Oleh: Rg Bagus Warsono
Disampaikan dalam Road Show PMK di Kec. Sukra Indramayu, Jumat 20 Juni 2014
Pemberantasan korupsi setengah hati
Adalah Indonesia di 2013 ini. Sebuah negeri yang mendambakan bebas dari
korup tetapi cita-cita itu digarap dengan setengah hati. Sejak masalah
korupsi dimasukkan dalam ketetapan MPR di awal reformasi, garapan
pemerintah yang berkuasa sepanjang era ini sampai sekarang dapat diambil
kesimpulan hanyalah dagelan dan suguhan tontonan yang klasik bagi
bangsa ini. Karena hasil dari kerja pemerintah yang berkuasa dari mulai
pemerintahan BJ Habibie, Abdurrachman Wahid, Megawati, sampai SBY tak
ada prestasi yang cukup dinilai baik dalam ukuran nasional tentang
garapan pemberantasan korupsi.
Semua hanya omong kosong/bualan,
slogan verbalis, dan program ngambang yang bertujuan untuk membodohi
rakyat. Berapa trilyun uang negara yang dikorupsi dan berapa uang yang
kembali, serta berapa oknum yang menjadi tersangka dan berapa orang yang
korup dijebloskan penjara masih belum mencapai prosentase yang dapat
dinilai baik.
Harapan rakyat kepada penegak hukum akan pemberantasan
korupsi sebetulnya sudah dipercayakan pada penyelenggara penegakan
hukum itu seperti Kepolisian, Kejaksaan, Kehakiman, sampai KPK, namun
rakyat hanya menaruh harapan terus menerus tanpa melihat hasil yang
berdampak pada perubahan karakter bangsa ini. Malah justru perilaku
korup semakin menjadi-jadi. Akhirnya tumpuan harapan kepercayaan itu
makin tak jelas dan akhirnya menjadi masa-bodoh dan akhirnya terserah
saja pada yang menyelenggarakan pemerintah ini.
Bermula
Dunia
sastra Indonesia 2013 dikejutkan dengan adanya karya puisi menolak
korupsi yang ditulis oleh sastrawan se Nusantara. Seperti tersiram hujan
semua rumput “nglilir” bergerak dan serentak dalam satu keinginan untuk
negerinya menolak korupsi di Tanah Air ini. Lebih dari 200 sastrawan
dari seluruh penjuru Tanah air terlibat menulis dalam antologi puisi
yang bertema Puisi Menolak Korupsi (PMK). Adalah Leak Sosiawan (47)
sastrawan asal Solo yang memiliki gagasan yang pada mulanya merupakan
kegiatan seni sastra dengan menerbitkan antologi puisi menolak korupsi
kini telah menjadi sebuah gerakan nasional dari kalangan sastrawan yang
merasa terpanggil untuk menyelamatkan Indonesia dari bahaya korupsi.
Sumbangsih penyair untuk negeri
Dunia menyoroti kita sebagai salah satu negeri terkorup. Negara-negara
donatur sudah geram melihat tingkah pejabat kita yang korup. Media
bingung memberitakan kasus korupsi yang mana yang harus di beritakan
pagi hari, karena saking banyaknya kasus korupsi yang masuk di meja
redaksi. Alim ulama tak henti-henti menggemborkan untuk menyelamatkan
negeri ini.
Sesekali tokoh muncul anti korupsi hanya untuk meraih
suara, sudah itu ia juga termasuk dan melakukan korupsi. Lalu yang
berteriak lantang membasmi korupsi kemuadian teriakan itu menjadi lagu
nostalgia yang membikin orang kantuk. Pendek kata hanya isapan jempol
semata.
Di sinilah penyair dengan berbagai keberadaannya yang sama
sekali tidak ada perhatian dari pemerintah, bahkan boleh jadi pada
komunitasnya yang ‘terpinggirkan’ dan mungkin ‘terbuang’ ikut memberikan
sumbangsih dalam menyelamatkan negeri ini dari acaman bahaya korupsi.
Melalui karya Puisi Menolak Korupsi mereka suguhkan untuk khalayak
masyarakat Indonesia untuk dapat memberikan apresiasi terhadap karyanya.
Diharapkan melalui karya ini dapat mengajak masyarakat untuk menolak
korupsi di mana pun tempat.
