE. Benyamine

Perjalanan menuju kota Amuntai, sesaat mendekat pintu gerbang kota, terhampar luas lahan basah di kiri kanan jalan raya (Danau Tapus), yang seakan menggambarkan berkah kehidupan bagi warga Kabupaten Hulu Sungai Utara. Pemandangan rawa yang sepuas dan memanjakan mata memandang, begitu lapang berkah langsung dan potensial bagi kabupaten yang berjuluk sebagai kota bertakwa. Kota Amuntai menjadi tujuan Road Show Puisi Menolak Korupsi (PMK) ke-19 yang sekaligus menjadi bagian rangkaian milad Kabupaten HSU pada 14 Mei 2014 di Siring Itik sungai Nagara.

Maskot kota Amuntai, patung sepasang itik di Siring Itik sungai Nagara, menambah penanda kesadaran masyarakat bahwa air dan rawa merupakan bagian kebudayaan yang mempengaruhi hidup dan kehidupan, yang menjadi tempat acara Road Show PMK pada malam hari, dengan sambutan Bupati Kabupaten HSU (dibacakan) yang menyatakan puisi menjadi bagian dari perjuangan dan ekspresi diri serta mendukung gerakan moral menolak korupsi, yang sekaligus membuka acara dengan pemukulan gong (diwakilkan). 

Sebelumnya, sambutan ketua pelaksana Murdjani dan Ketua Dewan Kesenian HSU Harun Al Rasyid, menunjukkan kehangatan dan kebahagiaan terselenggaranya acara ini.

Penampilan Sanggar Air Amuntai, semua galuh berpakaian putih, dan Hendra Royadi dengan pakaian hitam panjang khasnya, membuat suasana berdetak dengan perlahan menuju degup yang semakin cepat. Sanggar Air menampilkan musikalisasi puisi, yang melepaskan Curhat Kepada Tuhan Tentang Korupsi karya Iberamsyah Barbary yang diiringi garapan musik bercorak lembut dengan gangguan harmonis dari beberapa alat musik tertentu, seakan menjamu rembulan yang hadir dengan penuh dan aliran sungai Nagara yang sedang layaknya pasang.

Kehadiran istri bupati Kabupaten HSU, Dra. Hj. Anisah Rasyidah Wahid, M.AP., yang berkenan membaca puisi karya beliau dengan pesan jelas sebuah tekad menolak korupsi, menambah suasana malam di Siring Itik bertambah akrab dan arah penyatuan hati yang hangat dan terbuka. Hj. Anisah tampil seperti sudah biasa dengan pembacaan puisi, dan beliau bertahan hingga acara berakhir; puisi menjadi sesuatu yang berarti dalam diri beliau. Kota Amuntai benar-benar sedang berpuisi.

Gerakan PMK di suatu kota menjadi bergelora ketika para pelajar terlibat dalam road show, seperti Teater Pahajatan SMPN 2 Paringin yang tampil memukau dengan menggemakan puisi Sosiawan Leak dalam bentuk teatrikal puisi. Teater Pahajatan tampil dengan gerak tari Dayak, memberi tekanan yang khas pada pesan puisi, dengan ringan dan mengalir mereka tampil penuh semangat dan kepercayaan diri yang kuat; tak ada keselamatan pada korupsi kecuali kerusakan dan kedurhakaan.

Begitu juga dengan penampilan Sanggar Buluh Marindu dari kota Barabai, merupakan pelajar sekolah menengah atas, yang mengintrodusikan perlawanan Dayak dalam teaterikal puisi tentang wabah tikus (baca: korupsi), dengan gerak tari Dayak dan mamang yang diterobos larik-larik yang disuarakan secara bergantian; semua tikus – tiada lain selain racun tikus. Rezqie Muhammad AlFajar tampil dalam gerak yang merasuk dengan dupa yang menghambur menambah mistis gerakan PMK malam yang semakin larut dalam pusaran keberpihakan untuk bersama menolak korupsi.

Persembahan anak-anak (usia 5 – 10 tahun) Ahmad Azhar Ajang,  dengan seni wushu menyuguhkan tampilan yang menguatkan, seperti tampilan permainan pedang sebagai pedang pemutus korupsi, dan gerakan dua anak perempuannya dengan kipas merahnya diiringi Ajang membaca puisi yang menguatkan pesan puisi bahwa gerakan tetap dalam daya yang kuat. Ajang sempat mempromosikan kerajinan khas Amuntai dan kulinernya, karena ia berasal dari kota Amuntai yang sekarang sedang bertugas di kota Marabahan, Batola.

