Kamis, 06 November 2014

Publikasi Road Show 26 PMK Ponpes Darul Ulum Pasuruan Jawa Timur di Muslimedianews dan Website NU

Pesantren Darul Ulum Pasuruan Melawan Korupsi  


Tuesday, 4 November 2014 | garis 09:12.
Pasuruan, Muslimedianews.com ~ Gerakan Puisi Menolak Korupsi (PMK) yang dikomandani penyair Internasional Sosiawan Leak tidak hanya berlaku di sekolahan, kampus, mall maupun masyarakat umum namun juga di pondok pesantren. PMK merupakan gerakan moral para penyair nasional yang tergabung dalam Antologi Puisi Menolak Korupsi. Para penyair tidak hanya menerbitkan buku, namun mereka ikut terjun dalam memberikan pendidikan anti korupsi.

Ada suasana berbeda di Pondok Pesantren Darul Ulum, Karangpandan, Pasuruan. Biasanya para santri identik dengan ngaji kitab kuning dan pengajian yang diisi oleh kyai besar. Namun kali ini para santri justru diajak untuk “Jagongan Budaya” yang dihadiri para penyair nasional. (2/11/2014)

Dengan mengusung tema "Jagongan  Budaya" di Pondok Pesantren Darul Ulum, menjadi tempat Road Show Puisi Menolak Korupsi ke-26. Sebuah gerakan para penyair seluruh Indonesia yang berusaha memberikan pendidikan nilai anti korupsi kepada siapa saja, baik kepada santri, masyarakat umum, guru maupun pelajar.

Hadir para penyair anti korupsi dari sang jenderal gerakan puisi menolak korupsi Sosiawan Leak (Solo), Roosetindaro Baracinta (Surakarta), Bagun Barlen Aji (Jember), Muhammad Lefand (Sumenep), Dimas Indiana Senja (Brebes), Lukni Maulana (Semarang), Arafat Ahc (Demak), Aloet Pati (Pati), Suryahadi (Riau), Syarifuddin Arifin (Padang), Bambang Eka Prasetya (Magelang), Rizki (Magelang), Agustina Thamrin (Banjarbaru Kalimantan Selatan), Dimas Anggara (Demak), dan Kidung Purnama (Ciamis).

Sosiawan Leak mengatakan, bahwa penyakit korupsi telah mengerogoti bangsa ini maka saatnya kita melakukan perlawanan terhadatp perilaku korupsi, salah satunya dengan sadar diri dan tidak berperilaku koruptif.

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Pasuruan Ust. Haedar Hafidz berharap pesantrennya menjadi sentral pondok yang memberikan kontribusi Puisi Menolak Korupsi.

“Dengan puisi kita lawan korupsi,” tambahnya

* Kontributor Lukni Maulana

Ada Jagongan Budaya di Pesantren Pasuruan
Rabu, 05/11/2014 10:06
Pasuruan, NU Online
Ada suasana berbeda di Pondok Pesantren Darul Ulum, Karangpandan, Pasuruan. Para santri yang biasa ngaji kitab kuning, malam itu menggelar “Jagongan Budaya”. Bukan sekedar jagongan, justru para santri diajak untuk memaknai kediriannya tentang pendidikan antikorupsi.

Jagongan  Budaya di Pondok Pesantren Darul Ulum tersebut dalam rangka Road Show Puisi Menolak Korupsi ke-26. Sebuah gerakan para penyair seluruh Indonesia yang berusaha memberikan pendidikan nilai antikorupsi kepada siapa saja, baik kepada santri, masyarakat umum, guru, maupun pelajar.

Hadir pada Pasuruan Ahad (2/10) itu para penyair dari Sang Jenderal Gerakan Puisi Menolak Korupsi, Sosiawan Leak (Solo), Roosetindaro Baracinta (Surakarta), Bagun Barlen Aji (Jember), Muhammad Lefand (Sumenep), Dimas Indiana Senja (Brebes), Lukni Maulana (Semarang), Arafat Ahc (Demak), Aloet Pati (Pati), Suryahadi (Riau), Syarifuddin Arifin (Padang), Bambang Eka Prasetya (Magelang), Rizki (Magelang), Agustina Thamrin (Banjarbaru Kalimantan Selatan), Dimas Anggara (Demak), Kidung Purnama (Ciamis).