Kelihatannya seperti tak ada artinya
puisi menolak korupsi atau penyair menolak korupsi. Penegak hukum yang
memiliki tanggung jawab pemberantasan korupsi yang ada di Indonesia juga
susah menghadapi masalah korupsi ini, apalagi penyair yang tak punya
apa-apa. Ditilik dari tindakan mungkin belum ada arti, namun melalui
puisi menolak korupsi yang dibaca jutaan manusia Indonesia akan dapat
menyentuh hati. Ia tidak saja sebagai penyejuk atau siraman air untuk
otak manusia, tetapi telah memberikan wacana mendasar bahwa penyair
Indonesia telah berbuat untuk negerinya, sebagai sumbangsih karya untuk
Tanah Air tercinta.
Jangan sampai korupsi menjadi budaya
Masalah korupsi bukankah sudah ada sejak negara ini berdiri? Namun
sebelumnya hal korupsi belum marak seperti sekarang ini. Masalah
korupsi hampir terjadi di setiap pelosok negeri. Pelakunya dari pangkat
terendah sampai pucuk pimpinan, dari pegawai rendahan sampai mentri,
dari pejabat tingkat RT sampai Presiden dan beraneka profesi yang
melakukannya. Wabahnya bak penyakit menular yang juga menyerang mantri
pembasmi penyakit itu. Berangkat dari merajalelanya masalah korupsi yang
sudah menasional ini bagaikan sebuah budaya baru yang dilakukan
masyarakat, para penyair merasa prihatin melihat kejadian wabah korupsi
yang terjadi di mana-mana ini.
Mengapa gunakan puisi
Sebuah
pertanyaan kenapa puisinya yang menolak korupsi tidak penyairnya? Jika
ini sebuah gerakan para penyair kenapa bukan penyair yang harus di
depan? Pertanyaan di atas tidaklah harus disamakan dengan profesi lain.
Sebab menurut sejarah, lebih berani tulisannya ketimbang orangnya. Lebih
tajam pena-nya ketimbang lidahnya, lebik kritis kalimatnya ketimbang
pendapatnya. Oleh karena itu para penyair gunakan produknya sebagai
senjata untuk melawan korupsi.
Lebih dari itu sebetulnya produk
sastra sangat erat dengan penulisnya. Undang-undang hak cipta begitu
memberi kekuatan yang tak terpisahkan antara penulis dan karyanya. Jadi
sebetulnya produk sastra tersirat di belakang sosok penulisnya. Jika
demikian jelas pesan yang dituangkan dalam karya sastra sebetulnya
adalah hasil pemikiran penulisnya. Puisi menolak korupsi ini otomatis
penyair yang mencipta puisi itu juga menolak korupsi.
Dalam diri
hati manusia ada sisi baik dan sisi buruk. Siap orang yang waras
menginginkan kehidupan yang baik. Sisi buruk yang ada hanyalah pembatas
untuk tidak melakukannya. Sisi baik dan buruk selalu seiring pada diri
manusia yang memiliki nafsu. Ini tergantung neracanya. Karena itu sisi
buruk manusia perlu diisi dengan agama, aturan, pendidikan dan norma
hidup. Sehingga sisi buruk itu terbelenggu dan tidak akan keluar dari
nafsu manusia. Puisi sebagai karya sastra memiliki nilai berbagai macam
sentuhan hati. Sebab puisi yang diciptakan oleh para penyair terkandung
menitipkan pesan-pesan kebaikan yang beraneka. Akhlak, budi pekerti,
budaya luhur, norma adat, peraturan, pantangan dan sebagainya terdapat
dalam puisi. Hampir tiap puisi yang dibuat terkandung unsur intrinsik
pesan-pesan tersebut dan intrinsik inklusif dalam Puisi Menolak Korupsi
adalah masalah korupsi.