Sebagaimana Teater Pahajatan, tampil juga Teater Benteng Tundakan SMAN 1 Awayan, yang mendapat sentuhan Imam Balangan Bukhori dan Fahmi Wahid, menampilkan teaterikal puisi tentang pembabatan hutan yang kesetanan. Para pelajar menengah atas dari kota Balangan ini memberi warna pada gerakan PMK ke-19, mereka tampil dengan gerak yang dinamis dan suara yang lantang, seraya dipandu ketukan pentungan dari bambu. Kerusakan alam, khususnya hutan, hanya meninggalkan kesengsaraan yang menyebar bagi warga dan kehidupan alam di daerah saja, para perambah pesta di luar sana. Gerakan ini melihat banyak celah korupsi yang menusuk tak berbentuk, begitulah tumbangnya pohon-pohon di hutan perawan dengan fauna dan flora yang beragam kaya; yang kemudian tersisa lahan kritis belaka. Kota Balangan hadir di Amuntai sekitar 26 orang, bersama ketua Dewan Kesenian Balangan (DKB) dan wakil ketua serta pengurus lainnya.
Setelah Road Show PMK ke-19 di Amuntai ini, kota Balangan mengadakan acara Bumi Sanggam Berpuisi (16/5), menurut Fahmi Wahid, “Sanggar Mamang Balangan bersama Dewan Kesenian Balangan mengajak Publik Bumi Sanggam, Komunitas Seni/Sanggar, Sastrawan, penyair,  penggiat, peminat sastra se Kalimantan Selatan  lewat pembacaan puisi yang dikemas dalam acara Bumi Sanggam Berpuisi. Insya Allah dilaksanakan Malam Sabtu, 16 Mei 2014, pukul 20:30 Wita s/d selesai di Bundaran Taman Sanggam Paringin.” Hingga tulisan ini dibuat, acara Bumi Sanggam Berpuisi masih berlangsung, dengan dihadiri Iberamsyah Amandit, Ali Syamsudin Arsi, dan lainnya.

Sebagaimana informasi dari Arsyad Indradi si Penyair Gila, bahwa Laskar PMK dari luar Kalsel ada 4 orang; Sosiawan Leak (Solo), Wage Tegoeh Wijono (Purwokerto),  Surya Hadi (Sastra Riau), dan Bambang Eka Prasetya (Magelang), mereka sebagian  transit di rumah beliau, yang pada malam tanggal 13 Mei berkumpul di Mingguraya untuk segelas kopi dan berbagai suguhan pembicaraan yang akrab. Jendral PMK Sosiawan Leak membaca puisi dengan penuh daya, yang mengajak semua yang hadir di Siring Itik sungai Nagara untuk menjawab ucapannya; “Satu Hati” dengan “Tolak Korupsi”, yang seakan menggema di area pembacaan dan terbawa aliran sungai Nagara yang seolah sedang pasang itu. Begitu juga dengan Wage Tegoeh Wijono dan Surya Hadi, tampil dengan gaya yang memukau dan menghibur.

Sedangkan Bambang Eka Prasetya (BEP) berdua dengan Nazwa Belibisqie membacakan puisi karya BEP, yang didahului dengan gaya BEP sedang menjalin dialog dalam mimpi dengan bung Karno tentang merajalelanya korupsi, lalu suara sayup bersilang lantang dari Nazwa menjadikan pesan puisi seakan bergerilya sendiri menyapa hati pendengarnya, yang sedikit disenandungkan oleh Nazwa dalam bentuk syair. Penyair Gila, Arsyad Indradi, tampil dengan gaya khasnya menegaskan gerakan PMK dengan doa kuat terus bergerak. Begitu juga semangat Iberamsyah Amandit yang tampil dengan lantang, seperti daya tambahan bagi yang muda untuk menanamkan keberkatan dalam perjuangan yang bernilai; tolak korupsi.

