Selasa, 15 Desember 2015

Menolak Korupsi dengan Puisi


MENOLAK KORUPSI DENGAN PUISI
*Dimas Indianto S. M.Pd.I.


Pada 23 Desember 2009, sebuah buku berjudul “Membongkar Gurita Cikeas: di Balik Skandal Century” karangan George Junus Aditjondro menyita perhatian masyarakat Indonesia. Buku setebal 183 ini menuai banyak komentar karena tercatutnya nama orang-orang penting seperti Presiden SBY, empat yayasan yang ditengarai berafiliasi dengan SBY, dan Ny. Ani Yudhoyono, Ramadhan Pohan, Jero Wacik, Hatta Rajasa, Edhie Baskoro, dan sederet nama para politikus lainnya. Buku yang diterbitkan oleh GalangPress ini banyak membeberkan indikasi kebusukan sistem oligarki atau mengguritanya persekongkolan kotor dalam tubuh pemerintahan SBY ketika itu.
Keberadaan buku itu menjadi bukti, bahwa George sebagai bagian dari masyarakat sipil mampu membuat gerakan usaha pemberantasan korupsi melalui gerakan literasi. Bahkan selain membuat polemik berkepanjangan, lima hari setelah launching, 27 Desember buku ini sudah menghilang dari pasaran. Ini adalah indikasi bahwa ada pihak yang takut pada kebenaran atau data-data yang disuguhkan dalam buku ini. Potret ini menjadi bukti bahwa untuk menakuti koruptor tidak melulu dengan teriakan, demontrasi, bahkan mogok makan yang kerap dilakukan mahasiswa yang kadang tidak membuahkan hasil. Melalui tulisan yang menarik, George ternyata bisa membuka mata masyarakat Indonesia tentang sebuah praktik korupsi yang dilakukan para petinggi negeri ini.
Genealogi Korupsi
Jika menengok sejarah, korupsi memang suatu hal yang sudah sangat membudaya. Bahkan merupakan salah satu penghancur peradaban manusia. Di Mesir, Babilonia, Cina, India, Yunani, bahkannRomawi Kuno, korupsi memunculkan masalah yang dahsyat. Dalam ensiklopedi Britanica (1962), diungkapkan bahwa Hammurabi dari Babilonia yang naik tahta sekitar tahun 1200 SM memerintahkan seorang gubernur untuk menyidik perkara penyuapan terhadap aparat birokrasinya. Driver & Miles dalam The Babylonian Laws (1952) menulis, bahwa di tahun 200 SM, Shamash, Raja Assiria pernah menjatuhkan vonis pidana kepada seorang hakim yang menerima uang suap atau dalam eufemisme kita disebut uang pelicin.
Aksi-aksi korupsi oleh para pejabat birokrasi, berdampak mengerikan. Pada era kejayaan Romawi, misalnya, tindakan korupsi yang dilakukan oleh aparat birokrasi membuat kerajaan itu menjadi bangkrut. Frank dalam An Economic Suurvey of Ancient Rome (1959) menulis, bahwa Raja Romawi, Julius Caesar, memberi contoh paling buruk dalam sejarah birokrasi negaranya. Dia merampas harta kekayaan provinsi untuk keuntungan pribadinya. Ketika menyerbu Spanyol, Sang Raja Romawi itu dililit utang ekstra besar. Dengan terjun ke medan perang itu, dia bermaksud melakukan pengelabuan untuk membebaskan diri dari belenggu utang tersebut, sekaligus untuk menghapus citra dirinya sebagai pejabat paling korup pada saat itu.[1]
Seperti halnya di banyak negara, perilaku koruptif di Indonesia sudah berlangsung sepanjang sejarah. Secara kualitatif, puluhan tahun lalu Bung Hatta pernah memberikan label atas hal itu sebagai telah membudaya. Bahkan dalam formulasi kuantitatif yang relatif, Begawan ekonomi Indonesia, Prof. Soemitro Djojohadikusumo pernah mengemukakan pernyataan kontroversial, bahwa kebocoran anggaran pembangunan di Indonesia mencapai 30 persen.
Perlawanan dengan Jalan Bahasa
Diibaratkan sebuah penyakit, Korupsi adalah sebuah penyakit mematikan yang mudah menjangkit manusia. Sekali saja seorang manusia lengah dari kebersadaran diri, ia akan bisa terkena godaan penyakit yang satu ini. Oleh karena sifatnya yang lentur dan tidak nampak, korupsi menjadi godaan yang menggiurkan. Betapa tidak, di era serba cepat, efek globalisasi yang menawarkan hal-hal hedonis-pragmatis, siapapun sangat dengan mudah tergiur untuk mendapatkan “hasil” lebih banyak, dengan kinerja yang tidak begitu berat. Sekalipun dengan cara yang melanggar kode etik ataupun konvensi-konvensi yang berlaku.