Antologi puisi terbesar
Penerbitan
antologi bersama (PMK) merupakan sebuah karya buku bersama. Sejak
Angkatan Pujangga Baru telah ada penyair-penyair yang menerbitkan
antologi bersama. Isi bisa satu tema, namun juga bisa berbeda tema atau
beraneka tema puisi. Ada berbagai tujuan untuk menbuat antologi bersama:
1. Memenuhi standar ketebalan buku, 2. mengetengahkan bahwa pemilik
gagasan (tema) bukan oleh seorang penyair tetapi lebih dari seorang
penyair dengan maksud pembaca untuk mengapresiasi lebih terhadap isi
yang melekat dengan sosok penyairnya, 3. Memenuhi angkatan pujangga pada
saat itu, 4. Memberikan kekuatan pada buku bahwa buku itu kelak dapat
dibaca oleh publik tidak saja fans seorang sastrawan tertentu, tetapi
lebih dari satu sastrawan yang juga memiliki fans-nya, 5. Semangat untuk
sebuah gagasan dari isi sebuah pesan. Dan yang terakhir ini, pada buku
PMK ini, saya melihat semangat para penyair untuk sebuah gagasan
(menolak korupsi di Tanah Air) lewat sebuah pesan (isi puisi) lebih kuat
tampaknya. Agaknya Leak Sosiawan tidak memandang siapa penyairnya, dari
golongan apa penyairnya, atau dari mana asal penyairnya yang penting
adalah sumbangsih karya puisi itu. Lebih dari itu Leak Sosiawan telah
diterima oleh setiap pengirim puisi untuk memilah dan menentukan
kelayakan sebuah puisi laik terbit. Namun ia senantiasa menghargai bobot
karya dari siapa pun karena memang pertimbangan no. 2 dan 4 di atas
dari tujuan membuat puisi bersama. Yang terakhir adalah, bahwa semua
orang bisa melakukan seperti meniru, tetapi orang pertama yang
mencetuskan/menciptakan/menggagas/menelorkan ide itu harus dihargai.
Multi angkatan
Dalam kurun hampir setengah abad perjalanan negeri ini (sejak 1966)
perjalanan sastrawan kita hanya membuat karya yang bagus serta
kreativitas karya kekinian (modern) namun sulit dibuat angkatan.
Bolehlah pada kritikus sastra atau sastrawan membuat angkatan
kesusastraan, dengan alasan yang berbeda-beda. Itu sah-sah saja.
Angkatan Reformasi, Angkatan 2000 tak menjadi masalah sejauh referensinya
dapat diterima. Di antologi PMK terdapat beberapa nama penyair yang
terkenal dan termasuk dalam angkatan-angkatan sastrawan sebelumnya.
Seperti Ahmadun Yosi Herfanda, Tajuddin Noor Ganie, Isbedy Stiawan ZS,
Gol A Gong, Acep Zamzam Noor, Jamal D Rahman dan lain-lain yang
termasuk dalam angkatan 80-an, angkatan 90-an, atau angkatan 2000 .
Bahkan jika dilihat dari usia ada penyair PMK yang berusia 60 tahun dan
juga yang masih dibawah usia 30. Meskipun gelombang reformasi mengganti
orde baru, karya satra berikut sastrawannya tidak mengiringi perubahan
bangsa ini. Hal demikian dikarenakan reformasi yang sampai sekarang
masih berjalan tersendat-sendat.
Menembus 2,5 juta pembaca
Antologi bersama dapat menjadi sebuah dokumen sastra yang bersifat
nasional dan memenuhi banyak pembaca serta menjadi bahan rujukan.
Sebagai contoh antologi puisi yang ditulis oleh banyak penyair dari
berbagai penjuru Tanah Air akan mampu menembus pembaca hingga jutaan
manusia. Buku Antologi puisi Menolak Korupsi kurang lebih ditulis oleh
284 penyair Indonesia dan 291 karya pelajar atau berjumlah 575 peserta
pengisi antologi. Jika setiap penyair memiliki keluarga, teman, fans,
dan anak asuh sastra di sanggar saja maka setiap penyair mambawa 200
pembaca buku tersebut. Maka buku antologi bersama akan menembus ratusan
ribu pembaca.
Sengaja penulis tidak menghitung buku yang dicetak.
Menghitung pembaca dari buku yang dicetak akan sulit ditaksir. Kecuali
buku tersebut telah terjual dan menjadi best seller. Ini juga dengan
menggunakan prinsip buku yang terjual pasti dibaca pembelinya meskipun
tidak semua pembeli buku membaca buku yang dibelinya sampai tamat.
Keunggulan buku antologi bersama secara geografis terkadang memenuhi
keterwakilan publik di suatu daerah. Hal demikian dikarenakan sastrawan
biasanya merupakan tokoh masyarakat di daerahnya. Semakin banyak
keterwakilan sastrawan dari berbagai daerah, bahkan daerah terpencil
maka semakin banyak jumlah pembacanya.
