Tampilkan postingan dengan label Road Show 14. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Road Show 14. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Januari 2014

Korupsi Masalah Bersama

Oleh Abdul Salam*

Pada acara diskusi dan pembacaan puisi Banten Menolak Korupsi di Rumah Dunia, (18/01) Dahnil Anzar salah satu pembicara dalam acara tersebut mengatakan, selama ini jika memandang korupsi adalah urusan partai politik, urusan pemerintah itu salah besar. Korupsi adalah masalah kita bersama, masalah orang yang hidup di dunia ini. Lebih fatal lagi kata Dahnil, dosen Untirta yang mengajar ilmu ekonomi ini, jika menganggap korupsi adalah musibah atau cobaan.

Sungguh, negara kita sedang diuji banyak masalah yang menakutkan dan mengancam, dimuali dari banjir yang hampir dua minggu menenggelamkan Kota Jakarta dan sekitarnya, selain itu disusul banjir Bandang di Kota Manado yang menelan 16 korban. Tidak itu saja, gunung Sinabung di Sumatra ikut meletus, akan tetapi dari banyaknya kasus yang menimpa negara ini, kasus korupsi menjadi kasus yang lebih menakutkan dan mendapatkan lebih banyak sorotan media. Ya, kasus korupsi di negara ini semakin merajalela. Untuk itu, para penyair dari pelosok Indonesia yang puisinya tergabung dalam buku antologi “Puisi Menolak Korupsi Jilid ke-2” hadir di Rumah Dunia untuk membacakan puisi-puisinya.

Menurut Sosiawan Leak dalam sambutannya, terbitnya buku antologi menolak korupsi jilid ke-2 ini bentuk sumbangsih para penyair dalam menyikapi korupsi di Indonesia. Harus diingat, "Para penyair yang seharusnya mendapatkan bayaran setelah menulis, akan tetapi sebaliknya penyair yang karyanya dinyatakan lolos seleksi dalam buku ini diminta membayar Rp 150 ribu untuk biaya percetakan buku. Selain itu, para penyair dari pelosok Indonesia; Kalimantan, Bekasi, Bandung dan sebagainya, yang malam ini hadir atas biaya pribadi. Ini bisa kita tandai bahwa begitu besarnya hasrat penyair untuk melawan korupsi".

Acara yang dimulai pada pukul 20:00 WIB, menghadirkan diskusi dengan narasumber Dahnil Anzar, Ahmadun Yossy Herfanda, sastrawan Indonesia dan Feri Patiro dari Cilegon. Tak terduga sebelumnya, acara ini banyak menarik warga sekitar dan masyarakat kampus untuk hadir mengikuti. Ruangan gedung Surosowan Rumah Dunia berkapasitas 75 orang itu terasa sesak dan padat. Bahkan beberapa peserta tidak bisa masuk lantaran penuhnya isi ruangan. Saya meyakini, banyaknya masyarakat datang diacara Banten Menolak Korupsi ini salah satunya didasarkan pada alasan panggilan nurani yang menginginkan negara ini bersih dari korupsi, terutama di Banten yang begitu akut dengan kasus korupsi.

Tetapi dalam hati kecil saya bertanya, pentingkah acara diskusi dan pembacaan puisi menolak korupsi itu diadakan di Banten, entahlah? Sambil duduk di antara kerumunan orang yang mengikuti diskusi dan mendengarkan pembacaan puisi dari para penyair Indonesia dengan bahasa menggebu-gebu, santai dan satir para hadirin saya melihat menikmati sambil tertawa-tawa nyinyir.
Foto - Penyair PMK sedang menonton pameran foto "71,5 KM dari Jakarta"

*Abdul Salam
Relawan Rumah Dunia dan Mahasiswa Untirta Serang.

Sumber Facebook PMK (Gol A Gong)

Senin, 20 Januari 2014

Pernik Road Show 14 di Serang-Banten

Rumah Dunia
RELAWAN DEMOKRASI
"Saya mendapat amanah dari teman-teman saya di KPU Banten, jadi "relawan demokrasi". Saya senang bergabung, karena ada gerakan yang cocok dengan ideologi saya, yaitu "STOP POLITIK UANG". Ini juga sama dengan gerakan "Banten Menolak Korupsi'." Gol A Gong. Sumber.
Mengusir lapar. Abah Arsyad Indradi dan Saiful Hadjar. Sumber.

Rumus Korupsi oleh Dahnil Anzar

Dahnil Anzar. Foto oleh Firman Venayaksa.
Dosen ekonomi Untirta yang tambun tapi ganteng, Dahnil Anzar dengan jernih memaparkan rumus korupsi di Banten di acara "Banten Menolak Korupsi", rangkaian dari road show "Puisi Menolak Korupsi" yang digagas Leak Sosiawan, di Taman Budaya Rumah Dunia.

"Rumus korupsi menurut pandangan saya sebagai dosen ekonomi adalah; monopoli + diskresi (policy) - Transparancy (accountable). 

Banyak pelaku koruptor yang membela diri dengan mengatakan pada media bahwa kasus mereka dipolitisasi, sebuah konspirasi untuk menjatuhkan, dan yang lebih ironis mereka mengatakan bahwa korupsi itu sebuah musibah dari Allah."

Sumber Facebook Gol A Gong. satu, dua

Puisi Menolak Korupsi di Rumah Dunia, Serang-Banten

Ahmad Mukhlis Yusuf. Foto oleh Firman Venayaksa.
Korupsi di Indonesia jika diibaratkan seperti penyakit sudah mencapai stadium empat. Apalagi di berbagai daerah seperti Banten, perkara korupsi sungguh benar-benar sudah kronis. Hal itu bisa ditinjau melalui kasus korupsi para pemimpinnya yang saat ini panas diberitakan oleh berbagai media. Ironisnya, justru masyarakatlah yang harus menanggung bebannya. Namun korupsi sulit pula dihentikan karena sudah sangat menggurita. Maka dari itu, Rumah Dunia sebagai sebuah komunitas nirlaba di Kampung Ciloang, Serang, menyelenggarakan diskusi dengan tajuk, "Banten Menolak Korupsi", pada Sabtu (18/1).

Pada kesempatan itu, Ahmadun Yossy Herfanda (AYH) prosais yang juga penulis buku Puisi Menolak Korupsi (PMK), dosen Untirta, Dahnil Anzar dan Feri Patiro (Pusat Informasi Regional) ditunjuk sebagai pembicaranya. Mereka menyampaikan beberapa argumennya menyangkut korupsi yang tengah melanda pemerintahan di Banten. Dahnil Anzar mengawali diskusi dengan mengatakan bahwa korupsi itu dapat mengancurkan seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat. "Korupsi membuat rakyat miskin, korupsi membuat anak-anak tidak mampu sekolah," ujar Dahnil dalam pemaparannya.

Sementara itu, AYH mengatakan, harus tetap semangat menulis puisi meski korupsi memang sulit dihentikan. Salah satu momennya adalah tetap menyemarakan tema PMK. "Karena puisi adalah ungkapan doa. Sesulit apapun menghadapi korupsi, kita harus tetap perangi dengan ungkapan puisi sebagai media sastranya," kata Ahmadun.

Di sisi lain, Feri Patiro, menyatakan memang dalam memerangi korupsi tidak hanya para aktivis, tetapi juga penyair pun memiliki andil dalam memerangi korupsi. “Mari kita sama-sama perangi korupsi, baik aktivis maupun penyair wajib memusuhi korupsi, sebab itu adalah penyakit yang sangat membahayakan bagi kehidupan kita,” katanya.

Tampak hadir pula para pendiri Rumah Dunia, seperti Gol A Gong, Toto ST Radik, Tias Tatanka dan penasehat Rumah Dunia dan mantan direktur LKBN Antara, A. Mukhlis Yusuf. Kemudian acara tersebut ditutup dengan parade pembacaan puisi oleh para penyair PMK, di antaranya adalah Ahmadun Yossy Herfanda, Sosiawan Leak, Toto ST Radik Gol A Gong, dan Ardian Je. (HS)

Sumber Facebook PMK (Gol A Gong)

* * *
Oleh Rully Ferdiansyah

Kemarin malam, Sabtu 19 Januari 2014, komunitas "Rumah Dunia" adakan acara seni pembacaan puisi menolak korupsi. Banyak hadirin yang berdatangan. Umumnya, gedung seni-budaya "Rumah Dunia" dipadati oleh para ibu-ibu dari PAUD. Acara tersebut diisi oleh diskusi dan klimaksnya pembacaan puisi. Adapun untuk diskusi, tiga narsum memberikan pernyataan seperti di bawah ini;

Dahnil Anzar; "Rumus korupsi menurut pandangan saya sebagai dosen ekonomi adalah; monopoli + diskresi (policy) - Transparancy (accountable). Banyak pelaku koruptor yang membela diri dengan mengatakan pada media bahwa kasus mereka dipolitisasi, sebuah konspirasi untuk menjatuhkan, dan yang lebih ironis mereka mengatakan bahwa korupsi itu sebuah musibah dari Allah. Ini keterlaluan. Kalau mereka sering mengatakan demikian, banyak masyarakat awam terbawa opini mereka. Karena itu, kita sebagai orang yang mengerti harus sering memberikan penyadaran pada orang awam bahwa korupsi itu tindakan kejahatan yang menghabiskan dua tiga generasi bangsa Indonesia. Acara seperti ini memang harus tetap berlangsung. Inilah yang harus jadi budaya.. bukan korupsi."

Ahmadun Yosi Herfanda; "Saya sedih kalau Indonesia dapat fenomena korupsi yang merongrong seperti ini. Anggapan yang mengatakan bahwa 'money is power, everything' membuat saya nambah sedih. Karena itu, mas Sosiawan Leak mengajak saya terlibat dalam kegiatan puisi tolak korupsi, saya angsung kegirangan, antusias mengikutinya. Tapi, apakah puisi bisa mencegah atau mengusir penyakit korupsi? Al-Qur'an saja dikorupsi. Tapi, tidak masalah. Yang penting semangatnya. Bahkan, puisi ini bisa jadi do'a yang mustajab. Semoga dengan puisi yang dibaca di sini bisa menjadi do'a kepada Allah untuk menyelamatkan Banten, menyelamatkan negeri ini dari korupsi."

Iitulah isi omongan narasumber yang saya ingat. Kemudian, saya dan beberapa penggiat puisi menolak korupsi berbincang mengenai masa depan sastra di Indonesia dan kasus korupsi. Sebagai koordinator (PMK), Sosiawan Leak menyayangkan adanya kasus skandal sastra dari penyair seperti "SS" dari Jakarta dan Denny J.A. Ia menceritakan dengan kegetiran kalau orang di setiap kota selalu menanyakan kasus dua skandal tersebut padanya ketika ia hendak menggelar acara pembacaan PMK.

Keprihatinan Leak adalah kepirihatinan kita semua, tapi saya tidak bisa larut dalam kegetiran dua skandal itu. Saya optimis kalau yang namanya puisi ataupun bentuk sastra lainnya selalu "memulihkan" dirinya sendiri. Dulu orang jahiliah di Arab kerap bersyair untuk kegemerlapan duniawi yang memabukkan. Dan, setelah Al-Qur'an turun, para penyair Quraisy terkesiap dengan bentuk diksi dan isi yang sedemikian indah. Sukar ditandingi. Kemudian salah satu ayat Al-Qur'an mengatakan "Hai, para penyair, kalau bisa membuat satu ayat semisal Al-Qur'an, buatlah. Silakan kalau minta bantuan jin, setan, dan semua bala tentaramu. Tapi, kalian takkan mampu menandingi ayat Al-Qur'an".

Ddemikianlah. Semoga acara ini tetap berlangsung hingga korupsi benar-benar hilang dari Banten dan Indonesia secara keseluruhan. (*)

Sumber Facebook PMK (Gol A Gong)

Minggu, 19 Januari 2014

Foto-foto Road Show 14 PMK: Banten Menolak Korupsi (3/3)







Sumber Facebook PMK (Abah Arsyad Indradi)





Sumber Facebook PMK (Abah Arsyad Indradi)

Foto-foto Road Show 14 PMK: Banten Menolak Korupsi (2/3)

Sumber foto Facebook Mas Mono.

Foto oleh Ade Ubaidil. Sumber.

Foto-foto Road Show 14 PMK: Banten Menolak Korupsi (1/3)

Pameran Fotografi 71,5 KM dari Jakarta
Sosiawan Leak selaku koordinator Puisi Melawan Korupsi menjelaskan tentang sejarah gerakan PMK.
Gaya Dahnil Anzar yang menjelaskan mimik mirip Atut Chosiyah.
Ahmad Mukhlis Yusuf selaku penasehat Rumah Dunia ikut urun rembuk
Abah Yoyok
Ardian Je
Gol A Gong
Toto St Radik
Ayu Cipta
Agus Setiawan
Ahmadun Yosi Herfanda
Muhammad Rois Rinaldi
Arsyad Indradi
Mana yang paling berpengaruh?
Workshop menulis cerpen.
Workshop menulis puisi.
Paud Jakarta
Kegiatan Banten Menolak Korupsi yang diselenggarakan oleh Rumah Dunia tanggal 18-19 Januari 2014.

Sumber foto Facebook Firman Venayaksa.

Sumber foto Facebook PMK (Euis Herni).