Di titik yang memprihatinkan, jika korupsi menjangkit semua lapisan orang yang memiliki kedudukan di sebuah elemen negara, maka tinggal menunggu waktu hancurnya negara itu. Indonesia, sebagai bagian dari negara dengan tingkat korupsi yang cukup tinggi, tidak menutupkemungkinan untuk segera datang masa kehancuran. Mereka, para koruptor itu, tidak berpikir panjang atas ulah mereka. Sementara rakyat kecil, yang tidak menahu ikhwal perbuatan para petingginya, selalu menjadi korbannya.
Maka itu, untuk mengurangi angka korupsi di Indonesia, diperlukan keterlibatan masyarakat untuk memberantas tindakan korupsi, atau setidak-tidaknya mencegah korupsi yang lebih parah lagi. Salah satu yang bisa menjadi jalan adalah dengan jalan bahasa. Sebagaimana George dengan bukunya itu, menghadirkan data-data tentang tindakan koruptif yang melibatkan pejabat penting. George dengan tulisannya membuka mata rakyat untuk lebih awas melihat persoalan yang sedang terjadi, yang notabene adalah tindakan merugikan buat rakyat.
Langkah yang dilakukan oleh George itu, adalah sebagaimana Finochiaro mendefinisikan fungsi bahasa menjadi lima kelompok, 1) fungsi personal, yakni merupakan fungsi bahasa untuk menyatakan diri, baik berupa pikiran maupun perasaan; 2) fungsi interpersonal, yakni merupakan fungsi yang menyangkut hubungan antarpenutur atau antarpersona untuk menjalin hubungan sosial, 3) fungsi direktif, yakni merupakan fungsi bahasa untuk mengatur oranglain, menyuruh oranglain, memberikan saran untuk melakukan tindakan atau meminta sesuatu, 4) fungsi refrensial, yakni merupakan fungsi bahasa untuk menampilkan suatu referensi dengan menggunakan lambang bahasa; dan 5) fungsi imajinatif, yakni merupakan fungsi bahasa untuk menciptakan sesuatu denagn berimajinasi.[2]
Dari sinilah, dengan jalan komunikasi lewat bahasa tulis, George membuktikan betapa bahasa sungguh memiliki peran yang sangat signifikan. George mengancam pihak-pihak yang dinyatakan bersalah, baik secara de jure maupun de facto. Tentang keterancaman dengan jalan bahasa ini, sebenarnya sudah dibuktikan bertahun-tahun yang lalu. Para penulis atau sastrawan yang menyuarakan perlawanan dengan jalan sastra, misalnya, menjadi buronan para politisi dan pejabat yang terkait. Adalah sebagaimana yang dialami Pramoedya Ananta Toer, ataupun Widji Thukul, misalnya, yang beberapa kali diasingkan, bahkan Thukul tidak diketahui ke mana rimbanya hingga detik ini, disinyalir adalah oleh karena mereka keras dalam menentang kekejaman rezim melalui tulisan, melalui bahasa: melalui sastra.
Puisi Menolak Korupsi
Baru-baru ini, muncul gerakan Puisi Menolak Korupsi, yaitu sebuah gerakan yang masif, terstruktur, dan sistematis dari bagian masyarakat untuk membukukan puisi-puisi bertemakan penolakan terhadap bahaya laten korupsi di Indonesia. Gerakan yang dikoordinatori oleh sastrawan Sosiawan Leak ini pantas dicatat dan distabilo dalam sejarah perlawanan terhadap korupsi. Betapa tidak, dari namanya saja, Puisi Menolak Korupsi, bukan penyair menolak korupsi. Ini menekankan bahwa penolakan terhadap korupsi adalah tanggungjawab semua lapisan masyarakat. Jadi dalam gerakan ini yang terpenting adalah puisi yang berbicara, tidak dibatasi hanya penyair saja yang menuliskan puisi, tetapi siapapun yang mempunyai ketertarikan menuliskan ikhwal penolakan terhadap korupsi. Presiden John F. Kennedy pernah mengatakan dalam pidatonya, bahwa jika politik bengkok puisi yang meluruskan (bukan penyair yang meluruskan). Seirama dengan itu, Seno Gumira Adjidarma, seorang cerpenis terkenal mengatakan dalam bukunya jika jurnalisme dibungkam sastra berbicara (sastra bukan sastrawan). Kedua adagium itu sarat dengan muatan kemahadahsyatan sebuah sastra, sebuah puisi.