Antologi bersama sangat
menguntungkan nama penyairnya dikarenakan melalui buku itu masing-masing
dikenalkan kepada penyair lainnya dalam buku itu. Yang sudah populer
akan semakin dikenal masyarakat dan yang baru meniti tangga mulai
dikenalkan lewat karya dalam buku itu.
Antologi yang demikian
menjadi Antologi puisi yang berstandar nasional pada ukuran pembaca.
Demikian karena ukuran kelayakan sebuah buku adalah layak dibaca dan
pernah dibaca. Contoh saja misalnya dalam lomba perpustakaan, ukuran
keberhasilan adalah pembaca. Terbiasa sekali juri lomba perpustakaan
mengukur jumlah pengunjung sebagai faktor utama, bukan gedung dan bukan
bukunya yang tebal-tebal dan mahal.
Antologi bersama memerlukan
standar isi agar bermutu. Karenanya perlu menampilkan team penyeleksi
puisi peserta antologi. Bukan penyair peserta pengisi antologi tetapi
karya peserta itu yang diseleksi. Jadi dua hal penting antologi bersama
yakni pembaca dan puisi peserta antologi.
Hal pembaca sastra
Indonesia kebanyakan didominasi pelajar dan mahasiswa pada status sosial
lain masih demikian rendah. Menempati urutan kedua adalah pendidik.
Pembaca sastra Indonesia banyak dimotori/digelorakan oleh para pendidik
itu kepada siswa dan mahasiswanya. Andai saja mereka turut membantu karya
sastrawan, maka pembaca sastra Indonesia akan meningkat, sebab
sepertiga jumlah penduduk Indonesia adalah anak-anak dan remaja!
Di antara para pengisi antologi ini terdapat banyak penyair yang juga
berprofesi sebagai pendidik. Seringkali buku PMK dijadikan bahan ajar
pelajaran sastra di sekolah-sekolah maka bukan mustahil buku yang
dicetak terbatas diperuntukkan untuk penulisnya ini banyak dibaca siswa.
Kemudian kegiatan-kegiatan peluncuran antologi PMK, bedah buku PMK,
Lomba baca PMK, serta road Show PMK menambah jumlah pembaca. Kini
kegiatan road Show PMK telah lebih dari 20 tempat dilaksanakan di Tanah
Air.
‘Road Show’ puisi denyut nadi PMK sepanjang tahun
Belum
pernah sebelumnya ada buku antologi puisi di-‘roadshow’-kan ke
sejumlah kota untuk apa? Apakah belum cukup populer dengan sekali
peluncuran? Apakah belum menyentuh sasaran? Atau ini merupakan
roadshow-nya penyair PMK? Jawabnya adalah seperti dikatakan Sosiawan
Leak yakni kemandirian yang menjadi dasar digulirkannya program Road
Show Puisi Menolak Korupsi. Isi road show bisa dalam wujud pembacaan
puisi, pentas seni, seminar, diskusi, orasi, lomba baca puisi, lomba
cipta puisi dan lain-lain yang dilakukan secara otonom di berbagai kota,
dikoordinir oleh penyair PMK yang mukim di kota tersebut. Ini artinya
bahwa untuk melaksanakan gerakan PMK itu dilaksanakan tanpa paksaan dari
siapa pun yang turut tergerak hatinya untuk berpartisipasi melawan
korpsi dengan cara kegiatan sastra seperti disebutkan Sosiawan Leak
sebagai gerakan sikap para penyair untuk melwan korupsi dengan caranya.
Bermula di wujudkan dengan road show-nya di area Makam Proklamator terus
merambah ke kota-kota di seluruh Tanah Air dan pada 27 September 2013
road show-nya VI di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi di Jakarta.
Peserta pengisi antologi terbanyak dalam sejarah
Siapa-siapa saja mereka (penyair itu yang terlibat) adalah para penulis
puisi dalam antologi Puisi Menolak Korupsi, mereka adalah Penyair
Indonesia yang ikut menulis di buku Antologi Puisi Menolak Korupsi (PMK). Untuk melihat siapa saja penyairnya, bisa ke halaman
Penyair Pendukung atau ke sumber artikel ini.
*penyunting Ekohm Abiyasa
Sumber atau postingan serupa: