Kamis, 27 Maret 2014

Buku PMK Jilid 3: IMUNISASI KORUPSI


IMUNISASI ANTI KORUPSI

Dulu, untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit tertentu kita musti melakoni kesakitan dan ketidakstabilan suhu badan dalam beberapa hari lantaran diimunisasi. Rasa ngilu di organ tubuh tempat jarum suntik ditusukkan, berikut keloyoan menyergap badan berhari-hari bahkan hingga semingguan. Kita bakal dihinggapi meriang, pening, lidah pahit, hidung meler, hingga ngedropnya nafsu makan.

Kadar kesakitan yang menyertai proses imunisasi --kala kuman dimasukkan lewat jarum suntik yang ditusukkan di bagian tertentu tubuh-- tergantung kepekaan bagian tubuh itu. Semakin kerap ditusuk sebelumnya, semakin tak terisaukan sakitnya. Kadar kesakitannya juga tergantung dari jenis kuman, serta sebanyak apa ia diselundupkan. Semakin banyak kuman dikirimkan, tentu saja akan semakin lama efek sakitnya terasa di bagian tubuh yang disuntik itu. Demikian pula bakalan kian lama keloyoan menawan badan.

Konon, (menurut bapak/ibu guru) kuman yang dimasukkan saat imunisasi disesuaikan dengan jenis penyakit yang kita inginkan kekebalannya. Dengan terlebih dahulu dipingsankan dan ditidakberdayakan, para kuman itu disusupkan ke tubuh kita. Pemingsanan dan penidakberdayaan itu dilakukan agar manakala mereka mendarat dalam tubuh, dapat ditaklukkan dengan gampang oleh antibodi (laskar kebaikan) yang menjaga teritori kesehatan kita. Para laskar kebaikan itulah yang nantinya akan melucuti para kuman tersebut dan memaksa mereka ganti uniform, pindah keberpihakan, malih rupa menjadi laskar kebaikan yang mendukung kesehatan badan. Lantas, jika belakangan hari ada jenis kuman tertentu --serupa mereka-- menyerang tubuh kita, laskar malihan itulah yang bakal menangkalnya. Mereka itulah yang menyebabkan tubuh kita kebal terhadap suatu penyakit. Itulah kenapa saat kecil kita kerap melakoni beberapa kali imunisasi. Belakangan, imunisasi atas beberapa penyakit bahkan dilakukan secara dini sejak bayi. Padahal di masa sebelumnya, hampir semua proses imunisasi atas berbagai penyakit kerap dilakukan di sekolahan, utamanya saat di Sekolah Dasar.

Sayang, perlakuan kita terhadap penyakit rohani tak sama dengan perlakuan terhadap penyakit jasmani. Sehingga pencegahan dan perlawanan terhadap penyakit moral (bagian dari rohani) semacam korupsi sungguh berbeda dengan yang kita lakukan terhadap penyakit fisik pengancam kesehatan badan.

Dulu, di setiap keluarga dan lingkungan pergaulan, intensitas perjumpaan yang hangat dan akrab kerap diisi dengan obrolan, sapaan, guyonan, hingga hardikan menyoal konsep benar dan salah secara moral. Di masyarakat kita pun kebak berbagai pantangan dan seruan untuk menghindari pamali atau mengerjakan kautaman tindakan yang terpatri lewat nilai-nilai tradisi dan aneka kepercayaan (kearifan) lokal. Beragam aturan adat dan peradaban berujud pantangan dan ajakan itu --sebagaimana obrolan dalam keluarga-- senantiasa membeber soal moral. Dan, pelajaran moral yang jadi materi penting dalam keluarga dan lingkungan adalah soal mencuri dan berbohong, beranjak dari kasus-kasus sederhana. Kedua hal itulah (mencuri dan berbohong) yang belakangan hari menjadi fondasi terbangunnya laku korupsi.

Dulu, ketika menimba ilmu di sekolah, ajaran moral dan budi pekerti senantiasa beterbangan di udara terbuka yang bisa kita hirup di seluruh lingkungan sekolah dengan leluasa. Ajaran semacam itu tidak hanya digelar di dalam ruangan pada saat jam pelajaran agama, pendidikan moral, dan kewarganegaraan saja. Namun telah mulai dipraktekkan pelaksanaannya sejak masuk gerbang sekolah hingga meninggalkannya. Bahkan mereka kerap ikut pulang ke rumah hingga kita ceritakan kepada ibu dan ayah. Pelajaran moral tentang jahatnya berbohong dan mencuri dalam wujud mencontek, menjiplak, dan ingkar janji. Hal-hal sederhana yang kini menjelma benih utama tumbuhnya laku korupsi. Sebab ternyata korupsi hanya bisa terjadi jika pelakunya mampu mencuri dan berbohong. Mencuri diperlukan; karena korupsi adalah mengambil yang bukan miliknya. Berbohong dibutuhkan; karena setiap laku korupsi membutuhkan kebohongan (rekayasa) terkait dengan tugas dan kewenangan (kekuasaan) yang menyimpang.

Kini, jasmani kita makmur dan sejahtera salah satunya karena kita rajin melakukan imunisasi sejak dini. Tapi siapa yang menjamin rohani kita sehat dan sentosa, apalagi tanpa adanya imunisasi budi pekerti?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bila Anda memiliki kesan, pesan/saran maupun masukan atau pengalaman dengan Gerakan PMK, silakan ketik komentar Anda di bawah.

SATU HATI Tolak Korupsi untuk Negeri.