Manusia itu terkutuk untuk bebas, begitu kata Jean Paul Sartre. Manusia dengan jiwa bebasnya tak ingin tertindas oleh kepentingan orang-orang yang menyalahgunakan kekuasaan. Penyair adalah sebagian orang yang memilihnya dari jalur bahasa. Mereka maju ke depan sebagai corong kemanusiaan untuk menyuarakan itu. Segala yang membuat mereka terusik itu tertanam dalam karya mereka, yang dengannya jutaan manusia lain bisa mengambil perenungan untuk menyadari kekeliruan yang mereka lakukan. Buah pemikiran yang bening itu seperti mata air, siapapun dan dengan latar belakang apapun boleh dan bisa menimbanya sehingga mengalirkan pemikiran segar baru darinya.[3]
Mengapa dengan puisi? Teks puisi memiliki keunikan dalam pemaparan bahasa sebagai cara ungkap berbagai masalah kehidupan, baik berupa peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, sesuatu yang dialami oleh penyair, masalah sejarah-sosial-politik-ekonomi-budaya, maupun berbagai fenomena kehidupan yang menjadi bahan renungan, hayatan, pemikiran penyair diekspresikan secara unik dan menarik.Puisi merupakan proyek filsafat yang selalu meruahkan pertanyaan. Setiap pertanyaan akan melahirkan banyak jawaban, formula, konsep, tata nilai dan yang pasti tak habis dimaknai.
Teks puisi dibentuk dan diciptakan oleh penyair tampaknya berdasarkan desakan emosional dan rasional. Puisi karya penyair, sejalan dengan wawasan Luxemburg, merupakan sebuah ciptaan, sebuah kreasi, bukan sebuah imitasi. Maka wajar jika unsur-unsur pribadi penyair seperti pengetahuan, peristiwa penting, visi, misi, dan konsepsinya mewarnai puisi yang ditulis. Penggunaan simbol, bahasa kias, metafora, dan gaya bahasa lain oleh penyair dimaksudkan untuk memadatkan dan mengefektifkan pengungkapan.
Dalam pada ini, puisi tidak bisa diremehkan. Banyak sastrawan-sastrawan yang mengungkapkan bahwa puisi bukanlah karya biasa, yang ditafsirkan dengan bahasa biasa-biasa saja, dibacakan dengan nada biasa, dan diolah pikir dengan cara-cara biasa. HB. Jassin, seorang kritikus sastraIndonesia, mengatakan bahwa puisi ialah pengucapan dengan perasaan. Dalam puisi itu, pikiran dan perasaan seolah-olah bersayap, ditambah lagi oleh syarat-syarat keindahan bahasa tinggi rendah tekanan suara. Puisi ialah pelahiran manusia seluruhnya, manusia agung dengan pikiran dan perasaannya. Edgar Allan Poe, seorang penulis berkebangsaan Amerika, mengatakan bahwa puisi adalahh ciptaan dengan irama keindahan yang dimaksudkan untuk meluhurkan jiwa. Percy Bysche Shelly, mengatakan bahwa puisi adalah rekaman dari saat-saat paling baik dan paling menyenangkan dari pikiran-pikiran yang paling baik dan paling menyenangkan.
Samuel Johnson mengatakan bahwa puisi adalah peluapan spontan dari perasaan-perasaan penuh daya, dia bercikal bakal dari emosi yang berpadu kembali dalam kedamaian. Matthew Arnold memberikan definisi bahwa puisi merupakan bentuk organiasai tertinggi dari kegiatan intelektual manusia. Senada dengan tu, Bradley mengatakan puisi adalah semangat. Sementara, Ralph Woldo Emerson mengatakan bahwa puisi merupakan upaya abadi untuk engekspresikan jiwa sesuatu untuk menggerakkan tubuh yang kasar dan mencari kehidupan lain dan alasan yang menyebabkannya ada.[4]
Dari Roadshow ke Roadshow
Gerakan Puisi Menolak Korupsi, jika dikategorikan sebagai sebuah genre karya, adalah karya sastra bertendensi. Yaitu salah satu genre sastra yang berkaitan erat dengan kepentingan-kepentingan tertentu. Sebagai juru bicara kelompok, penyair semenjak awal telah dibekali dengan niat dan ideologi tertentu. Karya sastra dijadikan alat yang pada gilirannya dapat difungsikan sebagai sarana untuk menyampaikan maksud-maksudnya.Lahirnya sastra bertendensi justru diakibatkan oleh adanya anggapan bahwa karya sastra menduduki posisi yang penting dalam masyarakat. Melalui sastra dapat disalurkan berbagai aspirasi, visi, dan missi, baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung.[5]
Oleh sebab itu, wajar bila Sosiawan Leak mengatakan “Gerakan Puisi Menolak Korupsi berbasis moral dan bergerak dalam ranah kebudayaan. Sebagaimana namanya, gerakan ini melakukan aktivitasnya dengan puisi (anak kandung kebudayaan) sebagai sumber ekspresinya. Maka, ia tak akan pernah bisa lepas dengan hal-hal yang terkait dengan puisi (menulis puisi, membaca puisi, mencetak puisi, menerbitkan puisi, mementaskan puisi, merayakan puisi, mendiskusikan puisi, dan lain-lain) selama puisi-puisi tersebut mengolah tema korupsi”. Dalam pada ini penolakan terhadap korupsi adalah sebuah misi suci yang dipanjikan para anggotanya.
Gerakan ini terus melancarkan penolakan terhadap korupsi dengan melibatkan masyarakat secara luas, terbukti anggota dari gerakan ini bukan semata penyair yang namanya sudah besar di media-media, melainkan juga ibu-ibu, pedagang, karyawan, guru, wartawan, mahasiswa hingga siswa sekolah. Pada antologi puisi PMK jilid 1, terdapat sedikitnya 85 orang yang ikut serta, sedangkan antologi PMK jilid 2 yakni 2a dan 2b (oleh karena jumlah orang yang ingin bergabung jumlahnya semakin banyak) yakni 197 orang, sementara antologi PMK jilid 3 (edisi Pelajar Menolak Puisi) adalah 286 pelajar seluruh Indonesia, dan PMK jilid 4 (mengambil tema Ensiklopegila Koruptor) terdapat 175 orang yang bergabung.[6]
Bukti bahwa gerakan PMK merupakan sebuah respresetasi dari gerakan masyarakat menolak korupsi adalah dengan diberlakukannya konsep iuran dan “saweran”. Penerbitan buku-buku antologi PMK ini murni atas dana swadaya masing-masing kontributor puisi. Jadi, sesiapa yang karyanya dinyatakan masuk (setelah proses kurasi ketat oleh Sosiawan Leak)[7] melakukan iuran untuk pendanaan penerbitan buku. Sedangkan “saweran” adalah istilah dalam gerakan PMK bagi masing-masing kontributor yang ingin mmberikan iuran atau sumbangan lebih demi kelancaran Gerakan PMK.
Hal ini dilakukan, oleh sebab gerakan PMK tidak sekedar membukukan puisi saja, melainkan juga membacakannya dari kota satu ke kota lain yang kemudian dinamakan roadshow menolak korupsi. Sebagimana menurut Laswell, agar komunikasi itu bisa diterima dengan baik maka harus ada komponen-komponen pendukung yaitu harus ada si pengirim atau pihak yang menyampaikan pesan, ada pesan yang ingin disampaikan, ada media atau perantara untuk menyampaikan pesan, ada penerima pesan, ada umpan balik atau tanggapan dari penerimaan pesan dan ada aturan-aturan yang disepakati. Media itu adalah pembacaan puisi, deklamasi puisi, musikalisasi puisi, dramatisasi puisi, hingga lomba baca puisi dari kota ke kota.[8]
Misi utama dalam pelaksanaan roadshow ini adalah bahwa puisi lahir dari suara masyarakat dan untuk masyarakat. Menyebarkan semangat untuk menolak korupsi harus berkelanjutan. Mengabarkan bahwa pelaku korupsi harus dikenakan sangsi sosial berupa pengecaman dari masyarakat.[9] Puisi yang telah dibukukan kemudian dibacakan di berbagai forum dan tempat di berbagai kota di Indonesia, sehingga muatan dari puisi tersebut tersampaikan. Bahkan di setiap roadshow PMK, selalu diadakan diskusi perihal persoalan korupsi dengan menghadirkan pihak-pihak yang berkompeten baik dosen, pengamat politik, pengamat sosial, maupun para budayawan untuk bisa menjadi partner dalam usaha memberantas korupsi. Dengan begitu, gerakan ini, adalah representasi dari rasa cinta (sense of belonging) masyarakat, khususnya penyair, terhadap tanah air Indonesia. Hal ini sebagaimana Jean Paul Sartre pernah menuliskan tentang “Tanggungjawab Pengarang”, menurutnya pengarang semestinya selalu mengorientasikan dirinya dengan peristiwa-peristiwa aktuil di mana pun dari bumi ini. Tabik.

Yogyakarta, 14 Desember 2015.


*Dimas Indianto S. M.Pd.I. mempunyai nama pena Dimas Indiana Senja. Lahir di Brebes, 20 Desember 1990. Alumni pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Menulis puisi, cerpen, esai, artikel, dan resensi buku. Beberapa puisinya memenangkan lomba penulisan puisi. Sering diundang membacakan puisi dan mengisi seminar kepenulisan sastra. Buku puisinya: Nadhom Cinta (2012), Suluk Senja (2015). Buku kumpulan esainya Sastra Nadhom (2015). Menerima beberapa penghargaan, antara lain Pemuda Berprestasi di Bidang Pendidikan, Seni, dan Budaya dari PemDa Brebes; dan masuk dalam tokoh penting Kabupaten Brebes oleh Kabid Humas dan Protokoler Kab. Brebes. Menjadi pengasuh komunitas sastra santri Pondok Pena Purwokerto, ketua Sanggar Suluk Bumiayu, dan Komite Sastra Dewan Kesenian Kab. Brebes (2015-2020).


[1] Sudarwan Danim. Agenda Pembaruan Sistem Pendidikan. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hlm. 61.
[2] Dimas Arika Mihardja, dkk. Reparasi dan Apresiasi ala Bengkel Puisi Swadaya Mandiri jilid 1. (Yogyakarta: Javakarsamedia, 2012) hlm. 20.
[3] Dimas Arika Mihardja, dkk. Reparasi dan Apresiasi ala Bengkel Puisi Swadaya Mandiri jilid 2. (Yogyakarta: Javakarsamedia, 2012) hlm. 150.
[4]Ibid.,hlm. 169
[5] Nyoman Kutha Ratna, Sastra dan Cultural Studies: Representasi Fiksi dan Fakta. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hlm 360-364.
[6]Silahkan lihat lampiran keanggotaan antologi puisi PMK. Data ini belum ditambah dengan tiga antologi senada, yakni Memo untuk Presiden, Memo untuk Wakil Rakyat, dan Perempuan Menentang Korupsi.
[7]Proses kurasi dalam antologi buku ini dilakukan untuk menjaga entitas kesastraan dari puisi yang dikirimkan. Dalam pada ini, sastra bertendensi yang mengedepankan visi bukan berarti menanggalkan nilai-nilai estetis sebuah karya sastra. Hal ini menampik anggapan bahwa puisi yang masuk antologi PMK adalah puisi asal bunyi atau asal membahas korupsi.
[8]Untuk melihat betapa gerakan ini begitu masif, terstruktur, dan sistematis, silahkan lihat lampiran tentang jadwal Roadshow Menolak Korupsi.
[9] Dalam buku antologi PMK jilid 4, yang kemudian diberi tajuk “ensiklopegila koruptor”, bahkan puisi-puisi di dalamnya mencantumkan nama-nama koruptor berikut kasus masing-masing dengan variasi hukumannya. Langkah ini adalah bukti konkrit gerakan PMK membuka mata masyarakat agar mengenal satu persatu penjahat Negara yang mencuri uang Indonesia untuk kepentingan pribadi. Maka membaca buku antologi PMK 4 adalah membaca ensiklopedia koruptor.

Jumat, 11 Desember 2015

Undangan Road Show PMK ke-35

HADIRILAH | GRATIS | Terbuka untuk umum
PEREMPUAN MENENTANG KORUPSI | Road Show #35
Puisi Menolak Korupsi 5


12-13 Desember 2015 | 20.00 Wib - selesai | Hotel Ungaran Cantik (Jl. Raya Ungaran Kab. Semarang)

MOHON KONFIRMASI KEHADIRANNYA
Info hubungi:
Sulis Bambang (081 129 877 2) | Artvelo Sugiarto (085 712 193 839) | Imam Subagyo (082 134 780 312) | Sofyan Adrimen (085 106 309 330) | Lukni Maulana (08222 67888 30)

Nb:
1. Dari jalur TImur: Dari terminal Terboyo - naik bus jurusan Ungaran dan turun di Hotel Ungaran Cantik.
2. Dari jalur Barat : Turun terminal Terboyo oper bis jurusan Ambarawa, Yogya, Temanggung atau Solo turun di Hotel Ungaran Cantik.
3. Dari jalur Selatan: Bisa langsung turun di Hotel Ungaran Cantik.
4. Naik kereta api turun stasiun Poncol.

Bagi yang membutuhkan jemputan bisa menghubungi:
Artvelo Sugiarto (085 712 193 839) | Imam Subagyo (082 134 780 312)
------------
Check in hotel hari Sabtu, 12 Desember 2015 dan Check out Minggu siang, 13 Desember 2015.


Sumber info: Facebook Lukni Maulana.

Selasa, 23 Juni 2015

Foto-foto Buku Terkirim - PMK Jilid 4: Ensiklopegila Koruptor (Juni 2015)

Sumber foto terlampir.
Adawiyah Dahlan Al-arsyad (Tangerang). Sumber foto.
Amazona Mega Ramadhanty (Cilacap, Jawa Tengah). Sumber foto.
Euis Herni Ismail (Subang, Jawa Barat). Sumber foto.
Iin Nuraini (Surakarta, Jawa Tengah). Sumber foto.
Irna Novia Damayanti (Purwokerto, Jawa Tengah). Sumber foto.

Kalembo Ade Andri. Sumber foto.

Kidung Purnama (Ciamis, Jawa Barat). Sumber foto.

 Mustiar Ar (Meulaboh, Banda Aceh). Sumber foto.
 Muttafaqur Rohmah (Banyuwangi, Jawa Timur). Sumber foto.



 Roesda Leikawa (Maluku). Sumber foto.

Selsa dan Titi Roso Sarkoro. Sumber foto.
Saddam ElChanif (Semarang, Jawa Tengah). Sumber foto.
Fileski (Surabaya). Sumber foto.

Sabtu, 20 Juni 2015

Distribusi Buku PMK Jilid 4: Ensiklopegila Koruptor (Juni 2015)

TAHAP I

Salam,
Lewat paket PT Pos Indonesia, dari Kantor Pos Solo Mojosongo 571271A, Jumat, 19 Juni 2014 sudah saya kirimkan Buku Antologi “Puisi Menolak Korupsi 4” ke sejumlah kawan yang telah menetapi persyaratannya. Berikut informasi menyoal pengiriman tersebut. Terima kasih.

