Rabu, 05 November 2014

Catatan Kecil Tentang Gerakan Puisi Menolak Korupsi oleh Hilda Rumambi

Jadwal road show PMK Oktober-Desember 2014
Mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa pekerja seni termasuk sastrawan Indonesia yang di dalamnya penyair, juga punya mata, hati dan telinga serta rasa dalam melihat fenomena korupsi yang telah merebak dan merusak sendi-sendi kehidupan, berbangsa dan bernegara. Melihat korupsi yang sudah lahir dan besar sebagai sesuatu ‘binatang’ menjijikkan dalam karakter yang lahir menjadi budaya dalam masyarakat. Budaya ‘binatang’ (beast) yang semestinya perlu diperangi dan dihabisi.

Namun pekerja seni dalam hal ini Penyair bukan aparat hukum, bukan politikus, juga bukan penguasa. Elemen-elemen negara yang seharusnya melakukan tugasnya dalam memberantas korupsi. Yang dapat dilakukan hanya menulis dan berkata-kata. Apa yang dapat dilakukan oleh penyair selain berkata-kata dan menuliskan rasanya? Bukan juga hanya kata-kata, kata-kata itu harus punya makna yang diwujudnyatakan dengan gerakan kultural yang punya dampak dalam ‘peperangan’ ini.

Dan, untuk ikut mengambil bagian bersama elemen-elemen masyarakat yang lain dalam hal memerangi korupsi, sebagian penyair Indonesia terpanggil untuk melakukan tindakan konkrit, bersikap tegas dengan menolak nilai-nilai kehidupan yang korup dengan menebar kata-kata dalam puisi dan menamai gerakan ini Gerakan Puisi Menolak Korupsi (PMK). Wujud nyata gerakan kita adalah bergerak dengan penyair-penyair di berbagai kota setanah air melakukan Roadshow Puisi Menolak Korupsi. Kegiatan yang dilakukan tidak lari dari merayakan puisi sebagai anak kandung dari kebudayaan itu sendiri:
“Gerakan Puisi Menolak Korupsi berbasis moral dan dan bergerak dalam ranah kebudayaan. Sebagaimana namanya, gerakan ini melakukan aktivitasnya dengan puisi (anak kandung kebudayaan) sebagai sumber ekspresinya. Maka, ia tak akan pernah bisa lepas dengan hal-hal yang terkait dengan puisi (menulis puisi, membaca puisi, mencetak puisi, menerbitkan puisi, mementaskan puisi, merayakan puisi, mendiskusikan puisi dll) selama puisi-puisi tersebut mengolah tema korupsi”.  (Sosiawan Leak)
Sifat dari gerakan PMK adalah nirlaba, independen dan mandiri secara ideologi maupun ekonomi (meminjam kata-kata mas Sosiawan Leak, sang Panglima PMK). Jadi bagaimana PMK bisa menghidupi dirinya sendiri? Ia bergerak dan menjalar  ke berbagai kota dengan sokongan para penyair dari kota-kota yang disinggahi dan ingin  di kotanya dilakukan roadshow. Para penyair lain yang datang ke kota-kota itu pun membiayai diri mereka sendiri tanpa membebankan yang lainnya.

Awal roadshow dilakukan di kota Blitar bulan Mei tahun 2013,  itulah Roadshow PMK pertama kali, kemudian menyusul kota-kota lainnya di Jawa Timur, Tengah dan Barat, Sumatra, Kalimantan dan juga Indonesia Timur, salah satunya (untuk sekarang mungkin satu-satunya) dilakukan di Palu, Sulawesi Tengah pada bulan September 2013. Kebetulan penulis menjadi koordinator Roadshow ke-4 PMK tersebut yang dengan penuh rasa syukur disambangi oleh penyair-penyair kondang tanah air seperti mas Sosiawan Leak, Acep Zam-zam Noor, abah Arsyad Indradi dan mas Wage Tegoeh Wijono.
Road show 4 PMK di Palu.
 
Musikalisasi puisi oleh Abah Arsyad Indradi - Palu (doc. Hilda R)
Selain roadshow, gerakan PMK telah menerbitkan 4 antologi* Puisi Menolak Korupsi dari sekitar 500 penyair Indonesia. Antologi Puisi Menolak Korupsi Jilid 1, Jilid 2a dan 2B, kemudian Jilid Pelajar Menolak Korupsi dimana penulis juga mengirimkan karya-karya anak di salah satu SMP terpencil di kabupaten Manggarai-NTT yang puji syukur masuk dalam seleksi puisi antologi pelajar dari seluruh Indonesia ini.

Tidak terasa, setahun lebih telah berjalan gerakan Puisi Menolak Korupsi, saat ini roadshow sudah sampai ke-27 kota, Desember ini kalau tidak salah roadshow akan diadakan di kota Tanjungpinang. Oh ya, di bulan September 2013 PMK juga telah melakukan roadshow di Gedung KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), Jakarta dihadiri oleh seluruh petinggi KPK pada saat itu, bahkan Abraham Samad sebagai Ketua KPK sempat membacakan puisi. What an inspiring moment at that time for me….

Disisi lainnya, banyak suka dan duka dilalui bersama rekan-rekan penyair seluruh tanah air pada saat mengikuti kegiatan-kegiatan PMK. Rasa kekeluargaan yang melekat erat didalamnya sudah terjalin, sehingga dimanapun penulis pergi selama masih ada di dalam wilayah Indonesia, penulis akan bertemu dengan sahabat-sahabat yang terlibat dengan gerakan ini dan sudah seperti keluarga sendiri layaknya.

Maju terus Gerakan PMK, maju terus penyair tanah air dalam menolak korupsi melalui kebudayaan. Semoga apa yang kita sama-sama lakukan untuk menghancurkan korupsi melalui puisi dapat selalu berjalan maju, meskipun langkah kita kecil, namun makin lama langkah makin panjang, ribuan kilometer telah dilakukan dan akan dilakukan, lagi dan lagi sehingga perjalanan PMK makin lama makin bermakna dan bernas. Aksi kita untuk Indonesia dalam menolak korupsi!

Salam hangat, doa kuat, satu hati menolak korupsi.

Dari Tanah Cendana - NTT (suatu saat mudah-mudahan bisa buat lagi roadshow PMK di sini)

*) Hilda Rumambi


*Sebenarnya baru 3 jilid buku: Jilid I, jilid IIa & IIb, dan jilid III (edisi pelajar Indonesia)

Penyunting Ekohm Abiyasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bila Anda memiliki kesan, pesan/saran maupun masukan atau pengalaman dengan Gerakan PMK, silakan ketik komentar Anda di bawah.

SATU HATI Tolak Korupsi untuk Negeri.