Kemeriahan tampak sekali di pondok pesantren ini. Suguhan pembacaan puisi, teatrikalisasi puisi dan musikalisasi puisi. Road show pembacaan puisi menolak korupsi tidak hanya diikuti oleh para penyair nasional dan santri namun juga diikuti para ustadz pondok dan kiai Pondok Pesantren Darul Ulum Pasuruan.

Haedar Hafidz selaku pengasuh pondok pesantren Darul Ulum mengatakan, pihaknya ingin memberikan pentingnya pendidikan anti korupsi kepada para santri.

“Korupsi harus diperangi dan ini merupakan jihad. Dan semoga Pondok Pesantren Darul Ulum Pasuruan menjadi sentral pondok yang memberikan kontribusi Puisi Menolak Korupsi,” tutur Haedar. “Dengan puisi kita lawan korupsi,” tambahnya. (Lukni Maulana/Mahbib)
Sumber: nu.or.id


Ketika Kaum Santri Tolak Korupsi Melalui Sebuah Puisi

Kamis, 13/11/2014 23:00

Pasuruan, NU Online
Penolakan terhadap korupsi terus mengalir dari sejumlah kalangan, salah satunya dari para kaum santri yang dengan tegas berkomitmen menolak adanya korupsi melalui sebuah puisi. Hal itu seperti yang dilakukan puluhan santri Pondok Pesantren Darul Ulum Karangpandan, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan.

Para santri yang biasa mengaji kitab kuning tersebut, Ahad malam itu menggelar sebuah acara yang dikemas berupa "Jagongan Budaya". Dalam acara yang bertajuk "Dengan Puisi, Kutolak Korupsi itu" itu, mereka secara bergantian mendeklamasikan puisi-puisi yang berisikan tentang penolakan terhadap korupsi.

Acara ini sendiri juga sekaligus merupakan salah satu rangkaian dari road show Puisi Menolak Korupsi. Sebuah gerakan sejumlah penyair Indonesia yang berusaha memberikan pendidikan nilai antikorupsi kepada siapa saja, baik masyarakat umum maupun kaum santri.

Turut hadir dalam acara itu belasan penyair dari berbagai daerah di Tanah Air, diantaranya yaitu: Koordinator Gerakan Puisi Menolak Korupsi, Sosiawan Leak (Solo), Agustina Thamrin (Banjarbaru Kalimantan Selatan), Syarifuddin Arifin (Padang), Bambang Eka Prasetya (Magelang), Muhammad Lefand (Sumenep), Dimas Indiana Senja (Brebes), Lukni Maulana (Semarang), Arafat Ahc (Demak), Aloet Pati (Pati), Suryahadi (Riau), Rizki Indah Ferina (Magelang), serta beberapa penyair lainya.

Pantauan NU Online, acara menjadi semakin meriah ketika sejumlah santri setempat menampilkan parade puisi dengan berkolaborasi antara teatrikalisasi dan musikalisasi puisi. Bahkan, terdapat salah satu parade puisi yang dibacakan 9 santri Darul Ulum Karangpandan ini, sempat menarik perhatian para undangan. Pasalnya puisi yang dibacakan para santri itu layaknya seperti membaca sebuah nadzoman kitab dengan diiringi alat musik tradisional.

Koordinator PMK, Sosiawan Leak mengatakan, bahwa road show yang dilakukannya di Ponpes pimpinan KH. Ishomuddin Mashum itu, merupakan road show yang ke-26. "Sebelumnya kami sudah menggeber ­road show ini ke beberapa daerah lainnya di Indonesia, dan sekarang ini baru giliran di Pasuruan," ucap penyair asal Solo tersebut.

Selain itu, Leak menjelaskan, gerakan PMK mengambil posisi sebagai gerakan kultural untuk melengkapi gerakan lainnya yang dilakukan sejumlah unsur dari berbagai lapisan masyarakat. "Gerakan ini tentu saja menjadi media dan sarana bagi penyair untuk menyatakan sikap tegas menolak nilai-nilai kehidupan yang korup," terangnya kepada NU Online saat ditemui seusai acara.

Sementara itu, Haedar Hafidz selaku pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum mengatakan, bahwa dengan adanya acara semacam ini, pihaknya ingin memberikan wawasan mengenai pentingnya pendidikan anti korupsi kepada para santrinya.