Salam hangat, doa kuat!

Sosiawan Leak (Koordinator)

NB: Jika masih ada kekurangan, buku akan saya serahkan saat road show berikutnya atau saya kirimkan dengan kesepakatan lebih lanjut.

Nanang Anna Noor (Banyumas)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224410, nominal ongkos kirim Rp18.005).

Iin Nuraini (Solo)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224423, nominal ongkos kirim Rp9.925).

Akhmad Nurhadi Moekri (Sumenep)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224436, nominal ongkos kirim Rp19.520).

Agus Kusnandi Suling (Tegal)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224449, nominal ongkos kirim Rp12.955).

Adawiyah Dahlan Al Arsyad (Tangerang)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224452, nominal ongkos kirim Rp20.025).

Irna Novia Damayanti (Purbalingga)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224465, nominal ongkos kirim Rp18.005).

Danang Hernanto Agusta (Kudus)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224478, nominal ongkos kirim Rp17.500).

Esa Effendi Saleh (Blitar)
Iuran Rp150.000 jatah 6 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224481, nominal ongkos kirim Rp16.995). Kurang 2 buku.

Anggi Putri (Surabaya)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224494, nominal ongkos kirim Rp23.560).

Anang Famuji (Kebumen)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224501, nominal ongkos kirim Rp18.510).

Aloeth Pathi (Pati)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224514, nominal ongkos kirim Rp18.005).

Kurnia Fajar (Wonogiri)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224527, nominal ongkos kirim Rp10.430).

Sami’an Adib (Jember)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224530, nominal ongkos kirim Rp18.510).

Wanto Tirta (Banyumas)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224543, nominal ongkos kirim Rp18.005).

Bontot Sukandar (Tegal)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224556, nominal ongkos kirim Rp12.955).

Rizki Amalia Sholihah (Ponorogo)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224569, nominal ongkos kirim Rp22.045).

Rakhmat Giryadi (Surabaya)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224572, nominal ongkos kirim Rp15.985).

Arba Karomaini (Brebes)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224585, nominal ongkos kirim Rp18.510).

Nur Miftakhus Syafii (Mojokerto)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224598, nominal ongkos kirim Rp22.045).

Saddam El Chanif (Demak)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224605, nominal ongkos kirim Rp16.995).

Kidung Purnama (Ciamis)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224618, nominal ongkos kirim Rp16.995).

Rosie Jibril (Situbondo)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224621, nominal ongkos kirim Rp26.085).

Kalembo Ade Andri (Kuningan)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224634, nominal ongkos kirim Rp26.085).

Fransiska Ambar Kristyani (Semarang)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224647, nominal ongkos kirim Rp10.935).

Ade Riyan Purnama (Jakarta)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224650, nominal ongkos kirim Rp19.520).

Imam Khanafi (Kudus)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224663, nominal ongkos kirim Rp17.500).

Najibul Mahbub (Pekalongan)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224676, nominal ongkos kirim Rp11.945).


TAHAP II

Salam,

Lewat paket PT Pos Indonesia, dari Kantor Pos Solo Mojosongo 571271A, Jumat, 19 Juni 2014 sudah saya kirimkan Buku Antologi “Puisi Menolak Korupsi 4” ke sejumlah kawan yang telah menetapi persyaratannya. Berikut informasi menyoal pengiriman tersebut. Terima kasih.

Salam hangat, doa kuat!

Sosiawan Leak (Koordinator)

NB: Jika masih ada kekurangan, buku akan saya serahkan saat road show berikutnya atau saya kirimkan dengan kesepakatan lebih lanjut.

Suyitno Ethek (Mojokerto)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224692, nominal ongkos kirim Rp22.045).

Wahyu Kris Aries Wirawardana (Malang)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224709, nominal ongkos kirim Rp16.995).

Windu Mandela (Sumedang)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224712, nominal ongkos kirim Rp27.600).

Thomas Haryanto Soekiran (Purworejo)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224725, nominal ongkos kirim Rp16.995).

Zulfa Fahmy (Kendal)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224738, nominal ongkos kirim Rp16.995).

Syarif Hidayatullah (Barito Kuala)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 2 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224747, nominal ongkos kirim Rp23.330). Kurang 1 buku.

Roesda Leikawa (Ambon)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 2 buku, ganti ongkir 2 buku. (Nomor Barcode 14213224754, nominal ongkos kirim Rp37.330).

Titin Mandar (Ambon)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 2 buku, ganti ongkir 2 buku. (Nomor Barcode 14341922858, nominal ongkos kirim Rp37.330).

Tiara Novita (Bandar Lampung)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 2 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14341922861, nominal ongkos kirim Rp21.330). Kurang 1 buku.

