Jumat, 27 September 2013

Rama Dinta Baca Puisi "Mesin Tanah" (karya Sosiawan Leak) dan "Berang-berang" (Karya Rama Dinta)

Dua puisi tersebut termaktub dalam buku 'Puisi Menolak Korupsi'
Videonya di sini. (youtube)

Sumber Facebook PMK (Rama Dinta)

Rabu, 25 September 2013

Daftar Penyair PMK Jilid 2 (a & b)

Antologi Puisi Menolak Korupsi Jilid 2 (melibatkan 197 penyair) dengan rincian: Jilid 2a (99 penyair) dan Jilid 2b (98 penyair). Keduanya terbit September 2013. Diterbitkan Forum Sastra Surakarta.

Karena banyak penyair dan puisi, maka dibuatlah jadi dua buku: a & b.

Sumber gambar.
Penyair Antologi Puisi Menolak Korupsi Jilid 2a
1. A. Ganjar Sudibyo (Semarang)
2. A’yat Khalili (Sumenep)
3. Aan Setiawan (Banjarbaru)
4. Abah Yoyok (Tangerang)
5. Abdul Aziz H. M. El Basyroh (Indramayu)
6. Abdurrahman El Husaini (Martapura)
7. Acep Zamzam Noor (Tasikmalaya)
8. Ade Ubaidil (Cilegon)
9. Adi Rosadi (Cianjur)
10.  Agus R. Subagyo (Nganjuk)
11.  Agus Sighro Budiono (Bojonegoro)
12.  Agus Sri Danardana (Pekanbaru)
13.  Agus Warsono (Indramayu)
14.  Agustav Triono (Purwokerto)
15.  Agustinus (Purbalingga)
16.  Ahlul Hukmi (Dumai)
17.  Ahmad Ardian (Pangkep)
18.  Ahmad Daladi (Magelang)
19.  Ahmad Samuel Jogawi (Pekalongan)
20.  Ahmadun Yosi Herfanda (Jakarta)
21.  Akaha Taufan Aminudin (Batu)
22.  Akhmad Nurhadi Moekri (Sumenep)
23.  Alex R. Nainggolan (Tangerang)
24.  Ali Syamsudin Arsi (Banjarbaru)
25.  Allief Zam Billah (Rembang)
26.  Aloeth Pathi (Pati)
27.  Alya Salaisha-Sinta (Cikarang)
28.  Aming Aminudin (Mojokerto)
29.  Andreas Kristoko (Yogjakarta)
30.  Andrias Edison (Blitar)
31.  Anggoro Suprapto (Semarang)
32.  Anna Mariyana (Banjarmasin)
33.  Ansar Basuki Balasikh (Cilacap)
34.  Arba’ Karomaini (Pati)
35.  Ardi Susanti (Tulungagung)
36.  Ardian Je (Serang)
37.  Arsyad Indradi (Banjarbaru)
38.  Asdar Muis R. M. S.(Makassar)
39.  Asmoro Al Fahrabi (Pasuruan)
40.  Asril Koto (Padang)
41.  Asyari Muhammad (Jepara)
42.  Autar Abdillah (Sidoarjo)
43.  Ayu Cipta (Tangerang)
44.  Badaruddin Amir (Barru)
45.  Bambang Eka Prasetya (Magelang)
46.  Bambang Karno (Wonogiri)
47.  Barlean Bagus S. A. (Jember)
48.  Bontot Sukandar (Tegal)
49.  Budhi Setyawan (Bekasi)
50.  Chafidh Nugroho (Kudus)
51.  D. G. Kumarsana (Lombok Barat)
52.  Darman D. Hoeri (Malang)
53.  Daryat Arya (Cilacap)
54.  Denni Melizon (Padang)
55.  Denny Mizhar (Malang)
56.  Diah Rofika (Berlin)
57.  Diah Setyawati (Tegal)
58.  Diana Roosetindaro (Solo)
59.  Didid Endro S. (Jepara)
60.  Dimas Arika Mihardja (Jambi)
61.  Dimas Indiana Senja (Brebes)
62.  Dini S. Setyowati (Amsterdam)
63.  Dinullah Rayes (Sumbawa Besar)
64.  Dulrohim (Purworejo)
65.  Dwi Ery Santoso (Tegal)
66.  Dyah Kencono Puspito Dewi (Bekasi)
67.  Dyah Narang Huth (Hamburg)
68.  Eddie MNS-Soemanto (Padang)
69.  Edy Saputra (Blitar)
70.  Efendi Saleh (Blitar)
71.  Eka Pradhaning (Magelang)
72.  Emha Jayabrata (Pekalongan)
73.  Endang Setiyaningsih (Bogor)
74.  Endang Supriyadi (Depok)
75.  Euis Herni Ismail (Subang)
76.  Fahrurraji Asmuni (Amuntai)
77.  Faizy Mahmoed Haly (Semarang)
78.  Fakrunnas M. A. Jabbar (Pekanbaru)
79.  Fatah Rastafara (Pekalongan)
80.  Felix Nesi (Nusa Tenggara Timur)
81.  Fendy A. Bura Raja (Sumenep)
82.  Ferdi Afrar (Sidoarjo)
83.  Fikar W. Eda (Aceh)
84.  Fransiska Ambar Kristyani (Semarang)
85.  Gia Setiawati Mokobela (Kotamobagu)
86.  Gol A Gong (Serang)
87.  Habibullah Hamim (Pasuruan)
88.  Hadikawa (Banjarbaru)
89.  Haidar Hafeez (Pasuruan)
90.  Hardho Sayoko Spb. (Ngawi)
91.  Haryono Soekiran (Purbalingga)
92.  Hasan B. Saidi (Batam)
93.  Hasan Bisri B. F. C. (Jakarta)
94.  Hasta Indriyana (Bandung)
95.  Heny Gunanto (Pemalang)
96.  Herman Syahara (Jakarta)
97.  Heru Mugiarso (Semarang)
98.  Hidayat Raharja (Sumenep)
99.  Husnu Abadi (Pekanbaru)


Penyair Antologi Puisi Menolak Korupsi Jilid 2b
1. Iberamsayah Barbary (Banjarbaru)
2. Ibramsyah Amandit (Barito Kuala)
3. Isbedy Stiawan Z.S. (Lampung)
4. Jefri Widodo (Ngawi)
5. Jhon F. Pane (Kotabaru)
6. Johan Bhimo (Sragen)
7. Joko Wahono (Sragen)
8. Jose Rizal Manua (Jakarta)
 9. Joshua Igho (Tegal)
10.  Jumari H. S. (Kudus)
11.  Juperta Panji Utama (Lampung)
12.  Kalsum Belgis (Martapura)
13.  Ken Hanggara (Pasuruan)
14.  Kidung Purnama (Ciamis)
15.  Kusdaryoko (Banjarnegara)
16.  Lara Prasetya Rina (Denpasar)
17.  Linda Ramsita Nasir (Bekasi)
18.  Lukman Mahbubi (Sumenep)
19.  M. Amin Mustika Muda (Barito Kuala)
20.  M. Andi Virman (Purwokerto)
21.  M. Enthieh Mudakir (Tegal)
22.  M. Faizi (Sumenep, Madura)
23.  M. Syarifuddin (Jember)
24.  Maria Roeslie (Samarinda)
25.  Marlin Dinamikanto (Jakarta)
26.  Melur Seruni (Singapura)
27.  Memed Gunawan (Jakarta)
28.  Micha Adiatma (Solo)
29.  Mubaqi Abdullah (Semarang)
30.  Muhammad Rain (Langsa)
31.  Muhammad Rois Rinaldi (Cilegon)
32.  Muhammad Zaini Ratuloli (Bekasi)
33.  Muhary Wahyu Nurba (Makassar)
34.  Muhtar S. Hidayat (Blora)
35.  Mustofa W. Hasyim (Yogjakarta)
36.  Nabilla Nailur Rohmah (Malang)
37.  Najibul Mahbub (Pekalongan)
38.  Nike Aditya Putri (Cilacap)
39.  Novy Noorhayati Syahfida (Tangerang)
40.  Nurochman Sudibyo Y. S. (Indramayu)
41.  Pekik Sat Siswonirmolo (Kebumen)
42.  Priyo Pambudi Utomo (Trenggalek)
43.  R. B. Edi Pramono (Yogyakarta)
44.  R. Giryadi (Sidoarjo)
45.  R. Valentina Sagala (Bandung)
46.  Rezqie Muhammad Al Fajar (Banjarmasin)
47.  Ribut Achwandi (Pekalongan)
48.  Ribut Basuki (Surabaya)
49.  Rini Ganefa (Semarang)
50.  Rivai Adi (Jakarta)
51.  Riyanto (Purwokerto)
52.  Rohseno Aji Affandi (Solo)
53.  Rosiana Putri (Banjarbaru)
54.  Rudi Yesus (Yogjakarta)
55.  S. A. Susilowati (Semarang)
56.  Sabahuddin Senin (Kinabalu)
57.  Saiful Bahri (Aceh)
58.  Saiful Hadjar (Surabaya)
59.  Samsuni Sarman (Banjarmasin)
60.  Sayyid Fahmi Alathas (Lampung)
61.  Serunie (Solo)
62.  Soekoso D. M. (Purworejo)
63.  Soetan Radjo Pamoentjak (Batusangkar)
64.  Sri Wahyuni (Gresik)
65.  Sulis Bambang (Semarang)
66.  Sumanang Tirtasujana (Purworejo)
67.  Sumasno Hadi (Banjarbaru)
68.  Sunaryo Broto (Kaltim)
69.  Suroto S. Toto (Purworejo)
70.  Surya Hardi (Riau)
71.  Sus S. Hardjono (Sragen)
72.  Sutardji Calzoum Bahcri (Jakarta)
73.  Suyitno Ethexs (Mojokerto)
74.  Syafrizal Sahrun (Medan)
75.  Tajuddin Noor Ganie (Banjarmasin)
76.  Tan Tjin Siong (Surabaya)
77.  Tarmizi Rumahitam (Batam)
78.  Tarni Kasanpawiro (Bekasi)
79.  Tengsoe Tjahjono (Surabaya)
80.  Thomas Haryanto Soekiran (Purworejo)
81.  Titik Kartitiani (Tangerang)
82.  Toto St. Radik (Serang)
83.  Turiyo Ragilputra (Kebumen)
84.  Udik Agus Dhewe (Jepara)
85.  Udo Z. Karzi (Lampung)
86.  Wahyu Prihantoro (Ngawi)
87.  Wahyu Subakdiono (Bojonegoro)
88.  Wanto Tirta (Ajibarang)
89.  Wardjito Soeharso (Semarang)
90.  Wawan Hamzah Arfan (Cirebon)
91.  Wawan Kurn (Makassar)
92.  Wijaya Heru Santosa (Kutoarjo)
93.  Wyaz Ibn Sinentang (Ketapang)
94.  Yanusa Nugroho (Tangerang)
95.  Yatim Ahmad (Kinabalu)
96.  Yogira Yogaswara (Bandung)
97.  Yudhie Yarcho (Jepara)
98.  Zubaidah Djohar (Aceh)

Sumber: Facebook PMK.

Senin, 23 September 2013

Bila Puisi Melawan Korupsi oleh Sendang Mulyana (Suara Merdeka Minggu, 22/09/13)

Artikel di Suara Merdeka Minggu, 22 September 2013 berjudul 'BILA PUISI MELAWAN KORUPSI' oleh Sendang Mulyana (dosen Bahasa Sastra Indonesia UNNES).

Sumber facebook PMK (Bontot Sukandar)

Artikelnya,

Tiada hari tanpa warta korupsi. Begitulah kenyataan hidup berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat kita kini. Saking gencarnya arus warta itu, anak-anak sekolah dasar pun telah fasih melafalkan kata korupsi.

Kata korupsi pun telah luwes bersanding dengan kata-kata mulia sehingga muncullah ungkapan, misalnya ”korupsi berjamaah”. Padahal, kata berjamaah biasanya melekat pada kata shalat. Shalat berjamaah lebih mulia ketimbang shalat sendirian. Atau, muncul juga ungkapan ”budaya korupsi”. Padahal, budaya dengan segala perubahannya, yang pasti berkait langsung dengan dinamika hidup manusia, selalu mengandaikan terjadinya perbaikan kehidupan, baik cara maupun hasilnya.

Konon korupsi di negeri ini telah menjadi penyakit kronis. Berbagai upaya dilakukan untuk memberantas penyakit itu dengan komandan lembaga KPK. Isu korupsi juga menjadi bahan laris untuk kampanye. Masyarakat akan gegap-gempita bereaksi ketika ada jurkam berteriak, ”Hapuskan korupsi! Gantung koruptor! Katakan tidak pada korupsi!”

Ironisnya, korupsi tak rampung-rampung. Bahkan, orang yang kemarin berteriak antikorupsi malah berurusan dengan pengadilan atas kasus korupsi. Baru-baru ini Sosiawan Leak dan kawan-kwan secara patungan menerbitkan buku Puisi Menolak Korupsi.

Gerakan kebudayaan itu tentu potensial menimbulkan komentar beragam. Mungkin mencibirnya, silakan sehari muncul seribu kumpulan puisi melawan korupsi, korupsi akan tetap melengganglapang, aman, nyaman, damai sentosa. Atau, mencurigainya sebagai wahana kepentingan ekonomis orang-orang tertentu.

Akan tetapi, sekecil apa pun aktivitas Sosiawan Leak, Heru Mugiarso, Bontot Sukandar, Beni Setia, dan kawan-kawan itu tentu berkontribusi positif terhadap upaya pemberantasan korupsi. Dan, kita patut mengapresiasi.

Fenomena Komunikasi
Sastra, termasuk berpuisi, adalah fenomena komunikasi. Ketika menulis puisi, seorang penyair itu sedang menjalin komunikasi. Dalam kasus puisi menolak korupsi, penyair berperan sebagai komunikator yang menyampaikan pesan berupa semangat antikorupsi kepada komunikan (masyarakat). Adanya reaksi masyarakat yang beraneka ragam, termasuk masyarakat sastra, justru itu menjadi indikator keberhasilan komunikasi.

Menarik sekali ungkapan Drs Pardi M Hum, Kepala Balai Bahasa Jateng ketika didaulat menjadi pembedah kumpulan puisi tersebut di Unnes baru-baru ini. Berulang-ulang ia menegaskan, kalau bukan sekarang kapan lagi. Ia tak banyak bicara tentang kualitas kesastraan atas puisi-puisi yang termaktub dalam antologi puisi tersebut, tetapi dengan berpijak pada beberapa puisi yang memang cair dan mudah dipahami, ia bersemangat menggelorakan mentalitas  antikorupsi kepada audiens yang mayoritas mahasiswa.

Tidak berhenti pada wilayah penerbitan buku, mereka juga bergerilya ke berbagai penjuru untuk mengadakan pertunjukan puisi melawan korupsi. Lagi-lagi bila ditanyakan tentang efektivitasnya untuk dapat memberantas korupsi, jawabannya tentu sangat relatif. Sekurang-kurangnya, bila sering mendengar teriakan puitis dalam balutan puisi antikorupsi, syaraf masyarakat akan tersentuh dan (harapannya) dapat mengomando segenap sendi-sendi kehidupan untuk kalis dari laku durjana korupsi.

Penyair adalah anggota masyarakat yang sedapat-dapatnya mengemban tugas intelektual mengomunikasikan realitas kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat kita yang berlepotan laku koruptif.

Penyair tentu sadar bahwa laku kreatifnya tidak akan serta-merta membuat korupsi musnah. Akan tetapi, ia telah menunaikan tugas intelektual, tugas keterlibatan atas nasib kehidupan orang banyak yang dirugikan oleh para koruptor.

Teriakan memang tidak dapat mengubah keadaan dan mungkin dianggap sebagai angin lalu. Tidak apa-apa dan itu disadari oleh penyair. Menarik sekali sajak Heru Mugiarso berjudul ”Puisi Berteriak”: Seandainya tanganku mengepal dan mulutku berteriak, gumam penyair itu/Maka, adakah langit akan terbuka dan cakrawala berubah makna?

Kualitas Sastra
Dalam buku Perdebatan Sastra Kontekstual yang dimotori oleh Ariel Haryanto dan Arif Budiman  dibicarakan fenomena sastra yang berbahan mentah fenomena kehidupan keseharian di dalam masyarakat, sastra yang berpijak di bumi.

Pro dan kontra terjadi. Yang pro lebih menekankan pada pentingnya menciptakan karya sastra yang mengajak pembaca sastra itu (masyarakat) terlibat secara emosional karena bahannya memang diambil dari dunia keseharian mereka. Sementara itu, yang kontra mengkritisi kualitas karya sastra yang lebih mementingkan ”pesan” atau ”berita” lantaran beban kontekstual yang diembannya. Estetika seni sastranya menjadi tereduksi, kata Saut Situmorang mengkritiknya.

Berkaitan dengan sastra serupa itu, lagi-lagi kita dapat bijaksana dalam menyikapi gerakan budaya Sosiawan Leak dan kawan-kawan dalam label  puisi melawan korupsi. Biarkan masyarakat yang menilai. Prof Agus Nuryatin, guru besar ilmu sastra ketika membuka acara bedah buku Puisi Melawan Korupsi di Unnes mengatakan, ”Puisi yang hanya berisi sumpah-serapah justru tidak dapat menyentuh perasaan halus manusia.  Bukankah tujuan seni itu memperhalus budi sekaligus menjadikan kehidupan berjalan di rel terpuji?”

Tampaknya, para penyair yang tergabung dalam gerakan budaya tersebut memang lebih mengedapankan motivasi melawan korupsi ketimbang njelimet memikirkan estetika sastra. Tujuan mereka adalah ikut terlibat memberantas korupsi di negeri ini melalui puisi.

Meskipun untuk itu pun tampaknya mereka juga sadar diri. Heru Mugiarso sendiri pun skeptis: ”Seandainya puisi mampu menolak korupsi…”. Tapi, gumaman itu kembali disimpannya rapi.

Masalahnya, para koruptor itu kelewat bebal untuk di-esemi, sudah kebal ketika disindir. Bahkan, sumpah serapah pun barangkali juga belum cukup, Prof? Mungkin rindu di-dhupak, ditendang!  Ssstt… jangan kumawani! Bagaimana bila koruptornya jenderal? (62).

*Sendang Mulyana, dosen Sastra Indonesia FBS Unnes

Tulisan ini pernah dimuat pada Suara Merdeka 22 September 2013

Sumber artikel http://indonesia.unnes.ac.id/esai/bila-puisi-melawan-korupsi.html

Minggu, 22 September 2013

Puisi "Tarian Pisau"

Sangat membahagiakan hati, ketika anak-anak kecil ini belajar menyuarakan Menolak Korupsi dengan membuat puisi anti korupsi. Menurut kacamata mereka, paling tidak sedari kecil mereka belajar anti korupsi. Kelak nanti?

TARIAN PISAU

sisi yang satu elok tak terperi
di sebaliknya tajam menikam hati

pisauku sekarang bertumbuh taji
beranak mentari
berbuah peri

mari sini nari menari
tajamkan pisau kita
hingga memerah
sewarna darah

ganyang korupsi

Sumber: Facebook PMK (Dyah Kencono Puspito Dewi)

Kamis, 19 September 2013

(Road Show 4) Video Gambar Road Show 4 PMK: Diskusi Buku dan Pagelaran Puisi dan Performance Art Puisi Menolak Korupsi

Roadshow 4 Puisi Menolak Korupsi: Diskusi Buku
Diskusi Buku dengan tema Korupsi di mata Budayawan, Akademisi dan Pemerintahan. Di helat di Palu, tgl 7 September 2013. Dihadiri oleh sastrawan Indonesia, perwakilan dari penyair Puisi Menolak Korupsi. Sebagai narasumber terdiri dari staf BPKP Prov. Sulteng, dibuka oleh wakil Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Prov. Sulteng.


Pagelaran Puisi dan Performance Art Puisi Menolak Korupsi
Pagelaran Puisi dan Performance Art dari kegiatan Roadshow Puisi Menolak Korupsi di Palu-Sulawesi Tengah, diisi oleh pembacaan puisi dari kawan-kawan penyair Indonesia, kolaborasi bersama penyair Palu dan performa teatrikal dan puisi dari kawan-kawan seniman sanggar teater di Palu. Penyair Indonesia yang ikut meramaikan pagelaran puisi ini adalah Acep Zamzam Noor dari Tasikmalaya-Jawa Barat; Sosiawan Leak dari Solo-Jawa Tengah; Wage Tegoeh Wijono dari Purwokerto-Jawa Tengah dan Arsyad Indradi dari Banjarbaru-Kalimantan Selatan.

Makasih mbak Hilda Rumambi atas videonya.

Rabu, 18 September 2013

(Road Show 4) Wawancara di Radio FM Nebula Palu

Wawancara di radio FM Nebula Palu, serangkaian acara road show PMK IV di Palu, 7 September 2013 ( Arsyad Indradi, Acep Zamzam Noor, Wage Tegoeh Wijono, Hilda Rumambi)

Sumber Facebook PMK (Abah Arsyad Indradi)