"Wawasan mengenai korupsi perlu ditanamkan kepada para santri. Sebab korupsi harus diperangi, lantraran ini merupakan jihad," pungkas pria yang juga pendiri Rumah Sastra tersebut. (shohibul hujjah/mukafi niam)

Sumber: nu.or.id


Puluhan Penyair dan Santri Baca Puisi Tolak Korupsi

0
Rejoso (Kabarpas.com) – Puluhan penyair dari berbagai daerah di Tanah Air membaca puisi tolak korupsi bersama sejumlah santriwan-santriwati Pondok Pesantren Darul Ulum Karangpandan, Rejoso, Kabupaten Pasuruan. Minggu malam, (02/11/2014).
Dalam acara yang dikemas dengan tema Jagongan Budaya itu, dimulai sejak pukul 19.00 wib hingga tengah malam. Acara ini sendiri merupakan salah satu rangkaian dari road show para penyair Indonesia yang karyanya tergabung dalam buku antologi Puisi Menolak Korupsi (PMK).
Pantauan Kabarpas.com di lapangan, satu persatu penyair dari PMK itu dan beberapa orang santri secara bergantian mendeklamasikan puisi karya mereka di atas panggung yang disaksikan ratusan warga dan santri Ponpes Daru Ulum Karang Pandan.
Salah satu puisi yang sempat menarik perhatian para undangan ialah parade pembacaan puisi yang dilakukan oleh 9 orang santri setempat. Pasalnya puisi yang dibacakan para santri itu ialah layaknya seperti membaca sebuah nadzoman kitab, dengan diiringi alat musik tradisional.
Koordinator PMK, Sosiawan Leak mengatakan, bahwa road show yang dilakukannya di Ponpes pimpinan KH. Ishomuddin Mashum itu, merupakan road show yang ke-26. “Sebelumnya kami sudah menggeber ­road show ini ke beberapa daerah lainnya di Indonesia, dan sekarang ini baru giliran di Pasuruan,” ucap penyair asal Solo tersebut.
Selain itu, Leak menjelaskan, gerakan PMK mengambil posisi sebagai gerakan kultural untuk melengkapi gerakan lainnya yang dilakukan sejumlah unsur dari berbagai lapisan masyarakat. “Gerakan ini tentu saja menjadi media dan sarana bagi penyair untuk menyatakan sikap tegas menolak nilai-nilai kehidupan yang korup,” terangnya kepada Kabarpas.com saat ditemui seusai acara.
Menurutnya, semua orang dari berbagai kalangan berhak untuk menolak korupsi, sebab kata dia tindak korupi merupakan sebuah perbuatan yang dapat merugikan masyarakat dan negara. Hal itu sudah tertera dalam perundangan, Pasal 1 angka 3 UU no 30 tahun 2002 tentang KPK yang mempertegas keterlibatan masyarakat di dalam pemberantasan korupsi.
“Kami menyadari bahwa puisi tidak bisa digunakan untuk melawan secara langsung apalagi untuk menghakimi atau memvonis para koruptor. Karena puisi tidak berada dalam wilayah penindakan layaknya instansi yang berkompetensi seperti kepolisian, kehakiman dan KPK. Namun, melalui puisi setidaknya bisa dilakukan pencegahan,” jelasnya.
Sementara itu, salah satu pengasuh Ponpes Darul Ulum Karangpandan, Gus Haidar Hafeez mengatakan, bahwa selama ini di pesantrennya tersebut, sudah diterapkan salah satu pelajaran khusus mengenai dunia sastra. Sehingga hal itu kemudian diaplikasikan dengan adanya kegiatan tersebut.
“Dan Alhamdulillah, saat ini sudah ada 18 santri dan pelajar kami yang karyanya lolos seleksi puisi nasional yang digawangi oleh mas Leak. Itu menunjukkan kalau santri kami sudah mampu berbicara tentang sastra di level nasional. Sebab untuk bisa lolos, harus melalui tahapan seleksi yang cukup ketat,” pungkasnya. (ajo/uje).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bila Anda memiliki kesan, pesan/saran maupun masukan atau pengalaman dengan Gerakan PMK, silakan ketik komentar Anda di bawah.

SATU HATI Tolak Korupsi untuk Negeri.