Eddie M. N. S. Soemanto (Padang)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 2 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14341922874, nominal ongkos kirim Rp24.330). Kurang 1 buku.

Mustiar Ar (Meulaboh)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 2 buku, ganti ongkir 2 buku. (Nomor Barcode 14341922887, nominal ongkos kirim Rp37.330).

Rezqie Muhammad Al Fajar Atmanegara (Banjarmasin)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 2 buku, ganti ongkir 2 buku. (Nomor Barcode 14341922890, nominal ongkos kirim Rp28.830).

Rendra Setyadiharja (Tanjungpinang)
Iuran Rp150.000 jatah 6 buku, dikirim 2 buku, ganti ongkir 2 buku. (Nomor Barcode 14341922907, nominal ongkos kirim Rp33.330). Kurang 2 buku.

Jen Kelana (Bangko Merangin)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 2 buku, ganti ongkir 2 buku. (Nomor Barcode 14341922910, nominal ongkos kirim Rp34.330).

Sutarso (Sorong)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 2 buku, ganti ongkir 2 buku. (Nomor Barcode 14341922923, nominal ongkos kirim Rp61.330).

Dinullah Rayes (Sumbawa)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 2 buku, ganti ongkir 2 buku. (Nomor Barcode 14341922936, nominal ongkos kirim Rp25.330).

Roymon Lemosol (Ambon)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 2 buku, ganti ongkir 2 buku. (Nomor Barcode 14341922949, nominal ongkos kirim Rp37.330).

Edy Samudra Kertagama (Lampung)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 2 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14341922952, nominal ongkos kirim Rp21.330). Kurang 1 buku.

Rusdiansyah (Bontang)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 2 buku, ganti ongkir 2 buku. (Nomor Barcode 14341922965, nominal ongkos kirim Rp31.330).

Wahdiah (Balangan)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 2 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14341922978, nominal ongkos kirim Rp27.800). Kurang 1 buku.

Muhammad Rifqi Saifudin (Barito)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 2 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14341922981, nominal ongkos kirim Rp24.330). Kurang 1 buku.


TAHAP III

Salam,

Lewat paket PT Pos Indonesia, dari Kantor Pos Solo Mojosongo 571271A, Sabtu, 20 Juni 2014 sudah saya kirimkan Buku Antologi “Puisi Menolak Korupsi 4” ke sejumlah kawan yang telah menetapi persyaratannya. Berikut informasi menyoal pengiriman tersebut. Terima kasih.

Salam hangat, doa kuat!

Sosiawan Leak (Koordinator)

NB: Jika masih ada kekurangan, buku akan saya serahkan saat road show berikutnya atau saya kirimkan dengan kesepakatan lebih lanjut.

Muttafaqur Rohmah (Banyuwangi)
Iuran Rp300.000 jatah 12 buku, dikirim 10 buku, ganti ongkir 2 buku. (Nomor Barcode 14213224796, nominal ongkos kirim Rp30.630).

Yant Mujiyanto (Surakarta)
Iuran Rp400.000 jatah 16 buku, dikirim 14 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224803, nominal ongkos kirim Rp15.980). Kurang 1 buku.

Uki Bayu Sedjati (Jakarta)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224816, nominal ongkos kirim Rp19.520).

Eka Pradhaning (Magelang)
Iuran Rp125.000 jatah 5 buku, dikirim 4 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224829, nominal ongkos kirim Rp16.995).

Fileski (Surabaya)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224832, nominal ongkos kirim Rp14.470).

Gusti Indra Setyawan & Nurmaliansari (Tabalong)
Iuran Rp100.000 +Rp Rp100.000, jatah 8 buku, dikirim 4 buku, ganti ongkir 2 buku. (Nomor Barcode 14213224845, nominal ongkos kirim Rp49.830). Kurang 2 buku.

Syarifuddin Arifin Dua (Padang)
Iuran Rp150.000 jatah 6 buku, dikirim 4 buku, ganti ongkir 2 buku. (Nomor Barcode 14213224858, nominal ongkos kirim Rp31.640).

Dalyono Yono (Bangko Merangin)
Iuran Rp150.000 jatah 6 buku, dikirim 4 buku, ganti ongkir 2 buku. (Nomor Barcode 14213224861, nominal ongkos kirim Rp41.740).

Sulaiman Juned & Soeryadarma Isman (Aceh)
Iuran Rp100.000+Rp.100.000, jatah 8 buku, dikirim 4 buku, ganti ongkir 3 buku. (Nomor Barcode 14213224874, nominal ongkos kirim Rp54.365). Kurang 1 buku.

Zainul Walid (Situbondo)
Iuran Rp150.000 jatah 6 buku, dikirim 4 buku, ganti ongkir 2 buku. (Nomor Barcode 14213224887, nominal ongkos kirim Rp26.085).

Umi Azzura Santika (Magelang)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224890, nominal ongkos kirim Rp11.440).