Road Show PMK ke-19 di Amuntai, Maria Roeslie tampil dengan pantun karyanya yang spontan, sebagai bentuk perlawanan yang ringkas dan langsung pada tujuan, seperti pantunnya di bawah ini yang dibacakan di atas panggung malam itu:

Awak jingkar kada ma'asi
Lakasi bakalumbun ujar bini

Muar banar ngarannya kurupsi
Makanya ulun ada di sini

Paluh limbui tuntung mainan
Manangis jingkar rabit jariji

Lakasi ditutui biar nyaman
Kurupsi ba'akar kita cabuti

Maria Roeslie telah menarik bentuk tradisi lisan, dalam bentuk pantun, sebagai alat perjuangan dan pergerakan, yang dapat dilihat pada pantun-pantunnya spontan yang dibuat sepanjang perjalanan menuju kota Amuntai: “Tulak ka Amuntai mangganyang kurupsi/ Singgah ka pantai manungap nasi/ Biar tabantai bahati wasi/ Jangan santai ayu lakasi”. Pantun dapat menjadi pintu masuk gerakan menolak korupsi, yang bagi Samsuni Sarman bahwa PMK dapat dipanjangkan menjadi Pantun Menolak Korupsi,  karena pendek dan langsung dituturkan selain lebih bergaya menghibur namun dapat menyelinap dengan halus pesannya.

Untuk menghangatkan Road Show PMK ke-19 di Amuntai, Aan Setiawan melakukan ekspedisi dengan mengendarai motor yang berbendera putih dengan tulisan Puisi Menolah Korupsi, yang baginya diberi nama Ekspedisi 19 Teriakan, karena  menurutnya, “Roadshow PMK di Amuntai adalah yang ke-19, dan ini merupakan kebanggaan tersendiri karena Kalimantan Selatan menjadi tempat roadshow PMK, yang sebelumnya pernah dilaksanakan di Banjarbaru (Roadshow PMK ke- 3). … aku akan berangkat dari Banjarbaru (Mingguraya) ba'da shubuh sekitar jam 05.30 Wita dan akan kubacakan 1 puisi untuk mengawali keberangkatanku (puisi di buku PMK jilid1, 2a, atau 2b). Selanjutnya, aku akan membacakan 18 puisi lagi selama perjalanan di suatu tempat yang kusinggahi. Seperti di tugu Ketupat Kandangan, Tugu Serambi Madinah, Lapangan Lambung Mangkurat, Tugu Garuda di Barabai, dll.”

Pada kesempatan tampil, Aan Setiawan berkolaborasi dengan Bagan Kandangan, yang membacakan puisi dengan ungkapan yang berbeda pada posisi yang berjauhan, dan kesempatan ini memberi peluang bagi interaksi dan keterlibatan yang lain, sehingga ketika Aan Setiawan beraksi yang disambung Bagan, suasana menjadi riuh dan pandangan penonton terbagi, lalu ada yang lain berteriak seperti menjadi bagian dari pertunjukan. Penampilan Aan dan Bagan menyatu di depan panggung, yang kemudian mencapai puncak kejutan ketika Aan Setiawan tiba-tiba berteriak dan meloncat ke sungai Nagara; korupsi membuat segala kegelapan menjadi pekat dan duka. Ternyata, Bagan Kandangan dengan gerakan yang tak disangka juga melompat ke sungai, sebagai penutup puisinya; lantang tolak korupsi!

Penampilan Chacha dari Tabalong yang membacakan puisi Jika Itu Pasti karya Lilies MS, dengan intonasi dan tekanan yang jelas, maka “Malam ini/sebenarnyalah ingin kujatuhkan lagi puisiku/seperti kata hatinya/dan kelestarianlah, ranah ramah lingkunganlah menjadi lukisan sejati hatiku/Bukankah juga hatimu?!” yang membawa pada alam dan lingkungan rawa yang begitu kaya akan keanekaragaman hayati dan potensi yang luar biasa dalam menghidupkan produksi keluarga. Tabalong hadir dengan Lilies MS, Masdoel Huck, Mahfuzh Amin, dan lainnya juga memberikan suasana satu hati dalam menolak korupsi.

Tampilan Agustina Thamrin dan Tries Chandra (Banjarbaru), serta Helwatin Nazwa (Kotabaru), yang membacakan puisi Sosiawan Leak bernama Senjata Selangkangan, membuat suasana tambah hangat, karena ketiganya begitu bersemangat untuk keberpihakan pada yang lemah dan terabaikan akibat korupsi.  Sedangkan Ali Syamsudin Arsi berkolaborasi dengan Sanggar Buluh Marindu membacakan puisi karyanya yang bertajuk Cau Cau, seakan mengajak beberapa anggota Sanggar Galuh Marindu merasakan perjalanan puisi yang mengalir di sungai Nagara ketika mereka bersama membacakan puisi ASA tersebut, yang terkadang datang air baah dan keruh, namun suara itu terus diteriakkan.

Kota Amuntai menjamu puisi dengan lapang dan terhormat, penyair dan penggiat budaya HSU tampak hadir bergandengan tangan, seperti Hasbi Salim, Fahrurraji Asmuni, Alkalani Muchtar,  Hendra Setiawan, dan lainnya.  Pada pagi hari, Fahrurraji Asmuni menjadi pemandu rombongan kota Banjarbaru menikmati wisata Candi Agung, dengan menanggung tiket masuk dan kudapan wadai cincin talipuk dan pais sagu, hingga melepas keberangkatan rombongan yang di dalamnya ada dari luar Kalimantan Selatan. Selain Samsuni Sarman, juga terlihat Zulfaisal Putera, Amrie Sihanang dan Kayla Untara  yang mengundang acara tanggal 17 Mei dalam rangka D. ALRI IV proklamasi di Taman Dwi Warna bersama Lapak Sastra Barabai, Ratna, Hj. Fathul Sufath, dan banyak rombongan dari Barabai lainnya. Rombongan Banjarbaru terdapat Kru Banjarbaru Dalam Lensa, Nabila (pelajar Martapura yang puisinya masuk dalam antologi PMK Pelajar), Yulian Manan, Yudist Wira, Shan Baskoro, Ahmad Dani, Dahlia, Andrie Alfiannoor, dan lainnya.

Pada subuh Kamis, pasar pagi kerajinan di depan Plaza Amuntai, yang berasal dari para pengrajin di kabupaten HSU, seakan menyambungkan hamparan luas rawa yang ada sebelum memasuki kota Amuntai. Bahan purun dan anau yang menjadi bahan mentah produktivitas warga HSU, menunjukkan begitu terhubungnya rawa dengan kebudayaan, apalagi seperti yang diungkapkan Ahmad Azhar Ajang dan Nazwa Belibisqie  bahwa Amuntai kaya dengan kuliner, seperti wadai cincin talipuk (teratai) dan pais sagu; yang keduanya juga terhubung dengan adanya rawa.

Dalam perjalanan pulang, Sosiawan Leak dan Maria Roeslie, merasakan harga produktivitas warga sangat murah, karena menurut Sosiawan Leak di Jawa sudah mulai sulit ditemukan purun sebagai bahan baku kerajinan seperti yang ada di pasar Kamis Amuntai. Menurutnya, Amuntai dapat lebih berkembang dengan potensi rawa yang kaya tersebut, yang tentu saja dibutuhkan kebijakan dari pemerintah daerah untuk lebih menggerakkan dan meningkatkan nilai tambahnya.

Di perjalanan menuju kota Amuntai, warga ada yang membakar pais telor ikan puyau, sebagai bagian dari kekayaan rawa yang masih lebih banyak hanya sebagai potensi, yang membayangkan bagaimana warga HSU telah menjadi warga yang produktif dan mengarah pada jiwa kewirausahaan dengan memanfaatkan sumberdaya rawa yang terhampar luas. Kerajinan purun bergantung dengan rawa, kuliner pais sagu dan cincin talipuk terikat dengan rawa, pais telor ikan puyau dari rumahnya rawa, dan begitulah kebudayaan yang telah menjadi keseluruhan hidup dan kehidupan warga HSU yang sudah seharusnya dijaga dan dipelihara dengan pengembangan dan pengolahan yang berbasis kebudayaan; tanpa melakukan perubahan secara besar dan masif. Pengabaian pengetahuan lokal (indigeous knowledge) cenderung sebagai bentuk tindakan korup.

Road Show Puisi Menolak Korupsi (PMK) ke-19 terasa bermartabat dan bermakna terselenggara di kota Amuntai, kehalusan dan kelembutan hati yang menyatukan gerakan dan kesadaran bahwa korupsi harus ditolak.

Satu Hati – Tolak Korupsi! Kota Amuntai Bertakwa – Tolak Korupsi!

Banjarbaru, 17 Mei 2014