Sukur Budiharjo (Bogor)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224907, nominal ongkos kirim Rp20.025).

Mohamad Akil (Pemalang)
Iuran Rp150.000 jatah 6 buku, dikirim 4 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224910, nominal ongkos kirim Rp18.510). Kurang 1 buku.

Suhandayana (Surabaya)
Iuran Rp100.141 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224923, nominal ongkos kirim Rp15.985).

Taufik Ardiansyah (Ciamis)
Iuran Rp100.000 jatah 4 buku, dikirim 3 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224936, nominal ongkos kirim Rp23.560).

Euis Herni Ismail (Subang)
Iuran Rp400.000 jatah 16 buku, dikirim 13 buku, ganti ongkir 2 buku. (Nomor Barcode 14213224949, nominal ongkos kirim Rp37.700). Kurang 1 buku.

Dimas Arika Mihardja (Jambi)
Iuran Rp500.000 jatah 20 buku, dikirim 14 buku, ganti ongkir 2 buku. (Nomor Barcode 14213224952, nominal ongkos kirim Rp49.305). Kurang 4 buku.

Kahar D. P. (Semarang)
Iuran Rp200.000 jatah 8 buku, dikirim 6 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224965, nominal ongkos kirim Rp16.995). Kurang 1 buku.

Priyo Pambudi Utomo (Trenggalek)
Iuran Rp200.000 jatah 8 buku, dikirim 6 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224978, nominal ongkos kirim Rp23.560). Kurang 1 buku.

Heru Mugiarso (Semarang)
Iuran Rp200.000 jatah 8 buku, dikirim 6 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224981, nominal ongkos kirim Rp10.935). Kurang 1 buku.

Faiz Saf’ani (Tegal)
Iuran Rp150.000 jatah 6 buku, dikirim 5 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213224994, nominal ongkos kirim Rp10.935).

Ribut Basuki (Surabaya)
Iuran Rp200.000 jatah 8 buku, dikirim 6 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213225004, nominal ongkos kirim Rp15.985). Kurang 1 buku.

Fahmi Wahid (Balangan)
Iuran Rp200.000 jatah 8 buku, dikirim 5 buku, ganti ongkir 2 buku. (Nomor Barcode 14213225017, nominal ongkos kirim Rp48.830). Kurang 1 buku.

Muhammad Hafeedz Amar Riskha (Indramayu)
Iuran Rp175.000 jatah 7 buku, dikirim 5 buku, ganti ongkir 2 buku. (Nomor Barcode 14213225020, nominal ongkos kirim Rp26.085).

R. D. Kedum (Lubuklinggau)
Iuran Rp400.000 jatah 16 buku, dikirim 12 buku, ganti ongkir 2 buku. (Nomor Barcode 14213225033, nominal ongkos kirim Rp41.235). Kurang 2 buku

Aris Rahman Yusuf & Mochammad Asrori (Mojokerto)
Iuran Rp100.000+Rp100.000 jatah 8 buku, dikirim 6 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213225046, nominal ongkos kirim Rp22.045). Kurang 1 buku.

Autar Abdillah (Sidoardjo)
Iuran Rp200.000 jatah 8 buku, dikirim 6 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213225059, nominal ongkos kirim Rp22.045). Kurang 1 buku.

Amazona Mega Ramadhanty (Cilacap)
Iuran Rp200.000 jatah 8 buku, dikirim 6 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213225062, nominal ongkos kirim Rp18.510). Kurang 1 buku.

Sutejo Ssc (Ponorogo)
Iuran Rp1.000.000 jatah 40 buku, dikirim 34 buku, ganti ongkir 4 buku. (Nomor Barcode 14213225075, nominal ongkos kirim Rp77.595). Kurang 2 buku.

Restuti Hidayani Saragih (Medan)
Iuran Rp1.000.000 jatah 40 buku, dikirim 32 buku, ganti ongkir 6 buku. (Nomor Barcode 14213225088, nominal ongkos kirim Rp150.315). Kurang 2 buku.

Husnu Abadi (Pekanbaru)
Iuran Rp250.000 jatah 10 buku, dikirim 7 buku, ganti ongkir 2 buku. (Nomor Barcode 14213225091, nominal ongkos kirim Rp26.085). Kurang 1 buku.

Bambang Eka Prasetya (Magelang)
Iuran Rp200.000 jatah 8 buku, dikirim 6 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213225108, nominal ongkos kirim Rp16.995). Kurang 1 buku.

Selsa & Roso Titi Sarkoro (Temanggung)
Iuran Rp100.000+Rp100.000 jatah 8 buku, dikirim 6 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213225111, nominal ongkos kirim Rp11.440). Kurang 1 buku.

Barlean Aji (Jember)
Iuran Rp200.000 jatah 8 buku, dikirim 6 buku, ganti ongkir 1 buku. (Nomor Barcode 14213225124, nominal ongkos kirim Rp18.510). Kurang 1 buku.

Sumber: Facebook PMK.